
Dokter telah mengisyaratkan bahwa tubuhku sudah sepenuhnya pulih,dan hari itu juga aku bisa kembali ke rumah dan melanjutkan hidupku seperti sedia kala.
Namun anehnya bukan hal bahagia yang aku rasakan,tapi aku harus berpisah dengan laki-laki hebat yang selalu menyayangiku dengan segenap jiwa dan raga,Dan aku harus pasrah di paksa untuk tinggal dengan laki-laki yang sama sekali tak pernah ku ingat dalam hidupku.
Wajahku yang kalut dan kusut berbanding terbalik dengan wajah laki-laki bernama Arga,tampang yang biasanya frustasi berganti dengan senyum menawan dan gembira,seolah ia benar-benar bahagia menanti kesembuhanku.
Dan wanita paruh baya yang selalu menemaninya yang selalu baik layaknya ibuku sendiri,ia adalah ibu mertuaku,entah mengapa aku merasakan getaran aneh ketika aku sedang berbicara padanya,mungkin di ingatan ku,beliau adalah sosok yang baik dalam benak ku.
Kami sekeluarga,pulang.Dengan kata pulang seharusnya aku kembali kerumah di mana aku di besarkan,namun hari ini tidak.
Aku harus pulang dengan laki-laki ini,laki-laki yang tak pernah melepaskan pelukannya padaku,tak henti-hentinya bersusah payah melemparkan senyuman nya padaku,padahal jujur saja aku mampu melihat wajah frustasinya ketika ia menunggu kesembuhan ku.Dan anehnya aku merasa tak nyaman dengan sikapnya.
Ketika di dalam mobil,Suamiku ini tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada tanganku.
"Bisa kah kamu melepaskan tangan mu?".
Bukannya melepas ia malah melingkar kan tanganku pada lengannya.
"Ini benar-benar tak nyaman,lagipula di mobil ini masih ada supirmu".
"Dulu,kamu sangat menyukai bergelayut manja di pergelangan tanganku,aku hanya melakukan flashback agar kamu dapat mengumpulkan memorimu menjadi pecahan-pecahan lalu menyatukannya".ujarNya dengan masih tersenyum.
"Tapi mulai sekarang aku tidak".
Arga menempelkan hidungnya pada hidungku,sehingga aku mampu merasakan hembusan nafasnya,nafas yang begitu segar.
"Tapi aku suka".
Aku membuang muka ke arah samping melihat pemandangan luar,sementara tanganku tetap ku biarkan melingkar ke pergelangan tangannya.
Ia mulai berulah,kini ia meraih rahangku dan mendekatkan wajahnya sehingga membuat kita saling berhadapan.
Tanpa aba-aba ia mengecup bib*r ku dengan lembut,yang membuatku tersentak kaget,dan spontan melepaskan kecupannya dan mengelap bibir bekas kecupannya tadi.
Bukannya tersinggung,ia malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku.
"Apakah kamu tak waras,aku baru saja pulih,dengan santai,kamu membicarakan hal mesum padaku".Aku benar-benar kesal melihat tampangnya seolah tanpa dosa.
"Oke..aku lepaskan kamu kali ini".
💖💖💖
Sesampainya di dalam apartement,dengan masih berada di gendongan Arga,aku melihat kekanan dan kekiri,di dinding ruang tamu tampak foto besar pernikahan kami yang tentu saja tak pernah ku ingat kapan foto itu di ambil.
Arga membawa ku ke kamar,kamar bernuansa monocrom dengan banyak foto kami berdua,dan lagi-lagi tak pernah ku ingat dimana mereka di ambil.
"Apakah kamu lupa dengan foto-foto ini?".Ujar Arga.
Aku bergeming melihat foto-foto itu,toh nyatanya aku memang tak pernah mengingatnya sama sekali.
"Aku ingin berbaring".
Dengan lembut Arga meletakan ku di atas kasur empuk berselimut hitam.
aku duduk bersender pada kepala kasur dan Ia duduk di pinggir kasur sehingga membuat kami saling berhadap-hadapan.Tatapan sayu nya membuat aku khawatir jika ia akan melakukan hal buruk padaku.
"Mau apa kamu!".
Lagi-lagi ia bertindak kurang ajar dengan mendekatkan wajahnya ke wajahku,dengan serampangan ia mencercap bibirku.
"Bibirmu masih seperti biasa,empuk dan manis,membuatku ingin segera membenamkan tubuhku padamu".Bisiknya.
"Apakah kamu biasa melakukan nya dengan gadis manapun?".Desak ku.
"Mana mungkin,kamu adalah istriku,bohong jika aku tak memiliki hasrat padamu,bahkan aku harus menahannya selama beberapa minggu terakhir".ucapnya enteng.
"Dasar laki-laki meum,apakah hanya itu yang selalu ada di pikirannya sejak dulu,apakah ia tak dapat melihat keadaan ku kini".
....Boss..Come here please*!...