
Asta enggan melepaskan pelukan suaminya, ia semakin erat mendekap tubuh laki-laki yang meperlakukan dirinya bak ratu di hatinya itu
"Kamu tahu, suatu saat ketika perutku membesar, badanku pun akan melebar. Aku tidak akan secantik sekarang ini, bahkan mungkin semua wajahku akan ikut membengkak dibuatnya, apakah kamu akan tetap seperti ini kepadaku Arga?" Pertanyaan Asta menohok hati nurani pria tampan itu, bagaimana bisa wanita ini berpikir jika ia akan berubah seiring dengan membesarnya perutnya, seharusnya Arga berterimakasih karena Asta mau memberikan rahimnya untuk calon ahli warisnya kelak.
Arga menarik kepalanya lalu melepaskan pelukannya, kemudian mata coklatnya memandang wanita di hadapannya dengan tatapan sendu. Kemudian ia mendaratkan ciuman mesra di landasan bibir Asta yang merah.
"Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu? Seharusnya aku berterimakasih, karena kamu telah memberikanku keturunan yang selama hampir 10 tahun aku dambakan."
Asta terdiam lalu memeluk suaminya kembali. "Benarkah, sayang? Aku lega sekali. Aku pikir kamu hanya melihat wanita dari sisi parasnya saja."
"Kamu pikir kamu cantik? Standart cinta bukan ditentukan oleh paras yang cantik, jika cantik yang aku cari maka napsulah yang menuntunku. Cinta yang sesungguhnya terletak dari sisi kenyamanan dan keinginan selalu ingin membahagiakan pasangan kita."
"Uluh, so sweet sekali suamiku," kata Asta, seolah meleleh dengan kalimat manis sang suami. Ia memencet dagu laki-laki itu karena gemas.
Dengan mengarahkan wajahnya ke arah rambut Asta, kemudian mencium aroma shampoo stoberri yang selalu Asta pakai.
"Aku suka aromamu, halus kulitmu, hatimu dan juga kesabaran yang telah kamu berikan untuk menungguku," kata Arga lembut, dengan nada rendah penuh makna tetapi terselip keseriusan di dalamnya.
"Aku juga suka aromamu, aroma maskulin yang selalu aku cium sejak pertama kali mengenalmu, sikapmu yang tenang dan sedikit arogan membuatku semakin penasaran kala itu," jawab Asta mengelus lembut sisi pipi kanan Arga.
"Jadi sejak awal kamu sudah ada getaran cinta terhadapku?" Dengan nada tegas nun percaya diri, Arga menyombongkan dirinya
"Aku bilang suka, suka belum berarti cinta loh, Sayang."
Arga menipiskan mata seolah tidak percaya ucapan istrinya sendiri. "Aku masih ingat, kamu bicara dengan foto telanj*ng dadaku, ketika hari pertamamu membersihkan kamarku. Aku tahu itu, kamu pasti menahan air liurmu, bukan? karena menahan hasratmu." Arga meledek sang Istrinya.
Asta terkesiap kaget, mendengar kalimat ejekan Arga dengan spontan ia melepaskan pukulan ke arah pundak Arga. "Ih, kamu ini. Jangan-jangan waktu itu kamu mau menubrukku dari belakang, y?"
Arga terkekeh dibuatnya, bagaimana bisa Asta berbicara seperti itu, padahal dari dulu ia hanya memcintai Wina, hingga pada saatnya dia bisa membuka hatinya yang telah remuk untuk Asta. Dan kini ia sadar jika cintanya untuk Asta lebih besar dari pada Wina. Ia sekali mendaratkan kecupan mesra ke arah rambut hitam dan panjang Asta.
Sementara Zico yang memperhatikan mereka dari jarak jauh tertawa kecil melihat kemanisan hubungan kakak dan suaminya. Kemudian ia menghampiri dua sejoli itu untuk memberitahukan jika makan malam telah siap.
"Perutku mual melihat kalian berdua bermesraan!" ucap Zico angkuh, tabiat anak ini benar-benar aneh, ia mampu berakting seolah ia tak menyukai padahal ia benar-benar ikut bahagia dengan hubungan kakaknya.
"Heh, bakiak pororo! Kamu pikir kami mau di lihat olehmu, pergi sana! Mengganggu saja pasangan yang sedang memadu kasih!" ledek Arga, dengan nada meremehkan.
"Makan malam sudah siap, kalian mau makan atau tidak, terserah!" desis Zico kesal.
Zico pergi, untuk masuk ke dalam rumah, tiba-tiba sebuah mobil minicopper berwarna biru muda berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Zico.
Betapa kagetnya pemuda itu, ia mengelus dadanya sendiri. Hampir saja nyawanya melayang ditangan pengendara mobil tersebut.
Dengan sikap menantang, Zico menghampiri sisi kanan mobil itu untuk siap memaki-maki si pengendara mobil tersebut.
"Hei kamu ....!" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba orang itu keluar, Zico tersentak kaget melihat Frea di depan matanya.
"Ka-kamu, kenapa kesini?" imbuh Zico terbata.
Namun Frea tak memperdulikan pertanyaan Zico dan lebih memilih bejalan ke pintu belakang mobilnya, dan mengambil sesuatu di sana. Sebuah kotak besar berpadu warna putih kuning dan merah muda di pegang oleh Frea, kemudian dengan kasar ia serahkan kepada Zico yang masih kebingungan.
"Apa ini?" tanya Zico, namun Frea tetap acuh kepada Zico.
Arga dan Asta menghampiri mereka berdua, dengan masih saling bergandengan tangan.
"Wah, ada tamu rupanya," kata Asta tersenyum ramah.
Frea melirik tangan Asta dan Arga yang saling berpegangan erat, seolah tak ingin terpisahkan.
"Senang sekali melihat pasangan romantis seperti Mr. dan Nyonya Asta, jadi iri dengan kesendirian saya," ucap Frea.
"Jangan panggil kami dengan sebutan Mr. dan Nyonya! Panggil saja kakak! Umur kita tidak terlampau jauh, kok," kata Asta, masih menyunggingkan senyum manisnya.
"Gadis cantik, masih belum memiliki kekasih?" tanya Arga, heran.
"Iya, Mr ... eh, maaf. Kakak. Aku memang belum memiliki pasangan," jawab Frea malu-malu.
"Tidak punya pasangan apa? Laki-laki yang mengejarnya saja banyak. Dia saja yang terlalu pemilih," gerutu Zico lirih.
Frea melirik ke arah Zico, sehingga membuat detak jantung Zico tiba-tiba menguat.
"Sudah lumayan membaik, tadi sedikit di pijit dan di oles obat."
"Ayo ikut makan bersama kami!" ajak Arga, mempersilakan Frea.
"Tidak perlu, aku kemari ingin mengucapkan banyak terimakasih, dan ingin mengundang kalian ke acara ulang tahunku besok sabtu," terang Frea mengeluarkan sebuah undangan cantik berwarna putih aksen bunga warna warni.
"Wah, kamu akan berusia 20 tahun? Wah hanya terpaut satu tahun dengan Zico, ia baru saja 3 bulan lalu genap berusia 19 tahun," kata Asta.
"Ayolah makan! Aku lapar," sahut Zico memotong pembicaraan mereka.
"Ayo Frea, sekalian makan malam!" ajak Asta merangkul pundak Frea yang tampak sedikit lebih tinggi darinya.
"Baiklah jika kalian memaksa," ucap Frea tersenyum malu-malu.
❇️❇️❇️
Setelah semua selesai, Frea meminta pamit karena waktu sudah malam.
"Terimakasih untuk makan malamnya, sebenarnya aku kesini hanya ingin memberi kue dan undangan, eh ... malah diajak makan," ucap Frea.
"Ah, kamu teman Zico. Aku harap kamu ikut menjaganya ketika di kampus, Frea." Asta mengucapkan kalimat permohonan dengan lembut untuk meminta Frea ikut serta menjaga Zico.
"Menjaga apanya? Justru dialah orang yang akan melalukan kejahatan terhadapku," sahut Zico, ketus.
"He-he-he maafkan perkataan tidak sopan anak ini, ya Frea!" hibur Asta, dengan memasang senyuman masam karena tidak enak." Kamu bisa sopan tidak?!" Asta memukul pundak Zico dengan keras.
"Awh, sakit!" teriak Zico.
Asta masih tersenyum seolah menyiratkan perasaan tidak enak kepada Frea.
"Ayo antar Frea ke depan!" perintah Arga.
Zico mengantar Frea hingga depan di mana mobil Frea berhenti tadi.
"Kamu datang ya, Sayang!" pinta Frea membetulkan kerah kaos Zico yang sebenarnya tidak berantakan.
"Tidak! Itu hanya untuk orang-orang kaya saja," tolak Zico.
Frea menarik kerah Zico dengan kuat sehingga membuat Zico mendekat sampai beberapa inci dengan wajah Frea.
"Ingat, jika kamu tidak datang. Aku pastikan. Aku akan mengusikmu setiap saat!" ancam Frea.
•
•
•
•
Bersambung
"Kamu pikir kamu cantik? Standart cinta bukan ditentukan oleh paras yang cantik, jika cantik yang aku cari maka napsulah yang menuntunku. Cinta yang sesungguhnya terletak dari sisi kenyamanan dan keinginan selalu ingin membahagiakan pasangan kita."
Quotes bab 101
Arga
❇️❇️❇️
Jangan lupakan Like komen Vote setelah membaca, karena tiga tindakan itu yang membuat author semakin semangat untuk update.
Terimakasih
Novi Wu