DESIRE

DESIRE
Bab 91



Siang itu, Mona dan Gerald pergi ke sebuah restoran dengan konsep out door, di mana tersedia meja dengan payung besar di atasnya, untuk menaungi tamu yang berada di bawahnya.


Siang itu cukup terik, sehingga semua meja mengembangkan payung-payungnya, begitu pun tempat duduk Mona dan Gerald.


Makanan sudah dipesan, dan seperti biasa, daging panggang selalu menjadi pilihan Mona di mana pun dia berada. Namun kali ini, dia lebih memilih orange juice ketimbang wine sebagai minuman pelengkapnya.


Mereka pun makan siang dengan santai sambil berbincang-bincang ringan. Terlihat bahwa Gerald sangat senang bisa berdua dengan Mona saat itu. Pria bermarga Holes tersebut selalu melempar senyum yang menawan kepada Mona.


Namun, si ratu es justru kebalikannya. Dia kembali menunjukkan sifat dinginnya, yang tak mau terpengaruh dengan segala pesona lelaki.


Hidangan penutup pun datang. Mona memilih es kacang merah sebagai dessert di siang hari yang cukup panas ini.


"Oh iya, Gerry. Aku dengar kau sedang mempertimbangkan kerja sama dengan PS group? Bukankah itu proyek potensial untuk mu? Kau sendiri yang pernah bilang jika kau sengaja ikut sayembara itu," ucap Mona yang memulai tujuan awalnya mengajak pria tersebut makan bersama.


Gerald yang tengah meminum capuccino panasnya pun hampir tersedak akibat pertanyaan Mona. Dia kini tau maksud wanita di depannya yang dengan sengaja mengajaknya makan siang berdua.


Dia pun kemudian meletakkan cangkirnya kembali di atas meja. Pria itu memandang tajam ke arah Mona sambil sedikit memicingkan kedua bola matanya.


"Apa kau diminta Tuan Peterson untuk membujukku?" tanya Gerald.


"Tidak. Dia bahkan tak tau kalau kita bertemu saat ini. Aku hanya ingin tau alasanmu saja," jawab Mona sambil kembali menyuapi mulutnya dengan sesendok es kacang merah.


Gerald meraih sebelah tangan Mona, dan menggenggamnya erat.


"Aku menyukaimu, Mona. Tidak bisakah aku memiliki kesempatan untuk itu?" tanya Gerald.


Mona meletakkan sendoknya, dan membalas menggenggam tangan pria di hadapannya itu.


"Gerry. Sejak dulu, hatiku sudah menjadi miliknya. Dan kau tau, sekarang bahkan aku sudah sepenuhnya milik pria itu. Aku tak mungkin menerimamu hanya karena masalah kalian yang kekanakan ini," ucap Mona sambil mengusap lembut punggung tangan Gerald.


"Tapi, kita bisa mencobanya, Mona. Aku yakin, aku lebih baik dari dia. Aku selalu melihat jika dia sering bersikap kasar padamu, dan aku sangat tidak suka akan hal itu," ucap Gerald mencoba membujuk si wanita es.


"Dia tidak kasar, Gerry. Akulah yang sering memprovokasinya. Dan lagi, aku sekarang sedang hamil anaknya," ungkap Mona yang membuat Gerald membulatkan kedua matanya seketika.


Pria itu menarik tangannya dari genggaman tangan Mona sambil tertawa kecut. Dia menggelengkan kepalanya seakan tak mempercayai perkataan Mona tadi.


"Tidak… tidak… aku tak percaya ucapanmu, Mona. Bisa saja itu hanya alasanmu untuk menolak ku. Iyakan?" terka Gerald.


Mona mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia mengeluarkan lembar terakhir hasil visumnya, lengkap dengan foto USG yang menunjukkan adanya janin di dalam perut si ratu es.


"Kau bisa lihat ini," Mona meletakkan lembaran itu di hadapan Gerald.


Pria itu pun menghentikan tawanya, dan meraih kertas yang disodorkan oleh Mona. Ia membaca dengan seksama setiap tulisan yang ada di atas kertas, hingga dia mengernyitkan kedua alisnya saat menangkap inti dari setiap tulisan itu.


"Mona, ini… ini serius?" tanya Gerald yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Apa… apa dia sudah tau?" tanya Gerald sambil meletakkan kertas itu kembali di atas meja.


Mona menggeleng pelan, "Belum. Aku berencana memberitahunya setelah kau memulai proyek pembangunan gedung di Paris."


Gerald tak percaya jika ada seorang wanita yang sesantai itu menanggapi kehamilannya, bahkan ini sebuah kehamilan di luar nikah.


Dia pun kembali meraih tangan Mona.


"Mona. Ikutlah denganku. Kita bisa membesarkan anak ini bersama. Aku bisa menyayanginya seperti anakku sendiri. Kau tidak usah beritahukan hal ini pada pria itu. Biar aku saja yang menjaga dan merawat kalian, hem," bujuk Gerald.


Mona tersenyum mendengar semua ucapan dari pria bermarga Holes itu.


"Yah… kau mungkin bisa. Tapi aku tak bisa yakin akan hal itu, Gerry. Kau tau, aku dulu punya seorang ayah tiri, dan dia sama sekali tak pernah mau peduli padaku. Aku pun sudah berjanji pada anak ini, jika memang pria itu tak mau menerimanya, cukup aku yang akan merawatnya. Jadi, maafkan aku."


"Bukankah dari awal, kita memang lebih cocok sebagai teman, bukan pasangan. Aku mohon padamu, bantu aku agar anak ini bisa mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Dia sudah janji akan menikahiku, saat rencana bisnisnya mulai berjalan di benua Eropa sana. Apa kau tidak mau membantu keponakanmu ini, hem?" bujuk Mona.


Gerald sungguh tak percaya jika dia harus mundur sebelum bisa maju.


"Ini namanya kalah sebelum berperang, Mona" Gerald mengusap kasar wajahnya hingga rambut depannya terlihat berantakan.


"Ini bukan perang, Gerald. Dari awal, kau memang sudah tak punya kesempatan. Kita hanya bisa berteman. Atau mungkin, kau bahkan tak mau lagi berteman denganku setelah ini?" ucap Mona dengan wajah yang ia buat sememelas mungkin.


Rayuan maut Mona sungguh tak bisa dihindari oleh pria manapun, begitu juga dengan Gerald. Meski hatinya terasa sakit dan bahkan hancur karena ditolak oleh Mona, akan tetapi dia tak bisa menolak permintaan wanita es itu.


"Mona, aku sangat senang bisa berada di sampingmu, meski hanya sebatas teman. Ya, walaupun akan terasa sedikit berbeda setelah kau mengetahui perasaanku. Tapi, untuk permintaanmu atas pria itu, aku masih harus mempertimbangkannya lagi. Tak apa bukan?" ujar Gerald.


Mona tersenyum, dan meraih kembali tangan Gerald yang sudah berada di atas meja.


"Aku akan menunggu kabar baik dari mu, Uncle Gerry." Mona mengubah panggilannya kepada Gerald, dan secara resmi menjadikannya sebagai pagar pembatas untuk pria itu, agar tidak lagi menaruh hati padanya.


Gerald hanya mampu tersenyum getir, menahan rasa sakit dan kecewa di dalam hatinya. Namun, rasa cintanya kepada Mona membuatnya tak mampu untuk meluapkan semua hal itu di hadapan si ratu es.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih