
Hai hai Jangan lupa di Like komen setelah membaca...👀
Zico terus berjalan mundur, sementara Frea terus saja mendesak dan mendekat ke arah Zico yang mulai tersudut.
"Hei ... prempuan! Hentikan!" hardik Zico.
"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?" jawab Frea masih terus mendekat, sementara Zico sudah mencapai ujung tembok.
Frea terus mendesak, hingga menghimpitkan tubuhnya pada Zico, karena tinggi Zico di atas rata-rata dan meskipun Frea memakai heels namun tetap saja ia kalah tinggi sehingga membuatnya mendongakkan kepala untuk menatap Zico.
"Mau apa kamu?" tanya Zico.
"Aku menginginkanmu," jawab Frea, santai.
Zico menipiskan bibirnya kemudian mendorong Frea agar menjauh darinya. Membuat tubuh gadis itu terhempas jatuh.
"Aw ...."
Zico menatap tubuh Frea yang terduduk di atas tanah. "Sorry, aku tidak sengaja."
"Jelas-jelas kamu sengaja mendorongku, hingga tubuhku jatuh, masih bisa bilang tidak sengaja?" Frea meringis kesakitan.
"Ini karena sepatu hak tinggi kamu! Untuk apa kamu ke kampus pakai ini? Seharusnya pakai alas kaki yang nyaman!" Zico berjongkok membersihkan kaki Frea yang kotor.
"Lalu aku harus pakai apa?"
"Snikers atau apa yang nyaman dipakai."
Frea masih meringis menahan sakit, karena kakinya terkilir. Zico menatap lekat gadis di depannya yang mukanya memerah.
"Kamu bisa jalan?"
Frea menggeleng tanpa dosa. "Lalu bagaimana?" tanya Zico.
"Gendong!" Tangan Frea menyodorkan tangannya ke arah Zico.
"Tidak!" tolaknya mentah-mentah.
"Kamu yang membuat aku seperti ini, lalu kenapa kamu tak mau tanggung jawab?"
"Bukanlah kamu wanita hebat di kampus ini? Lalu mengapa membutuhkan laki-laki lemah seperti aku? Kamu bisa ambil ponselmu dan menghubungi teman-temanmu yang hebat itu!"
"Kamu tidak lihat, aku hanya seorang gadis lemah, yang di aniaya oleh seorang pemuda dan akhirnya akan ditinggalkan," ucap Frea memelas.
Zico menghela napas mendengar kalimat Frea yang seolah sedang mendramatisir keadaan.
"Lalu kamu mau apa?" tanya Zico menjawab pertanyaan Frea.
"Gendong ...." ucap Frea manja.
"Ayolah!" Zico pasrah menerima keadaan.
Zico menggendong Frea kebelakang, berjalan pelan menyusuri koridor demi koridor, banyak mata memandang ke arah mereka. Sementara Frea tersenyum puas melingkarkan lengannya ke leher Zico dan kepalanya ia letakkan di letakkan di tengkuk pemuda itu.
"Berat badan kamu berapa sih?" tanya Zico, sebal beberapa kali iya membetulkan gendongannya.
"Kenapa? Ringan, 'ya?" jawab Frea percaya diri.
"Ringan apa? Berat sekali tahu!" gerutu Zico kesal.
"Ih, kan beratku hanya 42 kilogram, itu rata-rata berat badan model, tahu?!"
"Oh, mungkin ini berat dosamu, kali, 'ya? Karena suka membully junior-junior kamu. Termasuk aku," ledeknya.
Frea menggeretakan giginya tak mampu menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. "Turunkan aku!" perintah si gadis cantik itu.
Dengan perasaan campur aduk seolah tak mengerti mengapa Frea telihat marah ia Zico menurunkan Frea karena ia melihat wajah putih nan cantik yang awalnya putih bersih berubah merah karena amarahnya.
Frea turun mengenakan kembali sepatunya, belum juga ia melangkah tiba-tiba ia terjatuh kembali dan terduduk. Belum sempat Zico berjongkok tiba-tiba seseorang menyenggol tubuhnya sehingga membuatnya sedikit mundur karena kaget.
"Frea kamu kenapa?" tanya seorang pemuda yang tiba-tiba duduk mensejajarkan dirinya dengan Frea.
"Kamu tidak lihat? Aku jatuh karena dia!" Frea menujukan jari telunjuknya kepada Zico yang berdiri mematung tak jauh dari posisinya.
"Aku?! Bagaimana bisa aku?" sanggah Zico, menunjukan jari telunjuk pada diri sendiri.
"Ya, karena kamu!" Frea tetap kekeuh menuduh Zico yang sudah melukainya.
"Bre*gsek kamu!" umpat laki-laki teman Frea menyiapkan kepalan tangan seraya mengarahkan pada pipi Zico. Namun dengan tangkisan tangan Zico ia berhasil meloloskan diri dari pukulan pemuda tersebut.
"Berani kamu dengan seniormu!" seru pemuda itu.
Zico hanya bergeming, menatap dengan pandangan mengejek ke arahnya.
"Samuel, biarkan saja dia. Aku punya cara agar dia keluar dari kampus ini!" ancam Frea, menatap mata Zico dengan tajam.
"Terserahmu sajalah!" Zico pergi meninggalkan mereka berdua menuju tujuannya, kelas.
❇️❇️❇️
Dengan spontan Zico berhenti melihat sosok wanita manis rambut sebahu dan berperawakan mungil tersebut, ia tak lebih tinggi dari Frea. Zico mengkerutkan kening mengumpulkan ingatannya mengingat gadis manis itu.
"Kamu yang dibully frea dan teman-temannya bukan?"
Gadis itu mengaguk mengiyakan pertanyaan Zico pada dirinya. Tanpa pikir panjang Zico mengambil susu kotak terdebut lalu meminumnya. "Ini untukku, 'kan? Dari mana kamu tahu aku sedang haus?"
Gadis itu tersenyum manis, mengulurkan tangannya seraya menyebutkan namanya sebagai tanda perkenalan kepada Zico.
"Aku Yufen, terimakasih telah menolongku tadi, sehingga kamu harus berhadapan dengan Frea, gadis penguasa dalam kampus ini."
"Mengapa kamu bisa dibully dengan Frea?"
"Aku sebenernya adik Frea, tapi beda ibu. Aku baru tahu jika ayah Frea adalah ayahku ketika ibuku meninggal."
"Jadi?"
"Ya, aku anak diluar nikah ayahku, dan otomatis kakakku juga sangat membenciku."
Zico tercengang mendengar kalimat dari Yufen yang menceritakan masalah keluarga kepada dirinya. Orang yang baru ia kenal.
"Aku mahasiswi kedokteran tingkat pertama, baru masuk hari ini, aku berharap kamu bisa menjadi temanku. Zico," pintanya.
"Oh, tentu Yufen. kamu bisa menjadi temanku."
❇️❇️❇️
Setelah selesei makan, Asta bergelayut mesra ke pundak sang suami, ia terus mengelus lembut perutnya yang mulai tampak membuncit. "Kenapa sayang? Lelahkah kamu?" tanya Arga melirik ke arah istrinya yang manja.
"Bukan, aku hanya kekenyangan dan sedikit mengantuk," jawabnya mengusap-usapkan pipinya ke lengan Arga.
"Tidulah, di ruang istirahat, kamu bisa berbaring di sana," ucap Arga.
"Ruang istirahat?" tanya Asta kaget.
"He'em ...." Arga menganggukkan kepala.
Ia beranjak dan menggandeng pergelangan tangan istrinya. Menuju suatu ruangan rahasia di balik rak buku besar di belakang meja kerjanya, Arga memencet tombol dekat dengan sebuah buku. Tiba-tiba rak buku itu bergeser membuka.
"Ah, kamu punya ruangan rahasia?" Asta memandang heran ke arah suaminya.
Di sana terdapat kasur luas dengan interior yang nyaman di sertai televisi besar, tak lupa Asta menengok sebuah toilet kecil dengan interior warna putih yang cerah.
"Kamu sering tidur di sini?" Asta menatap lekat wajah suaminya yang tersenyum melihat ke arahnya.
"Iya, dulu waktu Wina jarang pulang, dan setelah aku kenal kamu, dan aku jarang pulang dulu, aku tidur di sini," ucap Arga.
"Aku kira kamu berzina dengan wanita itu," ledek Asta.
Arga menggelengkan kepala. Mendekat ke arah Asta. "Mau apa kamu?"
"Sebentar saja," bisik Arga tepat ke arah telinga Asta sehingga membuat bulu kuduk wanita hamil itu berdiri.
"Apa?!"
"Itu."
"Itu apa?"
"Ah, kamu pura-pura bodoh, wanitaku!"
"Ih, jangan. Ini masih siang dan juga ini di kantor, loh!"
"Memang tidak boleh?"
"Jangan, sana pergi aku mau tidur siang, kamu kerja!" Asta mendorong tubuh Arga.
"Jangan menolak sayang!" Arga menatap sang istri dengan pandangan menggoda.
•
•
•
•
Besambung 👀
Hai gais terimakasih sudah bersedia membaca karya receh aku sampai sini, dan pasti cerita mereka akan terus berlanjut.
Nantikan ke uwuan yang lain hanya di Boss Come here Please!
Salam hangat
Novi Wu.