DESIRE

DESIRE
Bab- 4



"Saya tidak mau" tolak Kaivan


Jesika mengerutkan keningnya dan menatap Ayah mertuanya, lalu kembali menatap Kaivan


"Kenapa?" tanya Jesika lembut


Kaivan menghela nafas kesal "Saya tidak butuh orang tua"


"Baiklah jika itu maumu, tapi kamu mau kan tinggal disini bersama kami semua?" tawar Jesika


"Saya akan tinggal disini jika teman teman saya juga ikut" ucap Kaivan datar entah kenapa ia merasa tidak nyaman berada di antara orang orang itu


Jesika tersenyum lalu mengelus kepala Kaivan "Tentu, kita akan menjemput teman teman kamu"


Javier melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum tipis menatap Marcel yang menatapnya datar.


............


Kaivan tiba di taman pukul delapan malam, ia mencari cari keberadaan Rajen dan Shanum yang ternyata sudah tidak ada di taman, Kaivan panik ia berjalan di setiap sisi taman mencari kedua sahabat nya.


"Rajen! Shanum! Kalian dimana?" teriak Kaivan


Marcel berdiri di samping mobil memperhatikan Kaivan "Cari kedua teman Kaivan" titahnya pada anak buahnya


Sementara itu Shanum yang sudah sadar dari pingsannya kini tengah di suapi oleh dokter cantik yang menolongnya


"Nah makan yang banyak ya sayang, tubuh kamu sangat lemah" ucap Intan sambil menyuapkan nasi ke mulut Shanum hingga habis tak tersisa


"Terima kasih tante" ucap Shanum


"Sama sama sayang" Intan meletakkan piring kosong di atas meja lalu memberikan Shanum air minum, setelah selesai dokter cantik itu kemudian membaringkan tubuh Shanum secara perlahan


Intan begitu tulus merawat Shanum meskipun ia belum mengetahui identitas gadis kecil itu, sementara sejak tadi Rajen memperhatikan semua perlakuan Intan kepada Shanum


"Kamu tidur dulu ya, setelah sehat tante akan membawa mu keluar dari rumah sakit" ucap Intan mengelus kepala Shanum


Intan mendekati Rajen yang duduk menunggu nya selesai merawat Shanum, ia mengambil dua kotak makanan lalu memberikan satu untuk Rajen.


"Makanlah kamu juga pasti lapar kan?"


Rajen mulai membuka kotak makan itu dan mulai memakannya. Intan tersenyum sesaat dan juga mulai makan


"Tante boleh tau nama kamu?" tanya Intan


Rajen menoleh dengan mulut penuh, ia pun mengangguk "Nama aku Rajen, Rajen Tanaka"


"Kalau adik kamu?"


"Shanum Diya Syakira, dia bukan adik aku"


Intan mengerutkan keningnya lalu menatap Shanum yang sudah tertidur "Jadi, Kalian bukan saudara?"


"Iya"


"Tante kira kalian kakak beradik, lalu dimana orang tua kalian?"


Rajen berhenti mengunyah lalu meminum air putih di dalam gelas " Kami kabur dari rumah penampungan anak anak jalanan yang berkedok panti asuhan tante"


Intan terkejut mendengar ucapan Rajen "Apa? Maksudnya kalian..."


"Di sana kami di suruh bekerja, ada yang memulung, mengemis, bahkan mencuri, jika tidak kami akan dipukuli atau organ tubuh kami akan di jual oleh mereka" jelas Rajen menunduk


Intan benar benar merasa syok mendengar ucapan Rajen, ia merasa sesak membayangkan nasib anak anak yang ada di rumah itu.


"Tapi kalian memang sejak kecil ada di sana atau di culik?" tanya Intan


"Kedua orang tua ku meninggal dalam kecelakaan, dan paman bibiku tidak mau merawat ku, makanya aku pergi dari rumah, di jalan aku bertemu dengan Kaivan, temanku" Rajen menatap Intan sekilas lalu kembali bercerita


"Saat itu aku sedang di palak oleh anak jalanan lain, lalu Kaivan datang menolongku, wajahnya saat itu babak belur entah karena siapa, dan setelah menolongku kami pun sepakat untuk pergi bersama, saat itulah kami bertemu dengan om Beni, bos pemilik rumah penampungan anak anak jalanan, kalau Shanum, dia di culik oleh om Beni" ucap Rajen


Intan tidak mampu berkata kata lagi, ia tidak bisa membayangkan kehidupan Rajen dan Shanum selama ini, Intan menarik Rajen kedalam pelukannya


"Kamu sudah benar dengan kabur dari rumah itu Rajen, tapi teman kamu yang bernama Kaivan masih di sana?


"Kamu tenang saja, kita cari Kaivan bersama sama nanti"


........


Kaivan menunduk sambil meremas kedua tangannya air matanya jatuh membayangkan keadaan Rajen dan Shanum


"Kalian kemana?" lirih Kaivan


Marcel duduk di samping Kaivan dan mengelus kepala Kaivan yang menunduk "kita ke rumah panti yang kamu bilang, mungkin saja kedua temanmu kembali di tangkap orang orang di sana"


Marcel sudah mengetahui semuanya, Kaivan menceritakan padanya tentang kehidupannya selama ini sebelum kabur.


Kaivan menatapnya, apa iya Rajen dan Shanum kembali tertangkap? Namun tak ayal Kaivan mengangguk membuat Marcel tersenyum miring, malam ini dia akan melakukan pembantaian lagi.


............


Kaivan berdiri di depan tubuh Beni yang sudah bersimbah darah, bahkan wajah Beni sudah tidak terbentuk lagi, Marcel menginjak dada Beni yang terlentang di hadapan Kaivan. Ya saat ini rumah penampungan Beni sudah kosong, anak anak jalanan sudah di amankan oleh anak buah Marcel, sementara anak buah Beni sudah mati tak tersisa hanya tertinggal Beni yang hampir merenggang nyawa karena di hajar habis habisan oleh Marcel.


Marcel menginjak dada Beni membuat laki laki itu mengeluarkan darah dari mulutnya


"Dimana Rajen dan Shanum?" tanya Kaivan datar menatap benci Beni yang sudah tidak berdaya di bawah kaki Marcel


"Uhuk uhuk, sa- saya tidak tau" jawab Beni


Kaivan mendengus kesal ia kemudian berbalik, akan tetapi Marcel menghentikan langkahnya


"Tunggu" Panggil Marcel membuat Kaivan menoleh ke arahnya


Marcel memberikan pistol revolver miliknya kepada Kaivan


"Tembak dia" titah Marcel


Awalnya Kaivan ragu namun ia mengambil pistol di tangan Marcel dan mengarahkannya kepada Beni yang sudah tidak berdaya dan...


Dor!


Kepala Beni hancur berkeping karena tembakan Kaivan. Dan setelah menembak kepala Beni, Kaivan melempar pistol itu kembali kepada Marcel lalu meninggalkan mayat Beni...


Keesokan harinya, Intan membawa Rajen dan Shanum ke rumah miliknya, ia sudah bertekad untuk mengadopsi Rajen dan Shanum, termasuk teman mereka yang bernama Kaivan, karena sedari kemarin Shanum tak henti henti menanyakan keberadaan Kaivan. Meskipun saat ini Intan belum menemukan keberadaan Kaivan.


"Nah selamat datang di rumah Tante, Tante harap kalian betah tinggal di sini" ucap Intan setelah memasuki rumahnya


Rajen dan Shanum menatap kagum rumah besar di depannya...


"Ini beneran rumah tante?" tanya Shanum polos


Intan tersenyum dan berjongkok di hadapan Shanum "Iya sayang, ini rumah tante, Shanum suka?"


Shanum mengangguk senang sambil tersenyum "Boleh Shanum tinggal di sini?"


"Tentu saja" jawab Intan


"Kak Rajen sama kak Kai juga boleh?" tanya Shanum lagi membuat Intan gemas dengannya


Intan mencubit pelan pipi Shanum "Tentu sayang, kamu, Rajen dan Kai, boleh tinggal di sini, asal dengan satu syarat"


Rajen yang sedari tadi hanya berdiri menatap Intan dan Shanum bersuara mendengar ucapan Intan "Syarat?"


"Iya, kalian harus panggil tante. Ibu, gimana?"


Shanum dan Rajen saling menatap, kemudian Shanum kembali menatap Intan yang masih berjongkok di depannya


"Tapi Shanum masih punya Mama dan Papa, hanya saja Shanum tidak tau caranya pulang ke rumah" ujar Shanum lirih


Intan terdiam sejenak ia tau jika Shanum masih memiliki kedua orang tua yang lengkap, tapi niat untuk mengangkat Rajen dan Shanum sebagai anak angkatnya adalah hal yang paling dia inginkan.


"Baiklah kita cari orang tua mu, tapi jika kita tidak menemukan mereka, Shanum mau kan jadi anaknya Tante?" tawar Intan


Shanum masih terdiam hingga tangan kecilnya yang di genggam oleh Rajen membuatnya menoleh, ia melihat Rajen mengangguk membuat Shanum ikut menganggukkan kepalanya.


Intan memeluk Rajen dan Shanum air matanya jatuh karena bahagia ia sudah sangat kesepian selama lima tahun belakangan. Semenjak sang suami menceraikan dirinya karena di vonis mandul. Mereka menikah selama 10 tahun, namun harus kandas karena suami Intan menikahi wanita lain yang bisa memberikannya keturunan, Intan yang tidak terima hal itu meminta cerai dan di kabulkan oleh sang suami.