
Arga menyetir dengan santai di bawah langit yang mulai gelap karena senja, ia sesekali memandang wajahku. "Mau makan dulu?"
Aku menolehkan wajahku kepadanya yang seperti tak terjadi apa-apa diantara kami, dengan memasang wajah masam. "Tak perlu, aku tak lapar."
"Ayolah, Asta. Aku benar-benar tidak tahu kenapa Wina ada di kantorku hari ini," jelasnya.
Ia meraih tanganku dengan tangan kirinya, cepat-cepat kuhempaskan tangan Arga dariku.
"Ayolah sayang, aku tidak ingin kita terus seperti ini."
"Terserah kamu saja, aku tidak akan mengubah apapun lagi. Aku ingin kita bercerai, besok aku akan pulang ke rumah ayahku. Kali ini kita usai, Arga," dengusku kesal dengan tangan bersedekap seolah sedang menantang Arga.
Tiba-tiba aku merasa terpelanting karena mobil Arga membelok dengan sangat tajam, sehingga membuat kepalaku terbentur kaca mobil.
Arga menghentikan mobilnya begitu saja. "Jangan harap aku akan melepaskanmu, Asta. Aku sudah menjelaskan mu dari Awal, namun kamu sama sekali tak mendengarkan ku, kini terlambat sudah kamu tak akan ada pilihan lain selain menuruti segala perintahku!"
"Apa maumu?"
"Kamu yang meminta, jadi jangan salahkan aku jika aku merampas kemerdekaan mu!" ucapnya.
Mobil Arga kembali berjalan kencang membelah jalan ibukota yang mulai gelap, entah berapa kecepatannya sehingga membuat jantungku berdetak hebat, karena takut
"Stop!" Aku berteriak, namun tetap saja sia-sia Arga sama sekali tak mendengarkan perintahku, dia bukan Arga, dia sedang di rasuki setan.
"Arga, aku bilang berhenti!"
Namun Arga tetap bergeming, ia mengemudi seperti sedang kerasukan setan, entah apa yang ia pikirkan.
Perjalanan Ini terlalu panjang, Arga sangat jauh dari tujuan kami yaitu apartemen Arga, sehingga aku sedikit was-was di buatnya.
"Arga, apakah kamu tak salah jalan?"
Namu ia hanya diam tak menjawab seolah ia tak mendengarkan aku. Ia masih sibuk menyetir mobilnya membelah jalanan yang mulai sepi, kami mulai melewati jalan hutan pinus yang tampak jauh dari kota, bahkan di sini sangat sepi dan menakutkan.
"Arga, kamu mau bawa aku kemana?"
"Ketempat di mana kamu tak akan bisa lari dariku, Asta," dengusnya kesal.
"Maksud kamu apa!" Aku berteriak agar ia sadar dengan tindakannya.
"Diam! atau aku akan meleparmu di sini, agar kamu jadi santapan binatang buas!" seru Arga.
Akupun menuruti kata-katanya dengan diam tanpa banyak bicara lagi.
❇❇❇❇❇❇
Tak berapa lama kita sampai di suatu villa dengan pintu gerbang yang sangat besar dan di depan pintu gerbang itu ada banyak pengawal memakai stelan serba hitam.
"Arga, kita di mana?"
"Di sinilah kamu akan tinggal sekarang, rumah pribadiku," ujarnya santai. Mobil Argapun melesat masuk ke dalam menuju tempat parkir nan luas.
Arga membuka pintu mobilku, kemudian ia mencengkeram kuat lenganku sehingga aku merasa kesakitan.
"Arga, sakit!"
"Kamu yang memaksaku untuk berbuat seperti ini, Asta!"
Arga menyeretku dengan serampangan sehingga membuat ku berjalan hingga terseok-seok dibuatnya.
"Bisakah jalanmu pelan sedikit!"
Tiba-tiba dengan begitu kuat, Arga menarik tanganku hingga dada kami saling berbenturan keras. Ia mencengkeram pinggulku sehingga kami semakin berdempetan. Tangan kanannya menekan kuat daguku. "Ashh ... sakit!"
"Kamu yang memintaku berbuat seperti ini, Asta! aku tidak akan mengambil resiko dengan melepaskanmu begitu saja, karena aku tak ingin kehilanganmu!"
"Kamu sudah mulai tidak waras, bagaimana bisa kamu terobsesi padaku?! padahal kamu tahu sendiri aku mencintaimu!"
"Kamu sendiri tadi yang bilang, bukan? kamu akan pergi meninggalkan ku?"
Arga meraih tengkukku, lalu ia mencercap bibirku, sehingga kami berciuman dengan amat dalam, hingga aku kehabisan nafas, saat nafasku mulai tercekat ia baru melepaskan ciumannya.
"Kita lanjutkan ini di ranjang!"
Arga kembali menariku dengan paksa.
❇❇❇
Hai temen-temen recomendasi Novel bagus
The Love Story of a Watergod
Nama penah\= Novi Wu.
Terimakasih untuk vote, rate, komen dan likenya..
Aku sayang kalian...🤗
Oia masuk ke grub chat aku yuh, kalian bisa ngobrol apa saja loh sama aku..
Gumawo
Novi wu