
Boss Come Here Please! Part Bahagia
Pagi menjelang, sinaran sang surya telah memberikan cahaya dan energi di penjuru bumi. Arga mengerjapkan mata sejenak, ia melirik ke arah istrinya yang masih terlelap dalam pelukannya. Wanita yang begitu sabar menghadapinya dan mendidik anak-anak mereka. Laki-laki itu mencubit lembut pipi istrinya agar ia bangun. Namun yang ada, ibu dari anak-anaknya tersebut hanya mengerang dan menggeliat membuat Arga menjadi gemas. Sehingga laki-laki itu pun menghujani ciuman secara membabi buta ke seluruh wajah istrinya, sehingga membuat Asta mau tidak mau bangun dari tidur lelapnya.
"Apa-apaan ini, sayang?" sembur Asta memasang wajah cemberut.
"Kita sudah janji dengan si Bakiak dan Frea, kalau kita akan pulang ke rumah ayah. Apa kamu lupa?" tanya Arga, mengelus rambut istrinya itu.
Lima bulan telah berlalu, kini Frea juga telah mengandung tiga bulan buah cintanya bersama laki-laki yang paling ia cintai di seluruh dunia.
"Bangunkan anak-anak, dan kita segera bersiap," ucap Arga, lagi.
Asta pergi menuju kamar Rafa dan Stefa, kakak beradik itu memang tidur di satu kamar, dengan pemisah, Rafa di lantai dua sedangkan ranjang Stefa ada di lantai satu, dengan dua konsep berbeda pula, mereka menata kamar anak-anak dengan begitu apik sehingga membuat Rafa dan Stefa betah berada di dalamnya.
Rafa
Stefa
Setelah membangunkan anak-anak dan bersiap, kemudian Asta menyuruh para pelayan untuk menyiapkan sarapan lebih pagi untuk mereka.
***
Sementara di rumah Frea dan Zico, mereka masih tampak terlelap, dan sepertinya tidak ada tanda-tanda untuk segera bangun hingga alarm ponsel pun juga ikut membangunkan mereka. Dengan masih setengah sadar, Zico membangunkan Frea dengan cara menggoyang lembut tubuh istrinya.
"By ... bangun! Byby, kita ada janji dengan Asta dan Arga, akan pulang ke rumah ayah," ujar Zico.
"Iya sebentar, masih ngantuk." Frea terlalu malas untuk bangun sepagi ini, dan memilih kembali terlelap dalam tidurnya.
Setelah 45 menit, Zico kembali membangunkan istrinya yang masih terlelap. "Byby ... ayo bangun! Nanti Asta mengomel, kalau kita tidak siap!"
***
Semua bersiap dan kini mereka telah berangkat menuju ke kampung halaman Asta dan Zico. Mereka sangat merindukan ayah dan ibu, hampir empat bulan lamanya mereka tidak bertemu karena kesibukan mereka yang padat, apa lagi Frea dan Zico yang berprofesi sebagai dokter, hal itu membuat mereka sangat sulit memiliki hari libur bersama seperti ini, meskipun Frea adalah direktur, akan tetapi dia sangat tegas dalam hal ini.
"Bagaimana kehamilanmu, Frea?" tanya Asta, mengelus lembut perut yang semakin membuncit itu.
"Sehat, Kak. dia sangat membantu karena aku hampir tidak pernah merasakan kelelahan sama sekali," jawab Frea.
"Syukurlah."
***
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai, ayah dan ibu mereka juga telah menyambut mereka. Rafa dan Stefa pun juga telah berhamburan memeluk kakek dan nenek yang disayanginya.
"Ayo masuk!" Ayahnya berkata dengan lembut, senyuman bahagia terukir indah di
"Makanan telah siap, kalian pasti belum makan siang dan lapar," sahut ibu Zico.
Mereka pun akhirnya makan bersama dengan tawa riang dan canda terukir indah dari senyum mereka masing-masing.
•
•
•
The End~