
Setiap sepulang sekolah, Lisa seperti biasa menunggu perintah dari ibunya untuk mengantar pakaian bersih ke hunian disebelah tempat tinggalnya.
Setelahnya, dia akan kembali ke rumah, dan menyerahkan pakaian kotor kepada sang ibu. Lalu, Lisa kemudian pamit untuk pergi ke rumah Jessy.
Hampir setiap hari dia pergi ke sana. Sekalipun temannya tengah tak berada di tempat, akan tetapi dia tetap menghabiskan waktunya seharian di rumah dengan taman bunga yang luas itu.
Penjaga keamanan di sana sering berlaku acuh dan cenderung galak pada Lisa, dan melarangnya untuk masuk ketika tak ada Jessy di rumah tersebut.
Namun Tuan Ming dan Istrinya, sepasang suami istri yang merupakan tukang kebun yang mengurus taman bunga di rumah itu, selalu membantu Lisa untuk bisa masuk ke dalam.
Selain bermain bersama Jessy, Lisa sebenarnya lebih senang jika ia menghabiskan waktu di taman, sambil memperhatikan suami istri itu menanam, memugar, membibit dan merapikan tanaman.
Lisa pun sering membantu menyiram tanaman-tanaman itu dengan senang hati. Senyumnya terus mengembang dan matanya berbinar kala ia berada di tengah hamparan bunga warna warni yang memenuhi tempat tersebut.
Di dekat taman, tepatnya di sisi sebelah kiri rumah, ada sebuah gazebo yang terbuat dari bambu dan beratapkan jerami, yang biasa di gunakan Tuan Ming dan istrinya untuk beristirahat.
Di sekitar gazebo tersebut pun, terdapat banyak bibit-bibit tanaman yang telah diletakkan di dalam poly bag hitam, dan berjejer rapi di sekitar tempat istirahat itu.
Lisa sering melihat kakak Jessy, Arthur, berada di tempat itu selama berjam-jam, sambil menyibukkan dirinya dengan berbagai macam buku yang terlihat berserakan di lantai gazebo.
Lisa sering mencuri pandang ke arah anak laki-laki, yang selalu saja diam itu. Arthur terlihat sangat menyayangi adiknya, meski tidak menunjukannya dengan kata-kata, namun itu terlihat jelas dari tindakan yang ia lakukan.
Arthur muda memang cenderung pendiam. Dia lebih suka bertindak ketimbang berkata-kata.
Suatu hari, orang tua Jessy mengadakan pesta ulang tahun meriah untuk sang putri. Lisa pun turut diundang datang ke acara tersebut.
Namun, Ibu Lisa melarangnya ikut dengan alasan acaranya berlangsung pada malam hari.
"Bahaya, Nak. Ibu tidak akan mengijinkan kau pulang malam," seru sang ibu.
Lisa kecil pun tertunduk lesu. Ia terus memandangi undangan pesta yang diberikan Jessy padanya siang tadi.
Hari itu pun tiba, dan Lisa menuruti kata-kata sang ibu. Sedari siang, yang biasanya dia pergi ke rumah besar keluarga Jessy, hari itu dia memilih untuk berdiam diri di rumah, selepas mengantarkan pakaian bersih kepada pelanggan
Malam harinya, Lisa duduk di ruang depan. Ruangan yang biasanya disebut ruang tamu, namun tak memiliki sofa empuk. Hanya ada tikar lapuk yang terbentang di salah satu sisinya. Di situ lah Lisa biasa duduk termenung.
Tiba-tiba, tepat pukul sembilan malam, pintu depan di ketuk oleh seseorang.
Lisa kecil pun menoleh dan menatap takut, kalau-kalau yang datang adalah sang ayah, dan akan kembali melukai ibunya.
"Lisa... Lisa...,"
Terdengar sebuah suara kecil yang memanggil namanya dari arah luar.
Lisa sangat hapal dengan suara itu. Senyumnya melebar, dan ia pun segera bangkit dari duduknya lalu kemudian berjalan mendekati pintu.
Ketika pintu itu dibuka, Ia melihat temannya dan sang kakak telah berdiri di depan rumahnya.
"Jessy," panggil Lisa lirih.
Dia masih tak percaya, jika temanya itu mendatangi rumah jeleknya malam-malam begini.
"Kenapa tadi kau tidak datang? Aku begitu lama menunggumu," gerutu Jessy kecil.
"Maafkan aku. Ibuku tidak mengijinkan ku kalau harus pulang malam," sahut Lisa tertunduk.
Ia merasa tidak enak dengan temannya, yang sudah dengan sangat baik mengundang dirinya ke pesta itu.
"Ayo, Jessy. Kita tidak bisa berlama-lama di sini," seru Arthur memberi peringatan kepada sang adik.
"Ini aku bawakan kue ulang tahun dan bingkisannya untukmu. Ambillah," ucap Jessy menyodorkan sepotong kue yang sudah di bungkus, dan sebuah bingkisan kecil kepada temannya.
Lisa seketika mengangkat wajahnya dan menatap haru benda-benda yang diulurkan oleh tanga Jessy kecil kepadanya.
"I… ini untukku?" tanyanya.
"Ehm…," angguk Jessy.
Lisa pun menerimanya dengan senang hati.
"Sudah bukan? Ayo kita pulang," ajak Arthur lagi.
"Lisa, aku pulang dulu. Salam untuk ibumu dari Mommy," ucap Lisa kecil.
"Terimakasih, Jessy" sahut Lisa.
Jessy hanya tersenyum. Ia lalu pergi dari tempat kumuh itu bersama kakaknya, kembali ke istana besar nan megah di hunian elit sebelah.
Ibu Lisa yang sedari tadi melihat dari dalam rumah, merasa terharu menyaksikan betapa sang anak begitu bahagia mendapatkan teman untuk pertama kalinya.
Namun, terbersit sebuah kekhawatiran di benaknya.
Kenapa harus orang yang berpunya, Nak? Kenapa tidak yang seperti kita saja? Ibu takut kamu akan kecewa nantinya, batin sang ibu, yang terus menyaksikan putrinya, begitu senang mendapatkan kue dan juga bingkisan dari temannya.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Tak terasa, tiga tahun sudah berlalu, sejak pertemuan Lisa dan Jessy di kebun bambu kala itu.
Kini, keduanya sudah berusia tiga belas tahun, dan tengah duduk di bangku sekolah menengah tahun pertama. Sementara Arthur, dia sudah berada di sekolah menengah tahun ke dua.
Anak laki-laki itu kini sudah tumbuh menjadi pemuda yang gagah, dan digilai oleh banyak teman perempuannya di sekolah.
Bahkan, tak jarang ada yang dengan tiba-tiba datang ke rumah, hanya untuk sekedar memberikan sesuatu kepadanya. Mereka tak pernah jera, meski Arthur selalu menolak mereka atau pun benda-benda dari mereka.
Sikap Arthur masih sama, dingin. Namun, belakangan, pemuda yang awalnya selalu diam saat bertemu Lisa, tiba-tiba mulai mau mengajaknya bicara.
"Hei, bocah," panggilnya di suatu siang, ketika Lisa sedang berada di gazebo taman, sambil berkutat pada buku gambarnya.
Lisa seketika mendongak, dan melihat pemuda itu yang sudah berdiri di depannya, dengan membawa tas ransel yang selalu ia bawa ketika datang ke gazebo tersebut.
Dia tiba-tiba melepas alas kakinya, dan naik ke atas gazebo, lalu duduk di samping Lisa, yang beringsut ke samping, memberi tempat untuk pemuda itu duduk.
"Gambarmu bagus," ucapnya, sambil melirik sekilas gambar yang tengah dibuat oleh Lisa.
Lisa hanya diam, karena masih terkejut dengan kehadiran Arthur yang tiba-tiba.
Sejak kapan manusia salju bisa bicara? batin Lisa, ketika melihat Arthur yang secara mengejutkan mengajaknya bicara lebih dulu.
Selama tiga tahun berteman dengan Jessy, tak sekali pun Arthur mengajak bicara Lisa secara langsung. Pemuda itu lebih banyak diam, walau matanya selalu memperhatikan setiap gerak gerik gadis tersebut.
"Hei, bocah. Aku bertanya padamu. Kenapa kau malah diam saja," seru Arthur yang merasa pertanyaannya tak kunjung dijawab oleh lawan bicaranya.
"Eh… oh… itu… anu… Ka … Kakak ngomong apa tadi?" tanya Lisa dengan tergagap.
Arthur menghela nafasnya kasar, sambil menurunkan bahunya, lalu menggeleng pelan.
Meski keduanya jauh dari kata akrab, akan tetapi Arthur tak pernah melarang Lisa memanggilnya dengan sebutan kakak, seperti yang dilakukan oleh Jessy.
"Ma… maaf, Kak. Aku tadi sedang tidak fokus," ucapnya lagi, saat pemuda itu kembali mendiamkannya.
"Itu buatanmu?" tanya Arthur, sambil menunjuk gambar di buku Lisa dengan sudut matanya.
"Iya, Kak. Ini tugas sekolah ku. Guru meminta kami menggambar pemandangan, tapi aku tak pernah sekalipun melihat pemandangan di luar sana, jadi yang bisa ku gambar hanya kebun bunga ini saja," jawab Lisa sambil kembali membungkuk dan melanjutkan gambarnya.
Arthur melihat dari ekor matanya, bagaimana jari jemari gadis di sampingnya itu, dengan lincah memainkan pensil yang jauh dari kualitas baik untuk menggambar, namun hasilnya sungguh luar biasa.
Goresan demi goresan yang ia buat, menciptakan sebuah objek yang nampak hidup dan indah. Dia begitu terkesima, hingga tanpa sadar, kini posisinya telah berubah.
Dia duduk menghadap ke arah Lisa, dan melihat secara langsung bagaimana gadis itu mengukir keindahan di depannya, tanpa mencuri pandang seperti sebelumnya.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih