
15 Tahun kemudian...
Di sebuah studio foto seorang laki laki tampan sedang memperagakan berbagai gerakan untuk menampilkan hasil gambar yang luar biasa, dengan postur tubuh yang sangat kekar dan juga tinggi badan 185 cm. Dan jangan lupa dengan wajah yang sangat tampan membuatnya menjadi model terkenal.
"Ok selesai" ucap sang fotografer
Laki laki itu melepas jas yang membalut tubuhnya dan memberikannya pada asisten pribadi yang selalu berada di sampingnya
"Habis ini gue ada jadwal apa lagi?"
Asisten pribadi yang bernama Julia itu memeriksa Ipad yang selalu ia bawa kemana mana untuk mencatat semua jadwal atasannya
"Tidak ada Jen, setelah ini kamu hanya harus pulang dan istirahat" ucap Julia sambil tersenyum manis, wajahnya yang di tutupi kacamata tidak menghilangkan cantiknya
Laki laki itu mengangguk lalu mengambil air minum yang di berikan Julia, namun sebelum meminumnya seseorang telah menelfon di hp nya. Ia tersenyum melihat siapa yang menelfon nya, senyum yang membuat wanita di depannya terkadang lupa bagaimana cara untuk bernafas
"Halo"
"Kakak! Aku udah di rumah, kakak kapan pulang?"
"Aku pulang sekarang, tunggu aku" jawabnya sambil membayangkan wajah cantik yang sudah menunggunya di rumah
"Iya jangan lama lama"
"Ok"
Julia memutar matanya ia terkadang tidak suka melihat atasannya begitu memanjakan gadis yang bukan siapa siapa nya.
"Shanum?" tanya Julia
Laki laki yang masih menatap hp nya itu mengalihkan pandangannya kepada Julia "Iya dia datang ke rumah, sekarang kamu boleh pulang, aku mau langsung ke rumah"
Setelah mengatakan itu ia kemudian meninggalkan Julia yang masih berdiri menatap kepergian nya.
"Brengsek, selalu saja Shanum, jika bukan Shanum dia pasti udah anterin aku pulang"Kesal Julia menghentakkan kakinya.
Rajen mengendarai mobil sport nya dengan semangat ia sudah tidak sabar sampai ke rumah nya untuk bertemu Shanum. Wajah tampan nya tidak berhenti tersenyum setelah beberapa bulan ia kembali bertemu Shanum, jarak dan pekerjaan membuatnya tidak bisa selalu bertemu dengan gadis kesayangannya itu.
Ya Rajen menjadi model di usianya yang ke 27 tahun, ia di asuh oleh Intan sang Dokter cantik yang telah menolongnya bersama Shanum. Rajen di adopsi sementara Shanum kembali bertemu kedua orang tuanya.
Namun karena tempat tinggal Shanum berbeda kota dengannya membuatnya jarang bertemu bahkan berbulan bulan, tapi hari ini gadis cantik yang sudah menjadi kesayangan nya sejak kecil itu datang ke rumah nya.
Rajen memarkirkan mobilnya dan memasuki rumah besar yang sudah ia beli dari hasil kerja kerasnya selama lima tahun
"Shanum! Kamu dimana?" teriak Rajen mencari Shanum
"Ya ampun Rajen, bukannya beri salam saat masuk malah teriak" gerutu Intan yang sedari tadi duduk sambil menikmati teh buatan seseorang
Rajen menggaruk kepalanya merasa tidak enak. Ia kemudian berjalan ke arah wanita yang telah merawatnya lalu mencium punggung tangan sang ibu.
"Assalamualaikum bu"
"Waalaikumsalam"
"Shanum mana bu?" tanya Rajen yang sudah duduk di samping Intan
"Shanum di dapur, katanya mau masakin makan malam buat ibu"
Rajen menoleh ke arah dapur yang tidak dapat ia lihat karena terhalang dinding, Rajen ingin berdiri tapi tangannya di pegang sang ibu.
"Mau kemana?"
"Mau ketemu Shanum bu"
"Mandi dulu, habis itu baru ketemu sama Shanum, kamu nggak ilfil ketemu sama Shanum dengan bau badan hm?" tanya Intan lembut
Rajen tertawa pelan ia kemudian mengangguk dan menoleh sekali lagi ke arah dapur "Kalau gitu aku mandi lu ya bu"
Intan mengangguk lalu membiarkan Rajen berjalan menaiki anak tangga satu persatu, Intan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat Rajen yang terlihat penasaran dengan seseorang yang sedang berada di dapur
Rajen menuruni tangga setelah selesai membersihkan badannya ia melihat sang ibu sudah duduk manis di meja makan sementara gadis kesayangan nya sedang menata makanan di atas meja.
Shanum terlihat sangat cantik dengan pakaian daster rumahan yang telah Intan pinjamkan padanya, gadis itu terlihat seperti ibu ibu muda yang sedang melayani sang mertua, rambutnya yang di cepol memperlihatkan leher jenjangnya membuat Rajen tanpa sadar memperhatikan leher putih itu tanpa berkedip.
Rajen yang sedari tadi berdiri di ujung tangga sambil menatap Shanum tersenyum malu ia berjalan perlahan menuju meja makan. Rajen berdehem lalu duduk di kursi
"wah malam ini sepertinya kita makan enak " ucap Rajen kagum menatap makanan di atas meja
"Iya dong, siapa dulu yang masak" Intan tersenyum ke arah Shanum yang menunduk malu "Ayo Sha, kamu duduk lalu kita makan bersama"
"Iya bu" Shanum duduk di kursi yang berhadapan dengan Rajen, meskipun mereka sering bercanda saat berbicara lewat sambungan telefon, akan tetapi ketika bertemu keduanya akan merasa canggung entah karena apa.
"Hm masakan kamu makin hari makin enak Sha, ibu sedikit iri sama kamu" ucap Intan sambil menyuapkan makanan ke mulutnya
"Ibu bisa aja, ini semua juga berkat bantuan mama yang selalu ngajarin aku masak"
"Nanti saat kamu udah punya suami, dia pasti bangga punya istri yang jago masak dan juga cantik kayak kamu" puji Intan membuat Rajen tersedak
"Kak Rajen minum dulu" dengan cepat Shanum memberikan segelas air putih buat Rajen
"Makasih Sha"
"Makanya kalau makan itu pelan pelan, ibu nggak bakalan habisin kok" ucap Intan bercanda
Sekali lagi Rajen hanya mampu terdiam mendengar candaan sang ibu, entah kenapa mendengar ibu membicarakan tentang suami membuat perasaan Rajen tiba tiba tidak enak.
Setelah selesai makan kini Rajen dan Shanum duduk di kursi taman kecil yang berada di samping rumah, keduanya menikmati teh hangat buatan Shanum
"Dari dulu teh kamu selalu enak Sha" puji Rajen
"Bagi aku semua teh rasanya sama aja kak"
Rajen mengangguk mengiyakan ia tau jika Shanum tidak ingin membanggakan dirinya.
"Bagaimana kabar kedua orang tuamu?"
"Mereka baik baik saja, Papa sibuk dengan bengkel yang dia kelola sementara mama sibuk ngurusin pekerjaan rumah" ujar Shanum sambil meniup asap di gelasnya
"Tidak terasa sudah lima belas tahun ya Sha" Rajen menatap Shanum "Kamu masih merindukan dia?" tanya Rajen dengan perasaan campur aduk
Shanum membalas tatapan Rajen ia tersenyum masam jika Rajen menanyakan tentang dia lagi, tidak tau kenapa ada perasaan di dalam hatinya yang entah apa namanya.
"Selalu"
Jawaban singkat Shanum membuat Rajen tanpa sadar meremas gelas di tangannya, meskipun ia juga merindukan dia, tapi ada perasaan yang sering mengganggunya.
...............
Di Negara xxxx
Suara jeritan seseorang terdengar menyedihkan di telinga orang orang yang berdiri menatap tubuh laki laki yang sedang terikat terbalik dengan kepala di bagian bawah.
Wajahnya sudah hancur sementara tubuhnya sudah mati rasa ia benar benar berharap kematian secepatnya datang agar rasa sakit yang ia derita tidak lagi di rasakan nya, jeritannya bagaikan nyanyian merdu bagi laki laki yang sedang menyiksa nya saat ini.
Seorang laki laki berwajah tampan bak dewa yunani, akan tetapi perlakuannya saat ini membuatnya seperti iblis pencabut nyawa. Ia tanpa perasaan mengobrak abrik tubuh laki laki yang sudah tidak berdaya di depannya
"A- ampun a- aku sudah tidak kuat lagi" mohon lelaki itu wajahnya yang tampan sudah tidak terbentuk lagi
Laki laki yang menyiksanya tersenyum miring tatapan tajam nya menatap remeh tawanannya
"Huh, kau payah padahal aku baru saja bersenang senang dengan mu" ucapnya sambil mendesah Kecewa namun itu hanya sesaat, laki laki itu kemudian mengambil pistol yang selalu ia bawa kemana mana
Wesson 500 magnum adalah pistol paling mematikan di dunia. Pistol ini berjenis revolver yang punya daya hancur hampir sama seperti desert eagle.
Dor!
Kepala laki laki malang itu hancur berkeping, membuat sang penembak merasakan kepuasaan tersendiri setelah menghancurkan kepala seseorang. Sejak kecil ia sudah di latih menjadi penembak jitu dengan sang kakek, sementara ia di latih menjadi mafia kejam pembunuh berdarah dingin oleh seseorang yang ia panggil dengan sebutan Daddy selama lima belas tahun hingga saat ini.
Semua orang memanggilnya Kaivan Danendra Prayoga. Mafia kejam yang terkenal di negara xxxx.. Ia memiliki beberapa bisnis di dunia gelap seperti perdagangan senjata api ilegal dan obat obatan terlarang, Kaivan juga menjadi bos besar bisnis prostitusi di beberapa negara.
Ia di asuh oleh keluarga Javier dan menjadi seorang pewaris di keluarga besar Prayoga.
....Hay guys udah dewasa aja nih ketiga bocah kesayangan Author, mohon maaf ya jika ada tulisan typo atau yang tidak sesuai keinginan kalian, Author masih pemula jadi mohon bimbingan dan dukungannya😁🙏🏻🙏🏻