
Arga memeluk tubuhku dengan erat, setelah menuntaskan hasrat yang beberapa waktu tak tersalurkan. "Terimakasih, cinta." Ia mengecup bibirku entah ini kecupan keberapa kali yang ia berikan kepadaku.
"Apakah kamu mencintaiku, Arga?"
Arga menatap wajahku, sehingga mata kami saling bertemu. "Apakah kamu meragukan aku, Asta?"
"Tidak." Aku buru-buru menjawabnya.
Arga menarik selimut kami, untuk menutupi separuh tubuh kami yang polos seperti bayi.
"Apakah kamu mau jika kita makan malam di luar, Asta? aku ingin merayakan kesembuhan mu," ucapnya.
Sekali lagi aku menoleh ke arahnya. "Boleh, tapi aku perlu memulihkan tenagaku. Aku akan tidur sebentar, oke."
"Tidurlah sepuasmu, sayang. Aku akan menemanimu tidur," ucapnya dengan menghadiahi kecupan di dahiku. Arga memeluku kembali lalu kami tertidur besama.
❇❇❇❇❇
Kami menuju restoran yang terletak di puncak tower disalah satu restoren terkenal di ibukota. Hanya beberapa orang penting yang dapet reservasi mendadak termasuk Arga.
Kami duduk berhadapan di sebelah kaca besar yang langsung disuguhkan pemandangan ibukota yang indah dihiasi lampu-lampu kota yang berkelap-kelip warna-warni laksana bintang-bintang.
"Kamu suka, Asta?"
Aku mengangguk pelan sambil sesekali memandang hamparan cahaya di bawah sana.
"Tapi pemandangan itu tak seindah mata kamu, Asta," imbuh Arga lagi, ia mencoba merayuku.
"Jangan merayuku, Arga!" dengusku kesal.
Dia menyunggingkan senyuman tipis karena geli melihat wajahku yang masam. "Ayo makan!" ucapnya padaku.
Malam ini sungguh menyenangkan, makan malam ditemani laki-laki yang aku cintai dan hidangan mewah di depan mataku.
"Setelah ini kita kemana?" Argabertanya kepadaku.
"Aku ingin ke taman hiburan, menaiki bianglala, rollercoaster, komedi putar dan sebagainya," sahutku masih asik menyatap makanan di hadapan ku.
"Baiklah tuan putri, hamba siap menuruti perintah anda," goda Arga.
❇❇❇❇❇
Setelah beberapa saat, kami tiba di area taman hiburan ibukota. Arga menggenggam erat tanganku dan tak mau melepakannya.
"Kita naik bianglala dulu, bagaimana? Apakah kamu setuju?" aku bertanya kepadanya.
Setelah tak perlu mengantri lama, kamu masuk ke dalam komedi putar berwarna merah. "Aku mau kita berciuman ketika sampai dipuncak sana," ucapku kepada Arga.
"Untuk apa? kamu ternyata memendam perasaan menginginkanku, ya?" ledek Arga dengan senyum mengejek menyungging di wajahnya yang tampan.
"Tidak, aku hanya menurut pada drama yang pernah aku tonton. Jika sepasang kekasih berciuman di atas sana, maka hubungannya akan berjalan dengan baik hingga waktu yang memisahkan."
"Untuk apa jika hanya berciuman? bahkan aku lebih suka bercinta denganmu, Asta," godanya lagi.
"Kamu benar-benar tak waras!"
Bianglala terus berputar dengan pelan namun pasti hingga membawa kita sampai puncak paling tertinggi.
"Apakah disini kita harus bercinta. Eh ... berciuman," godanya lagi.
"Tidak perlu aku tak berminat lagi."
Tiba-tiba Arga menarik tegkukku, dia mendaratkan ciumannya padaku, dengan lembut dan aku sungguh benar-benar tak ingin melepaskan pangutannya dari bibirku.
Ia melepaskan pangutannya, jujur saja aku sedikit kecewa. Namun aku tak ingin menunjukannya.
"Kamu kecewa?" goda Arga.
"Tidak, lagipula kenapa kamu menciumku? sudah kubilang aku tak ingin."
"Tapi aku rasa kamu menikmatinya, Asta."
Wajahku seketika merah padam dibuatnya.
Namun Arga hanya memasang wajah menyeringai untuk mengejekku.
"Arga bolehkah besok aku mulai kuliah?" Aku mengalihkan pembicaraan fulgar kami.
Arga diam sejenak, seperti berpikir. "Boleh, tapi kamu besok juga harus berkerja kembali sebagai assistant pribadiku."
"Oke."
**Hallo temen-temen.
Novi mau kasih tau, Novi ada grub chat loh, di aplikasi ini, masuk yuk, agar bisa saling mengenal dan semakin dekat antara Novi dan temen-temen pembaca.
Gumawo.
Novi Wu**