DESIRE

DESIRE
Ban 110



Siang hari, mereka terbangun dengan masih saling berpelukan. Mona nampak nyaman berada di dalam dekapan ayah dari anak yang dikandungnya, seolah janin itu ingin selalu berada di dekat ayahnya.


"Kak," panggil Mona menoleh ke samping.


"Ehm… kenapa, Sayang?" tanya Arthur yang masih betah menumpukan dagunya di pundak Mona, sambil mencuri cium di pipi wanita itu.


"Hari ini jangan ke kantor yah," pinta Mona.


"Ehm… kenapa? Apa kau ingin lagi?" goda Arthur.


"Isshh… bukan begitu. Aku hanya ingin bersama kakak saja. Entah kenapa, setelah hamil, aku jadi suka lama-lama dekat kamu, Kak," ucap Mona.


"Wah… ini modusnya Mommy apa memang lil baby yang minta dekat-dekat terus nih," goda Arthur lagi.


"Iiihhhh… Menyebalkan! Aku mau telepon Dokter Stella saja kalau begitu, biar Kakak tak boleh dekat-dekat pada ku lagi," ancam Mona.


Wanita itu nampak meraih ponselnya yang berada di atas nakas, dan menggulirkan layarnya. Arthur panik melihat apa yang dilakukan Mona, dan berusaha meraih benda pipih itu dari tangan wanitanya. Namun, Mona terus menyikut perut Arthur agar menjauh darinya.


Karena tak kunjung mendapatkannya, Arthur pun meniup telinga Mona hingga wanita itu merasa kegelian dan lengah. Saat itulah, tangan Arthur terulur dan merebut ponsel dari tangan Mona.


"Kak! iihhhh… curang!" gerutu Mona cemberut.


Arthur hanya terkekeh sambil melihat layar Mona. Rupanya wanita itu tengah membuka daftar kontak yang ada di ponselnya. Pria itu seketika menoleh dan melihat wanitanya yang bersungut-sungut.


"Wah… jadi kau benar-benar akan menghubungi Dokter Stella? Kejam sekali," keluh Arthur sambil kembali menatap layar pipih tersebut


"Ya habisnya, Kakak menggoda ku terus. Aku kan hanya ingin bermanja-manja saja." Mona kembali menggerutu karena sikap jahil Arthur yang terus saja menggodanya.


"Kamu itu memang paling menggemaskan jika sedang merona malu seperti itu, Mona. Heheheh…," sahut Arthur terkekeh.


"Menyebalkan! Kemarikan HP nya. Aku mau telepon Dokter Stella," ucap Mona sambil mendekat ke arah Arthur dan mencoba meraih ponselnya.


Namun, pria itu justru semakin merentangkan tangannya hingga benda itu semakin menjauh. Sedangkan tangan satunya, dengan jahil menghalau Mona dengan sesekali merem*s dadanya yang menggantung.


"Kaaaaak! Iiiihhh…," keluh Mona mengerucutkan bibirnya.


"Hehehehe… iya, iya, maaf. Sini deh," ucap Arthur yang menuntun kepala Mona agar mendekat dan membiarkan wanita itu menjadikan lengannya sebagai bantal.


Arthur nampak menggulirkan layar beberapa kali, dan melihat jika nomor yang ada di daftar kontak Mona sangat banyak.


"Wah… apa semua ini kenalan mu, hem?" tanya Arthur yang masih mencoba membaca satu persatu nama-nama yang tertulis di daftar tersebut.


"Tidak juga. Ada yang hanya iseng minta bertukar nomor, tapi setelah itu aku block. Itu kalau tidak salah, hampir semuanya nomor yang ku block sih," jawab Mona.


"Kalau memang tidak suka, kenapa harus disimpan? Hapus saja ya," ujar Arthur.


"Jangan. Kalau dihapus, aku jadi tak tau nomer yang masuk itu punya siapa? Tapi ku simpen dan ku block, setidaknya aku tau dia orang yang malas ku ladenin. Bukan begitu, hehehehe…," jawab Mona asal.


"Hah… eh… jangan-jangan, nomorku ada di daftar hitam kamu juga," ucap Arthur seketika mencari namanya ke bawah.


Dia mencari di deretan abjad A, namun tak juga ia temukan.


"Mungkin di P," gumamnya yang kembali menggulirkan layar ke atas.


Mona hanya memandangi layar ponselnya sambil menahan senyumnya, karena dia memberikan nama lain untuk kontak Arthur.


Cari aja sampai dapat. Biar aku bisa berlama-lama memelukmu seperti ini, hihihihi…, batin Mona.


"Kenapa tidak ada sih, Mona. Kamu tak menyimpan nomorku yah," keluh Arthur yang mulai kesal menggulirkan asal layar ponsel Mona.


"Ada kok. Ku simpan. Cari lagi yang benar, pasti ada," sahut Mona yang sedari tadi terus menahan tawanya.


"Mana? Tidak ada nama Arthur atau Peterson di sini." Arthur menggoyang-goyangkan ponsel itu.


"Ada. Cari saja yang bener. Kakak cari saja di abjad R," jawab Mona sambil menikmati aroma khas prianya itu yang selalu membuatnya betah berlama-lama di pelukannya.


Arthur lalu menggulir lagi ke bawah, dan matanya menangkap sebuah nama yang membuat hatinya panas.


"Gerald?" gumamnya.


Dia pun menoleh ke arah wanitanya yang masih asik meraba dada bidangnya yang ditumbuhi bulu halus.


"Kamu kau simpan nomer Gerald, Mona?" tanya Arthur kesal.


"Ehm… oh, itu. Iya, Kak. Memang kenapa?" tanya Mona dengan polosnya.


"Ku hapus yah," ucap Arthur sambil kembali menoleh ke arah ponsel itu.


"Eehhhh… jangan, Kak. Biarkan saja sih, lagipula kita kan hanya teman saja," keluh Mona atas sikap over posesif Arthur.


"Untuk apa kamu menyimpan nomor pria tak jelas itu? Awas saja kalau kau genit-genitan dengan dia lagi," ucap Arthur yang tak suka dengan kedekatan Mona dan Gerald.


"Tidak genit kok. Lagipula, dia juga sudah tak chat atau telepon aku lagi… semenjak aku memberitahu tentang kehamilan ku… Jadi, Kakak tak usah cemburu begitu," bujuk Mona yang semakin agresif memainkan jemarinya di atas dada dan merayap ke perut prianya itu.


"Ehm… ehem… terus, namaku mana?" tanya Arthur yang pura-pura ketus, padahal dia mulai tergoda dengan sentuhan-sentuhan Mona.


Wanita itu pun mengulurkan tangannya dan menggulir ke bawah pada layar pipih itu, hingga sampai di sebuah nama.


"Itu," seru Mona sambil menunjuk sebuah nama di daftar kontak.


"Hah? Rudal balistik? Kok namanya begini sih?" gerutu Arthur.


Mona hanya cekikikan sambil menyembunyikan wajahnya di dada Arthur. Sedangkan pria itu nampak mengotak atik sesuatu di layar itu.


"Enak saja. Giliran pria tak jelas itu pakai nama yang bagus, giliran aku pakai namanya aneh sekali. Nah… sidah ku ganti nih! Begini kan bagus," ucap Arthur sambil mendekatkan layar itu ke depan wajah Mona.


"Pria tak Jelas? Gerald?" tanya Mona.


"Iyalah. Memangnya siapa lagi yang tak jelas?" gerutu Arthur.


"Terus nama kakak?" tanya Mona.


Arthur hanya tersenyum. Dia lalu menyerahkan ponsel itu kembali kepada Mona, kemudian meraih miliknya yang berada di atas nakas.


"Mau apa, Kak?" tanya Mona bingung.


"Lihat saja layarnya," seru Arthur.


Sebuah panggilan pun masuk ke ponsel Mona, dan wanita itu seketika tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar.


Daddy-nya Lil Baby 💖💖💖💖💖💖💖💖💖


"Apa-apaan tanda love blink-blink banyak sekali seperti itu," keluh Mona, meskipun bibirnya tetap tersenyum melihat kelakuan prianya.


"Ya tak apa bukan. Itu malah kurang banyak," sahut Arthur yang hendak merampas kembali ponsel Mona.


"Sudah. Jangan ditambahin lagi. Geli aku melihatnya," keluh Mona yang menjauhkan ponselnya dari Arthur, hingga mereka pun kembali saling tindih di atas ranjang yang panas.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih