
Wanita itu kemudian menegakkan kembali tubuhnya, dan berjalan memasuki kamar Jessy, dengan kedua tangan yang penuh dengan shopping bag.
Lisa seketika berdiri dan melepaskan boneka, yang sedari tadi ia mainkan bersama teman barunya. Gadis kecil itu menundukkan wajah panik.
Ada rasa takut yang menghampirinya, ketika ibu dari temannya itu berjalan menghampiri dirinya. Penolakan yang sering ia dapatkan, membuatnya selalu waspada dan menyiapkan hatinya untuk menerima semua penghinaan.
Mommy Jessy meletakkan barang bawaannya di lantai, dekat dengan meja belajar sang anak. Dia berjalan kembali mendekati Lisa, dan membungkukkan badannya agar bisa sejajar dengan gadis kecil itu.
"Anak manis, Siapa namamu?" tanya wanita itu dengan nada suara, yang terdengar begitu lembut di telinga Lisa kecil.
Dia pun seketika mengangkat wajahnya, dan menatap dalam ke arah Mommy Jessy.
"Dia Lisa, Mom. Teman baruku," ucap Jessy mewakili Lisa yang masih diam.
"Wah… Jessy pintar, sudah bisa punya teman di sini," ucap Mommy mengacak-acak rambut putri kecilnya, yang sedari tadi mengekor di belakang.
Jessy kecil tersenyum senang mendengar pujian dari sang ibu.
"dimana kalian bertemu?" tanya wanita itu lagi, sambil menatap kedua gadis kecil tersebut secara bergantian.
"Tadi aku tersebut, Mom. Untung saja bertemu dengan Lisa, lalu dia yang sudah membantu ku menemukan kembali rumah ini," sahut Jessy yang kembali menjawab mewakili Lisa, yang masih diam dan memandang wajah Mommy temannya.
"Ehm... begitu rupanya. Kalau begitu, aunty harus mengucapkan terimakasih padamu. Terimakasih ya, Lisa," ucap Mommy Jessy dengan senyum yang begitu lembut dan ramah
Lisa masih diam. Ia bingung dengan perlakuan berbeda, yang justru ia dapatkan di rumah besar itu.
Mommy Jessy kembali menegakkan badannya, dan mengambil dua buah shopping bag. Satu berwarna ungu mengkilap dan satu berwarna putih tulang.
Ia lalu kembali menghampiri kedua gadis kecil itu.
"Aunty ada hadiah untuk anak-anak hebat ini. Satu untuk Jessy... dan satunya untuk Lisa," wanita itu memberikan Jessy tas belanja yang berwarna ungu, sedangkan yang putih tulang ia berikan untuk Lisa.
Jessy sangat antusias menerimanya, dan segera melihat isi di dalam tas belanjaan itu.
"Wah… ada boneka baru!" pekiknya dengan suka cita, karena mendapat mainan yang sebenarnya sudah sangat tidak diperlukan lagi, karena sangking banyaknya.
Lisa masih diam. Dia enggan untuk menerima pemberian itu. Ada rasa takut jika nanti ia akan dimarahi oleh ibunya, karena dikira mencuri milik orang lain.
"Lisa, kenapa kau diam saja? Ayo ambil, Nak," seru Mommy Jessy kembali berbicara kepada Lisa yang terus diam.
"Sa … saya tidak ma … mau," ucap Lisa pada akhirnya dengan suara terbata.
"Kenapa? Apa kau tidak suka hadiahnya? Tapi kau belum melihat isinya bukan? Atau mungkin... kamu takut sama Aunty?" tanya Mommy Jessy.
Lisa menggeleng pelan.
"Bu… bukan. Sa… saya takut I… Ibu saya ma… marah," sahut Lisa.
"Kenapa harus marah? Apa ibumu melarangmu untuk menerima pemberian dari orang asing?" tanya wanita itu mencoba mencari tau.
Lisa menggeleng.
Aneh. Dia pasti orang tidak mampu bukan. Biasanya mereka justru sangat antusias jika diberi sesuatu secara cuma-cuma. Kenapa dia justru takut ibunya marah karena sebuah hadiah? Seperti apa orang tuanya itu? batin Mommy Jessy menerka-nerka.
"Apa ibu kamu galak?" tanya wanita itu lagi.
"Bukan begitu. Ibu orang yang paling baik sedunia," ucap Lisa dengan nada meninggi.
Lisa kecil tak terima jika sang ibu dikaitkan dengan sesuatu yang tidak baik. Tak jarang ia akan menyerang orang, yang berani mengata-ngatai sang ibu di depannya.
"Oh… kalau begitu maaf ya. Aunty sudah membuat kau marah," sahut Mommy Jessy cepat.
Lisa kembali tertunduk mendengar permintaan maaf langsung dari ibu temannya.
"Apa kau tidak mau mencoba melihat dulu isinya? Aunty yakin kamu pasti suka," ucap wanita itu.
Lisa ragu. Namun Mommy Jessy mengambil isi dari shopping bag itu, dan menunjukkannya kepada Lisa.
Sebuah boneka teddy bear berwana coklat susu seukuran tas punggung anak sekolah, dengan pita merah di lehernya dan sebuah simbol hati merah yang dipegang kedua tangannya.
"Bagus bukan," seru Mommy Jessy saat melihat ekspresi gadis kecil itu.
"Ehm.…," Lisa kecil mengangguk dengan mata berbinar melihat benda berbulu lembut nan lucu itu.
"Ambillah. Ini untuk mu," seru Mommy Jessy menyerahkan boneka itu, dan Lisa pun perlahan meraihnya meski ada rasa ragu di sana.
Sejenak kemudian, dia kembali menatap wajah wanita itu dengan ekspresi takut.
"Ibu akan marah nanti. Dia pasti mengira aku sudah mencurinya dari anak lain," ucap Lis kemudian dengan suara lirih, namun masih bisa terdengar jelas oleh ibu temannya.
"Oh… jadi itu masalahnya. Mudah saja. Tunggu sebentar," ucap wanita itu.
Mommy Jessy kemudian berjalan ke arah meja belajar putri kecilnya, dan mengambil secarik kertas lalu kemudian menuliskan sesuatu di sana.
Setelah itu, ia kembali menghampiri Lisa kecil.
"Nanti, kalau kau sudah tiba di rumah, berikan kertas ini pada ibumu. Dia pasti tidak akan memarahi mu, nanti" ucapnya sambil memasukkan kertas berisi tulisan tadi ke dalam shopping bag yang telah kosong.
"Ehm…," Lisa mengangguk dengan antusias.
"Baiklah, masalahnya sudah beres. Sebentar lagi waktunya makan siang. Kalian bereskan dulu mainannya, lalu turun ke bawah. Kita akan makan bersama, oke?" perintah sang Mommy.
"Oke, Mom," sahut Jessy.
Lisa hanya tersenyum ke arah ibu teman barunya itu, dengan perasaan senang.
"Oh iya, di mana kakakmu si Arthur itu, Sayang? Apa dia sudah pulang sekolah?" tanya Mommy Jessy sambil memunguti semua tas belanjaannya, yang ia letakkan di atas lantai begitu saja.
"Sudah, Mom. Kakak sedang berada di kamarnya," ucap Jessy.
"Hah... anak dingin itu. Baiklah, cepat bereskan lalu turun, mengerti," perintah sang Mommy kepada putri kecil dan juga temannya.
Saat makan siang, Lisa turut makan dengan Jessy, kakak dan juga ibunya. Rasa canggung sudah pasti dirasakan oleh gadis kecil itu.
Di rumahnya, tak ada yang namanya makan bersama dengan hidangan semewah ini. Olahan ayam, bahkan tidak hanya satu di sajikan di atas meja makan yang besar itu.
Ada ayam goreng Krispy, semur ayam, bahkan udang saus asam manis pun ada, lengkap dengan segala garnis yang sebenarnya lebih sering dibuang.
Menjelang sore, Lisa kecil pamit pulang. Dia membawa sebuah tas belanja di tangannya, dan berjalan dengan riang gembira.
Setibanya di rumah, sang ibu memperhatikan barang yang tengah di bawa oleh sang putri kecil.
"Apa ini, Nak? Kenapa kau bisa mendapatkan benda seperti ini? Dari mana kamu mendapatkannya?" cecar sang ibu kepada Lisa.
Sesuai arahan dari Mommy Jessy, Lisa kecil pun memberikan secarik kertas, dengan sebuah tulisan di atasnya.
Perkenalkan, saya adalah seorang ibu yang hampir kehilangan anak gadisnya, jika saja putri kecilmu tidak membatunya untuk menemukan jalan pulang.
Ini hanya sebuah tanda terimakasih kecil dari ku, untuk putrimu yang baik hati itu. Tolong jangan memarahinya hanya karena dia pulang membawa benda berbulu itu.
Setelah membaca pesan dari Mommy Jessy, Lisa pun diperbolehkan untuk menyimpan boneka itu oleh ibunya.
Semenjak saat itu, Lisa yang memang tidak memiliki teman di lingkungan tempat tinggalnya pun, memilih untuk datang ke rumah besar itu hampir setiap hari.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih