DESIRE

DESIRE
Bab 48



Mona kini tengah berada di dalam kamarnya. Berkali-kali wanita itu menelepon ke nomor Joshua, namun tak juga kunjung tersambung.


"Si*lan kau Josh. Kenapa tiba-tiba lost contact seperti ini. Ayo lahโ€ฆ shiii*t!" umpat Mona ketika lagi-lagi suara mesin penjawab provider yang menjawab panggilannya.


Mona pun lalu mengetikkan sebuah pesan teks kepada Joshua.


[Kalau kau tak bisa memberiku uang itu, sebaiknya aku jual saja mobil dari mu. Jika sampai nanti malam kau tak menjawabnya, maka besok pagi, akan ku bawa mobil itu ke tempat jual beli mobil mewah.]


Mona pun dengan kesal menekan tombol kirim, dan seketika pesan meluncur ke nomor Joshua.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


Malam hari,


"Hai, Mona. Ku dengar, kemarin kau hang over sambil memakai pakaian badut. Benarkah? Hahaha... sejak kapan selera mu jadi turun begitu, hah?" sindir Ema, yang melihat kedatangan Mona di Heaven valley.


"Bukan urusan mu," sahut Mona ketus dan berjalan ke arah bar milik Elliott.


Bartender yang sekaligus tangan kanan Madame Queen itu pun, segera menyambut Mona dengan omelan


"Tidak ada mabuk lagi untuk malam ini, Mona. Semalam kau hampir mati gara-gara terlalu banyak minum," ujar Elliott.


Mona yang baru saja mendudukkan bokongnya di atas kursi pun, memijat pelipisnya karena pusing dengan omelan sang bartender.


"Kau kira aku ini seorang anak kecil, hah. Tidak usah melarang-larang ku untuk minum, Ell," sahut Mona ketus.


Elliott mendekatkan wajahnya ke arah Mona, dan membisikkan sesuatu.


"Iya, kau memang bukan anak kecil. Tapi, kemarin kau menangis seperti anak kecil di pelukan Tuan Peterson mu itu, hihihi โ€ฆ," ucap Elliott di telinga Mona, yang membuat wanita itu membelalak.


"Apa aku sememalukan itu, Ell? Oh God, ini semua gara-gara pria breng*sek itu," ucap Mona yang merasa tak percaya akan apa yang telah terjadi.


Dia memijat-mijat keningnya, karena ia tak bisa mengingat apapun kejadian semalam ketika dirinya sedang dalam keadaan mabuk berat.


"Sudahlah, kau tak usah menyalahkan siapa pun. Cukup jangan mabuk lagi, oke," seru Elliott.


"Hahโ€ฆ kalau begitu beri aku yang biasa," pinta Mona.


Elliott pun segera membuatkan sebuah cocktail segar untuk Mona.


"Ini pesanan mu," ucap Elliott sambil menyajikan minumannya.


"Thanks," sahut Mona.


Dia pun lalu mulai menikmati minuman, sambil menggoyang-goyangkan badannya sedikit, mengikuti hentakan musik DJ, yang sangat menggoda siapa pun untuk bergoyang.


"Hei, Mona. Kenapa masih di sini? Apa kau tak mau melapor dulu ke atas?" tanya seorang ladies bernama Marcella.


"Untuk apa aku ke sana? Hari ini aku hanya dateng untuk mencari hiburan saja. Bukan untuk bekerja," sahut Mona.


Marcella mengerutkan keningnya, sembari mengangkat sebelah alis. Ia memperhatikan Mona dari atas hingga bawah.


"Aku baru sadar kalau kau memakai baju yang tertutup seperti ini. Tadinya ku pikir, tumben sekali kau tidak memakai pakaian yang seksi seperti biasa, ternyata memang sudah berniat ingin libur," ucap Marsha.


Malam itu, Mona mengenakan dress merah bata dengan kerah bundar tanpa lengan, yang menutup area dada dan punggungnya dengan sempurna.


Serta aksen kerut di pinggang yang membentuk lekuk tubuh Mona, dan bagian bawah yang agak panjang hingga selutut. Sangat berbeda dengan image Mona yang selalu tampil seksi dan menggoda.


Mona mendekatkan dirinya ke arah Marcella, dan menyingkap sebelah sisi bajunya yang memperlihatkan sebagian dadanya.


"Lihatlah. Mana mungkin aku kerja kalau ada tanda seperti ini," ujar Mona.


"Wahโ€ฆ ganas sekali. Memangnya kau meminta dia berhenti, hah? Apa jangan-jangan, kau justru merasa keenakan sampai lupa diri," ledek Marcella.


"Mungkin. Yang jelas, tangan ku terikat ke atas dan tak bisa melawan," sahut Mona sambil memundurkan tubuhnya menjauh dari Marcella, dan kembali duduk tegap di depan bar.


"Hahโ€ฆ benarkah? Apa dia seorang maniak?" tanya Marcella yang semakin penasaran.


Malam semakin larut. Kini sudah pukul sembilan malam, dan Mona masih betah berlama-lama duduk di bar sambil menikmati suasana gemerlap Heaven Valley.


Dari kejauhan, terlihat Shasa yang sedang digiring keluar oleh beberapa perempuan yang terlihat masih usai sekolah. Mona pun lalu bangkit dan berjalan mengikuti ke mana mereka pergi.


Sesampainya di depan lobi klub, Mona melihat jika Shasa tengah dirundung oleh anak-anak kecil itu, di sebuah gang sempit di seberang jalan sana. Saat itu lah, Ema datang menghampiri Mona, yang tengah berdiri di luar seorang diri.


"Sedang apa kau di sini, hah? Apa kau ingin menjadi patung selamat datang?" tanya Ema.


Mona menoleh, dan menunjuk ke arah seberang dengan dagunya. Ema pun ikut melihat ke arah yang ditunjuk oleh Mona.


"Memangnya ada apa? Aku sama sekali tak bisa melihat apapun? Di sana sangat gelap," sahut Ema yang memicingkan matanya, berusaha untuk melihat ke arah seberang jalan.


"Lihat dengan baik," kata Mona.


Ema pun berjalan selangkah ke depan, dan memposisikan dirinya tepat di depan gang sempit itu.


"Seperti ada yang sedang dikeroyok. Benarkah?" tanyanya sambil menoleh ke arah Mona.


Namun, Mona justru telah lebih dulu berjalan hendak menyeberang, dan menuju ke gang sempit itu, saat ia melihat jika mulai ada kekerasan yang terjadi di sana.


"Si*alan! Aku ditinggal begitu saja. Mona, tunggu!" Ema pun lalu mengejar Mona menuju tempat Shasa dibawa oleh sekelompok anak perempuan.


Dari kejauhan, terlihat sebuah mobil menuju ke depan pintu masuk Heaven valley. Seseorang nampak turun, dan menyusul kedua wanita tersebut.


Saat Mona tiba di sana, Slsalah satu dari mereka tengah memegangi lengan Shasa dari belakang, dan seorang lagi yang berada di depannya, tengah menjambak rambut ladies itu. Sudut bibir Shasa nampak membiru akibat pukulan atau tamparan.


"HEI, SEDANG APA KALIAN! BERANINYA KEROYOKAN!" teriak Mona, saat melihat temannya tengah disiksa.


Orang yang tadi menjambak rambut Shasa, kini melepaskan cengkeramannya dengan kasar, hingga Shasa terhuyung ke belakang. Dia lalu berjalan menuju ke arah Mona, yang di belakangnya telah berdiri Ema.


"Ya tuhan, Shasa. Apa kau baik-baik saja?" tanya Ema yang hendak maju menolong Shasa, namun di cegah oleh Mona yang menghalaunya dengan sebelah lengan.


"Kalian berdua tidak usah ikut campur. Ini urusan ku dengan pelacur si*alan itu!" bentak orang yang ternyata masih sangat terlihat muda.


"Heh... kau bilang ini urusan mu dengan dia? Lalu, kenapa kau bawa-bawa temen mu juga dalam urusan mu itu, hah? Itu curang namanya? Dasar pecundang!" balas Mona dengan sinis dan dinginnya.


"Kurang ajar! Beraninya kau," umpat gadis kecil itu yang kemudian melayangkan tangan ke arah Mona.


Namun, Mona dengan tenang dan sigap menangkap tangan gadis kecil itu, dan menghempaskannya kasar.


"Breng*sek!" Sekali lagi, sebuah tamparan dilayangkan, namun lagi-lagi Mona berhasil menangkisnya.


PLAK!


Sebuah tamparan tepat mengenai wajah gadis kecil tersebut, dan itu berasal dari Mona.


Si gadis kecil pun memegangi pipinya dan meringis kesakitan. Dia lalu menatap Mona tajam.


"Kenapa? Ingin menangis? Ternyata kalau satu lawan satu kau akan kalah rupanya. Pantas saja, kau mengajak temanmu untuk bermain keroyokan, hah? Loooooooser," ejek Mona, sambil bersedekap.


Gadis kecil itu lalu memerintahkan teman-temannya untuk menyerang Mona, namun tepat pada saat itu, para petugas keamanan Heaven valley berdatangan dan membuat semuanya terkepung.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐Ÿ‘, komen ๐Ÿ“, atau beri dukungan lainnya


terimakasih