DESIRE

DESIRE
Bab 56



Sebuah tangan menepuk bahu Mona, saat perempuan itu tengah gundah.


"Mona," panggil orang itu yang sontak membuat Mona menoleh.


Mona pun terkejut dengan kehadiran orang itu. Namun belum juga keterkejutannya menghilang, perhatian mereka teralih kala dokter berjalan keluar menuju ke arah orang-orang yang menunggu di depan ruang operasi.


Nampak wanita anggun itu bertanya kepada sang dokter. Namun, dokter tak menjawab, dan hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil tertunduk.


Wanita itu seketika histeris, dan mendadak pingsan.


Seperti mendapat firasat, Mona seolah tahu apa yang terjadi, dan kakinya seketika melemas.


"Josh," gumamnya lirih dengan tatapan nanar melihat ke arah ruang operasi


Tak lama kemudian, brangkar pasien keluar dengan seseorang yang berada di atasnya, telah tertutup sepenuhnya oleh kain putih.


Ranjang itu didorong ke arah Mona yang tengah bersembunyi di balik dinding. Semua orang pun turut mengikuti hingga menghilang di persimpangan lorong rumah sakit.


Air mata Mona luruh di pipi. Hatinya sakit melihat hal tersebut. Meski ia belum memastikan siapa orang itu, namun batinnya seolah tahu siapa sosok yang telah terbujur kaku di sana.


"Mona," panggil orang tadi sambil memegangi bahu Mona yang nampak bergetar.


Mona menoleh, dan seketika mencengkeram kerah baju orang tersebut.


"Katakan kalau itu bukan dia," ucap Mona menatap tajam ke arah orang yang tak lain adalah Arthur.


"Mona," Arthur mencoba membuat wanita itu tenang.


"Cepat katakan kalau itu bukan Joshua! CEPAT KATAKAN!" pekik Mona, seiring jerit tangisnya yang pecah di depan pria tersebut.


"Katakan kalau itu bukan dia. Aku mohon, katakan itu bukan dia," pinta Mona.


Cengkeraman wanita itu melemah. Kakinya terasa begitu lemas, hingga ia luruh ke bawah dan bersimpuh di lantai.


"Tolong katakan itu bukan dia," ucap Mona lirih, dengan deraian air mata yang semakin deras mengalir di pipi mulusnya.


Arthur merengkuh kedua pundak wanita itu, dan menyandarkan kepala Mona di dadanya. Pria itu menepuk-nepuk pelan punggung Mona yang berguncang, berusaha memberikan kekuatan kepada wanita tersebut.


"Tenanglah. Relakan dia. Dia sudah berada di tempat terbaiknya di surga," ucap Arthur.


"Tidak! Tidak mungkin. Aku… aku tidak percaya. Katakan kalau ini semua bohong. Kalian hanya sedang mempermainkan ku, please. Aku mohon katakan seperti itu," ratap Mona dalam pelukan Arthur.


Arthur tak kuasa berkata apapun lagi. Yang ia bisa kini hanya memberikan sandaran kepada Mona, karena saat ini dia pasti sangat terguncang, karena harus menerima kenyataan bahwa orang yang dianggapnya berharga selama ini, telah pergi untuk selamanya meninggalkan dirinya sendirian lagi.


"Aku tak mau sendiri lagi, Josh. Aku mohon katakan ini semua tidak benar. Aku takut kembali seperti dulu," ucap Mona di tengah isak tangisnya.


"Ada aku, Mona. Aku yang akan selalu menjagamu," seru Arthur.


Tiba-tiba isak Mona berhenti, dan seketika wanita itu mendorong tubuh Arthur hingga terjungkal ke belakang dan jatuh terduduk di lantai.


"Kau… kau pasti tau sesuatu. Benar bukan?" ucap Mona dengan penuh penekanan.


Giginya terdengar bergemeletuk, dan rahangnya mengeras. Wajahnya nampak merah padam, dengan tatapan yang tajam seolah tengah menuntut penjelasan atas apa yang terjadi saat ini.


"Sesuatu? Sesuatu seperti apa maksudmu, Mona?" tanya Arthur yang belum paham arah pertanyaan Mona.


"Kau… bukankah kau bertanya apa aku sedang berada di dalam mobil itu atau tidak. Kenapa? Kenapa kau tanyakan hal itu? Kau tau sesuatu bukan? CEPAT KATAKAN!" cecar Mona seraya meluapkan emosinya.


"Oke... Oke... Aku akan katakan, tapi dengan satu syarat. Kau harus tenang. Kalau kau tidak mau tenang, aku tak akan pernah memberi tahumu apapun juga," ancam Arthur yang membuat Mona kembali terisak.


Wanita itu duduk dengan memeluk kedua lututnya dan bersandar pada dinding. Ia membenamkan wajahnya di sana, dan terus terisak.


Arthur pun kemudian bergabung dengan Mona. Ia merangkul punggung wanita itu, dan mengusap kedua pundaknya. Dia berharap, dengan begitu bisa mengurangi rasa sedih yang dirasakan oleh Mona saat ini.


Lama Mona menangis hingga akhirnya dia kelelahan, dan tertidur dengan posisi yang sama.


Arthur yang menyadari hal itu pun, mengangkat kepala Mona dan menyandarkannya pada pundak kekarnya.


Pria itu menunggu Mona hingga wanita itu terbangun dengan sendirinya.


Cukup lama Mona tertidur, hingga tiba-tiba dia memekik dengan keras sambil menyebut nama Joshua.


Arthur pun menenangkan Mona yang kembali menangis.


"Kau sebaiknya beristirahat. Aku akan mengantar kau pulang," bujuk Arthur.


"Aku ingin melihat Josh untuk terakhir kalinya," pinta Mona.


Arthur pun menghela nafas panjang. Ia tau itu adalah hal yang mustahil, mengingat semua keluarga dan kolega bisnis pria tua itu juga pasti tengah berada di rumah duka saat ini.


"Aku mohon," lanjut Mona yang membuat Arthur tak mampu menolak.


"Baiklah. Tapi bersikaplah setenang mungkin, mengerti?" ucap Arthur.


Mona mengangguk mantap.


Mereka pun lalu berdiri, dan berjalan menuju rumah duka yang masih berada dia area rumah sakit.


Ketika hampir sampai di sana, Arthur bertanya kepada petugas medis yang bertugas, perihal letak jenazah Joshua berada.


Dari situlah ia tau bahwa saat ini, jenazah Joshua masih dibersihkan di ruang mayat oleh petugas, setelah sebelumnya dilakukan otopsi padanya.


Arthur yang mendapat informasi itu pun, segera membawa Mona menuju ke kamar mayat, di mana jenazah itu berada.


Beruntung, Joshua belum dibawa ke rumah duka dan tak ada siapa pun di ruangan tersebut, sehingga mereka berdua bisa leluasa melihat jenazah pria tua malang itu


"Apa kamu benar-benar siap?" tanya Arthur meyakinkan.


Mona tak menjawab. Dia hanya mengangguk, namun terlihat sedikit keraguan di sana. Arthur mencoba memberikan kekuatan dengan menggenggam tangan wanita itu. Saat ini, mereka masih berdiri di depan kamar jenazah.


Mona memejamkan kedua matanya, dan menghela nafas panjang berkali-kali. Dia berusaha memantapkan hatinya, untuk melepas kepergian Joshua selamanya.


"Ayo masuk," ucap Mona.


Dengan ditemani Arthur, Mona pun masuk ke dalam.


Saat baru melangkahkan kakinya ke dalam, bau formalin yang pertama kali menyapa indra penciuman mereka. Namun, Mona tak sedikit pun merasa terusik oleh hal itu. Sedangkan Arthur, pria itu sempat menutupi hidungnya dengan tangan.


Dilihatnya, sebuah ranjang beroda yang berada tepat di tengah ruangan, dengan seseorang yang berada di atasnya, telah tertutup kain putih dari ujung kaki hingga kepala.


Mona perlahan berjalan mendekat, masih dengan Arthur yang setia menggenggam tangan wanita itu.


Setelah mencapai ranjang besi tersebut, Mona melepaskan kaitan tangan Arthur. Dia mengulurkan tangannya, dan hendak membuka kain penutup itu.


Mona nampak ragu. Dia beberapa kali menarik kembali tangannya, namun kemudian mengulurkannya lagi ke arah jenazah.


"Kalau kau ragu, sebaiknya kita sudahi saja, Mona. Aku tak ingin kau jatuh pingsan di sini," ucap Arthur yang merasa khawatir dengan kondisi psikis Mona saat ini.


"Aku baik-baik saja," sahut Mona datar.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih