Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Cemburu



Boss Come Here Please! 124


Piring mereka telah tandas, makanan yang telah tersaji telah habis. Perut Frea seolah ingin meledak karena begitu kekenyangan. Bagaimana bisa ia sarapan sebanyak ini, padahal biasanya ia hanya minum susu rendah kalori dan satu lapis roti tawar gandum.


"Bagaimana Frea? Sudah siapkah kamu pulang?" Zico melempar pertanyaan kepada Frea yang masih tampak lemas karena perutnya telah terisi penuh. Melihat hal itu Zico sedikit tersenyum karena puas telah membuat Frea kekenyangan hingga lemas.


"Kenyang?" tanya Zico sekali lagi. Namun Frea hanya mengangguk lembut mengiyakan pertanyaan Zico.


Frea berpikir, bagaimana bisa ia menghabiskan makanan sebanyak itu. Bahkan hingga tak tersisa. Frea seolah terhipnotis dengan masakan Zico yang lezat bak chef profesional.


"Jika kita menikah, aku akan masak makanan lezat untukmu, Frea," ucap Zico dengan nada merayu.


"Menikah bukan untuk memakan masakan, Zico! Kamu pikir kita bisa menikah hanya karena masakanmu enak?"


Zico tersenyum lebar mendengar kalimat dari Frea. "Apa aku salah berkata seperti itu? Jika kamu menikah dengan Sammy, ingat Frea! Sammy adalah pengusaha sukses yang haru sering bepergian keluar negeri jika ada urusan mendadak. Kamu akan kesepian!"


"Kalau pun dia pergi, dia pasti akan kembali." Ucapan Frea membuat Zico seketika down seolah ia tidak mempunyai harapan lagi.


"Jadi kamu akan tetap bertunangan dengannya?" tanya Zico penasaran.


"He'em ... Jika itu bisa membuat ayahku bahagia."


"Tapi kamu tidak akan bahagia seumur hidup, Frea!"


"Toh kamu juga melakukan hal yang sama!" Kata-kata Frea membuat Zico terbungkam seolah ia sedang di t*lanjangi oleh Frea. "Ayolah, antarkan aku pulang!"


"Besok kemasi barang-barangmu, Frea!"


"Hah ... Untuk apa?!"


"Untuk tinggal bersamaku." Zico berucap sambil tertawa menggoda Frea. "Ingat Frea, aku akan membuat acara pertunanganmu gagal!" ancam Zico.


Frea hanya terkekeh mendengar ucapan pria yang satu tahun lebih muda darinya itu. "Coba saja kalau bisa."


"Kamu menantang Zico, rupanya?"


*****


Arga menatap lekat wajah cantik yang masih terlelap dalam tidurnya, wanita yang sudah sembilan tahun menemaninya, satu-satunya yang ia cintai didunia ini. Wanita yang begitu sabar menghadapi semua perilaku suaminya.


Perlahan ia mengecup kening istrinya dengan lembut membuat Asta menggeliat tetapi tidak menunjukan tanda-tanda ia akan bangun dari tidurnya. Mungkin saja Asta lelah sehingga sampai jam menunjukan pukul tujuh, ia belum juga bangun.


Tiba-tiba pintu kamar mereka berdua terbuka, dua malaikat kecil masuk dan langsung menaiki tempat tidur. Membuat wanita yang tengah tidur di samping suaminya bangun karena sedikit terkejut dengan kehadiran kedua putra putrinya.


Rafa dan Stefa sepasang anak laki-laki dan perempuan. Kenapa nama kedua anak ini beda dari rencana awal nama yang akan Arga dan Asta berikan? Itu karena saat Rafa lahir, Asta dan Arga saling berebut ingin menamai anak mereka dengan nama yang mereka inginkan. Akhirnya nama Rafa dipilih karena ayah Arga menyukai nama itu, sedangkan Stefa adalah nama pemberian ayah Asta sebagai penengah karena lagi-lagi Arga dan Asta bertengkar karena masalah nama.


"Anak-anak mama sudah bangun? Ayo bersiap ke sekolah!" perintah Asta dengan lembut, sementara Arga hanya tersenyum memandang wajah istrinya yang terlihat sabar menghadapi putra putrinya meskipun ia terganggu tidurnya.


"Mama, apakah mama lupa jika hari ini adalah hari Sabtu?" tanya Stefa dengan suara imutnya.


"Benarkah?" Asta menjawab, lalu melirik ke arah suaminya.


"Ya ... Stefa, mamamu lupa karena terlalu asyik memikirkan ketampanan papamu ini," ucap Arga dengan nada sombong.


"Kak Rafa lebih tampan dari papa!" sahut Stefa memuji kakaknya dan membuat mereka berempat tertawa terbahak-bahak.


******


Mobil Zico telah sampai di depan apartement Frea. Zico tampak enggan melepaskan Frea dengan memegang lengan Frea saat gadis itu akan turun.


"Zico, lepaskan aku! Aku akan terlambat ke rumah sakit."


"Ini hari sabtu," jawab Zico menggoda.


"Iya sabtu, tapi pasien tidak mengenal hari sabtu, jika sakit. Dr Zico!" dengus Frea kesal.


"Baiklah, aku akan menunggumu dan kita berangkat bersama."


"Terserah aku akan tetap menunggumu di sini!" seru Zico.


Frea bergeming dan pergi meninggalkan Zico. Waktu telah berlalu 20 menit sudah Frea masuk ke dalam apartementnya. Namun tidak ada tanda-tanda ia akan keluar dari sana. Membuat Zico sedikit khawatir.


Mobil mewah berwarna putih tiba-tiba terparkir di sebelah mobil Zico, laki-laki tampan yang mengenakan stelan tiga potong berwarna navy serta dasi dan sepatu mengkilat keluar dari mobil itu. Ia adalah Sammy calon tunangan Frea dan tak berapa lama Frea keluar dengan menggunakan pakaian rapi dan heels yang selalu mempercantik tampilannya.


Frea tampak berhenti sejenak melihat dua mobil yang tampak berdampingan, namun ia hanya melihat Sammy yang keluar, sementara Zico berada di dalam mobil melihat mereka berdua.


"Kamu tampak cantik, Frea," kata Sammy dengan suara sedikit berat.


"Thank you, Sam!" sahut Frea tersenyum manis.


Sammy membukakan pintu mobil untuk Frea kemudian gadis itupun masuk ke dalam mobil tersebut, hal itu membuat Zico kesal dan tiba-tiba menghantam tengah setir mobilnya menciptakan suara ....


Tin ....


Suara klakson yang memekakkan telinga.


Dan membuat semua orang otomatis menengok ke arah mobil Zico tidak terkecuali Sammy dan Frea. Sammy diam tak memperdulikan mobil Zico lalu masuk dan menjalankan mobil mewahnya membelah jalanan ibukota.


*****


Tidak membutuhkan waktu yang lama Frea dan Sammy pun sampai di rumah sakit.


"Kamu siap untuk nanti malam?" tanya Sammy. Frea mengangguk pelan.


"Aku masuk, ya!"


"Ya ... Hari ini aku akan mengirimkan gaun yang indah untukmu dari perancang busana terkenal di negara ini," ucap Sammy.


"Tidak perlu aku bisa memakai bajuku sendiri, Sam." Frea menjawab karena sungkan dengan kebaikan Sammy.


"Tidak, anggap saja ini hadiah dariku."


"Baiklah, terimakasih."


Frea masuk ke dalam menuju ruangannya, ia tak mengetahui jika Zico sengaja mengikutinya dari belakang, ketika ia masuk tiba-tiba Zico juga merangsek masuk ke dalam dan menekan Frea ke tembok memaku kedua tangan Frea ke dinding membuat Frea tak bisa bergerak.


"Kamu sengaja melakukannya, Frea! Apakah hobimu membuat hatiku terluka?!" tanya Zico dengan nada lirih namun mulutnya menempel di telinga Frea.


"Apa yang kamu katakan?!"


Mata Zico menyipit dan bibirnya menipis. "Kamu sengaja membuatku cemburu, kan?"


"Hah ... Kamu tidak waras Zico! Lepaskan, atau aku akan berteriak sehingga seisi rumah sakit mendengar teriakanku!" ancam Frea.


"Teriak saja! Aku sudah cukup gila karena mencintai wanita jahat sepertimu! Wanita tak berperikemanusiaan!"


"Apa maksudmu?!"





Bersambung....


Yihai ...


Ingat temen-temen like komen kalian adalah semangatku dalam menulis.


Jangan lupa Vote seiklasnya, yah....😘🙏


Papay