DESIRE

DESIRE
Bab 65



Malam hari di Heaven valley,


Gemerlap dunia malam begitu terasa di tempat tersebut. Beberapa tamu mulai mengeluh karena Mona yang absen selama berhari-hari.


Banyak dari mereka yang ingin dilayani oleh ratu es itu, meski semua tau jika tak ada yang mampu menaklukannya, tentu saja kecuali Arthur.


Madame Queen nampak duduk di depan meja bar Elliott, sambil memperhatikan tamu-tamu yang datang.


"Jangan cemas, Bos. Nanti juga pasti para tamu akan terbiasa tanpa Mona. Toh selama ini, wanita dingin itu juga selalu pilih-pilih mangsa," papar Elliott kepada bosnya yang nampak bertopang dagu di depannya.


"Hah… coba kau pasang iklan di internet lagi. Siapa tau ada yang mau bekerja di sini," ucap Madame Queen sambil menyesap martininya.


"Apa kau yakin?" tanya Elliott memastikan.


"Yah... aku yakin. Sekaligus pastikan, bahwa dia punya karakter yang mendekati Mona. Aku tidak mau kalau tempat ini sampai bangkrut," tutur Madame Queen sambil memijat pelipisnya yang terasa pening.


"Siap, Bos." Elliott kemudian berjalan ke arah belakang bar untuk menjalankan perintah bosnya.


Dari kejauhan, terlihat Ema yang bersandar di dinding dekat lorong cinta. Wanita itu tampak memperhatikan Madame Queen yang sedari tadi berbicara dengan Elliott.


"Ema, sedang apa kau di sini?" tegur Shasa yang berjalan menghampiri rekannya itu.


"Bukan urusan mu," sahut Ema sinis, dan hendak berlalu dari sana.


"Eh... mau ke mana?" tanya Shasa lagi yang membuat Ema menghentikan langkahnya.


"Jangan pernah bertingkah seolah kita dekat. Cari saja si Mona yang sudah lama bolos kerja. Pendapatan kita jadi berkurang gara-gara tamu-tamu yang kabur menanyakan dia," tukas Ema dengan ketus.


Wanita itu pun berlalu pergi meninggalkan Shasa.


Sementara Shasa, dia berjalan menuju ke arah bar dan menghampiri Madame Queen, bosnya.


"Mom, dimana Elliott?" tanya Shasa saat tiba di depan bar.


Wanita itu lalu duduk di samping Madame Queen.


Sang mucikari yang masih memijat pelipisnya pun menoleh sekilas ke arah Shasa.


"Di dalam. Tunggu saja sebentar," sahut Madame Queen yang kembali memijat pelipisnya.


"Ooohhh…," gumam Shasa.


"Kenapa kau malah duduk-duduk di sini? Cepat kau layani para tamu-tamu itu. Jangan sampai mereka semua kabur gara-gara pelayanan kita yang kurang memuaskan," perintah Madame Queen kepada Shasa.


"Oke, Mom." Shasa pun kemudian berlalu dari tempat Elliott dan berjalan ke arah lantai dansa, di mana sebagian orang mencari pasangan kencan sesaat di sana.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Apartemen The Royal Blossom,


Kedua manusia yang tengah mengikis jarak itu, kini tengah berduaan di ruang tengah apartemen Arthur.


Mona yang sedari pagi memilih untuk menetap di apartemen pria tersebut pun, terus menemani Arthur seharian ini.


Tadi pagi, Arthur sempat mengajak Mona untuk melakukan pemeriksaan terhadap kakinya yang terkilir ke rumah sakit, atas saran dari Dokter Tama.


Awalnya semua baik-baik saja, sampai Mona hendak berganti pakaian di apartemennya sendiri. Arthur awalnya menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, namun Mona menolak dengan alasan kondisi kaki Arthur yang masih sakit.


Namun, hingga Arthur telah siap berangkat, Mona belum juga kembali. Akhirnya, pria itu pun menyusulnya ke apartemen sebelah.


Akan tetapi, saat dia membuka pintu depan, dia dikejutkan dengan keberadaan Mona yang sedang duduk berjongkok sambil memeluk lututnya sendiri, dengan masih mengenakan pakaian yang ia gunakan semalam.


"Mona. Kau kenapa?" tanya Arthur yang menghampiri Mona dan ikut berjongkok di depan wanita itu.


Mona mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk. Raut wajahnya kembali muram.


Arthur pun mengulurkan tangannya dan menangkup ke dua pipi wanita es itu.


"Kau kenapa, hem? Bukanlah tadi kau bilang mau berganti pakaian. Kenapa masih di sini?" tanya Arthur lembut.


"A… aku… ta… kut…," ucap Mona dengan tatapan mata yang sendu.


"Takut?" Arthur mengernyitkan kedua alisnya.


Mona kembali tertunduk, dan mengeratkan pelukan pada lututnya sendiri.


"Ada banyak sekali kenangan Josh di sana. Aku tidak sanggup untuk masuk ke dalam," ucap Mona.


Arthur pun segera memeluk wanitanya itu, dan menepuk-nepuk pelan pundak Mona, mencoba menenangkan kembali hati si ratu es.


"Tenang lah. Sebaiknya kita kembali ke apartemenku dulu. Ayo," ajak Arthur yang memapah Mona dan membawanya masuk kembali ke apartemen miliknya.


Mereka duduk di ruang tamu, dengan Mona yang masih bersandar di dada Arthur.


"Mona, bagaimana kalau kita tinggal bersama saja. Ehm… mak… maksudku, tentu saja itu terserah kau. Aku hanya menyarankan. Kau kan tadi bilang takut kembali ke sana, jadi aku menawarkan padamu untuk tinggal bersama di sini. Bagaimana?" seru Arthur.


"Lalu apartemenku?" tanya Mona.


"Kau bisa menjualnya jika mau," jawab Arthur.


Mona menegakkan duduknya dan menatap pria yang duduk di sampingnya.


"Tidak! Jangan! Aku tidak mau menjual tempat itu. Di sana banyak sekali kenangannya. Aku tak sampai hati," jawab Mona dengan lingkar mata yang memerah.


Arthur kemudian menangkup wajah wanita itu, dan menghapus buliran yang sempat menggenang di sudut matanya.


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan meminta orang untuk mengambilkan barang-barangmu dari sana dan memindahkannya ke mari, kemudian memesan jasa pembersih untuk membersikan tempat itu setiap hari. Bagaimana?" papar Arthur.


"Ehm…." Mona mengangguk setuju.


Arthur pun kemudian menawarkan diri untuk mengambilkan pakaian Mona di apartemennya. Setelah itu, mereka berdua pergi ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan terhadap kaki Arthur.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Malam harinya,


Saat ini, Arthur dan Mona sedang menonton sebuah acara televisi bersama, dengan Arthur yang berbaring dengan paha Mona sebagai bantalnya.


Mona menyuapi Arthur dengan potongan buah segar yang ia siapkan untuk pria itu selepas makan malam tadi.


"Yang bagus yang mana sih?" gerutu Arthur yang sedari tadi mengganti-ganti saluran TV-nya.


Sedangkan Mona, terus saja menyuapi pria itu hingga mulutnya penuh dengan potongan buah-buahan.


"Di jam-jam ini yah? Ehm…," Mona menoleh dan melihat jam yang ada di layar ponselnya.


Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam saat itu.


"Di waktu ini, aku biasanya melihat orang mabuk, orang berjoget-joget, orang sedang berciuman, orang making love, malah mungkin aku sedang melihat teripang darat orang," lanjut Mona dengan santainya.


Arthur seketika bangun dari pangkuan Mona dan menatapnya tajam.


"Kau… berani kau melihat teripang darat orang lain?" tuding Arthur dengan remote TV di tangannya.


"Iya… memang kenapa?" tanya Mona yang tak paham dengan arah pembicaraan Arthur.


Wanita itu hanya menjawab seadanya, seperti apa yang biasa ia lihat setiap malam di Heaven valley. Mona tak tau jika jawabannya itu membuat Arthur bereaksi lebih.


"Kenapa kau berani melihat benda mengerikan milik mereka? Apa kau tidak puas hanya melihat monster milik ku, hah?" keluh Arthur yang seolah merajuk karena jawaban polos Mona.


Mona mengerutkan alisnya, dan mencoba mencerna apa yang sedang dibicarakan pria di hadapannya.


"Kenapa kau bertanya begitu, Kak? Bukannya Kakak tau kalau aku ini… pelacur?" sahut Mona.


Urat di kening Arthur pun seketika mengendur, dan netranya membulat.


"Oh…." Arthur kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Mona, seolah tak terjadi apa-apa.


Aneh, batin Mona.


Namun sedetik kemudian, pria itu kembali bangun dan menatap tajam ke arah Mona.


"Aku akan maafkan kelakuanmu yang dulu. Tapi, mulai sekarang jangan coba-coba melihat milik mereka lagi. Mengerti?" perintah Arthur sambil menudingkan telunjuknya ke depan wajah cantik itu.


Pria tersebut lalu kembali berbaring di pangkuan Mona.


"Pppfffttt…." Mona membekap mulutnya menahan tawa, karena tingkah Arthur yang menurutnya sangat lucu.


"Ehem… kenapa juga aku harus menurut," goda Mona yang membuat Arthur kembali bangun.


Pria itu hendak marah. Namun, Mona tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan membelai pipi Arthur.


"Kenapa juga harus menurut, kalau hukumannya membuat ku ketagihan," ucap Mona sambil meniupkan nafasnya ke wajah Arthur.


Seketika, Arthur yang hendak marah, emosinya pun turun drastis. Dia menjadi tersipu dan tersenyum-senyum sendiri.


"Curang," keluhnya.


"Curang bagaimana, Kak?" tanya Mona.


Arthur kembali merebahkan kepalanya, dan menunjuk-nunjuk ke arah kakinya.


"Kakiku masih sakit, dan kau malah menggodaku. Kalau bukan curang, apa lagi namanya," gerutu Arthur.


Mona justru terkekeh melibat pria besar itu merajuk bak anak kecil yang diiming-imingi sesuatu tapi tidak diberikan.


Wanita itu pun lalu mencubiti pipi Arthur dengan gemas.


"Bayi besar, jangan ngambek dong." Mona membujuk Arthur, masih dengan menahan tawanya.


"Cium," rengek Arthur sambil mengerucutkan bibirnya ke arah Mona.


CUP!


Satu kecupan singkat mendarat di bibir pria tersebut.


"Ckk… pelit," keluh Arthur lagi.


"Tidak mau memberimu terlalu banyak. Nanti monsternya bangun, bisa repot kan. Hahahaha…," gelak tawa Mona semakin menjadi.


"Awas kau yah," seru Arthur sambil menyerang pinggang Mona dan menggelitikinya.


Mona menepis-nepis tangan Arthur yang semakin gencar membuat wanita itu tertawa kegelian, hingga sudut matanya basah.


"Hahaha… ampun, Kak… hahahaha… Sudah…," rengek Mona di sela tawanya.


"Tidak ada maaf. Kau sudah berani menggoda ku. Rasakan ini." Arthur terus menggelitik Mona hingga wanita itu pun kelelahan tertawa.


"Sudah, Kak. Aku lelah tertawa terus. Perutku jadi sakit," keluh Mona di sela nafasnya yang terengah-engah


"Ya sudah, aku maafkan. Tapi nanti hukumannya digabung dengan yang kemarin, oke," ucap Arthur sambil menaik turunkan alisnya ke arah Mona.


Wanita itu mengerutkan kening mendengar hal tersebut.


"Hukumannya di gabung? Memang mau seperti apa nanti, Kak? Aku tidak mau yang aneh-aneh yah," seru Mona memperingati.


"Lihat saja nanti," ucap Arthur dengan seringainya yang membuat Mona mengangkat sebelah alisnya.


Hukuman biasa saja bisa membuat lemas, bagaimana kalau gabungan? Waduh… tak tau lah, batin Mona yang mulai membayangkan hal-hal panas itu.


Arthur yang melihat Mona diam pun, lalu melambaikan tangannya di depan wajah Mona.


"Hem… lagi ngelamun jorok yah. Pasti sedang membayangkan hukumanmu. Iya kan," goda Arthur yang membuat Mona langsung tersipu.


"Ihhh… apa sih. Tidak kok. Sok tau," elak Mona.


"Hem… mengaku saja lah," goda Arthur lagi.


"Sudah lah… aku mau tidur, ngantuk. Kakak menyebalkan," gerutu Mona yang beranjak pergi menuju ke kamar atas.


"Mona... Mona, tunggu," panggil Arthur yang menyusul ratu esnya setelah mematikan TV-nya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih