
Boss Come Here Please! 131
Meskipun langit gelap bertabur bintang di desa itu, namun udara dingin menusuk tulang selalu meliputi daerah ini. Zico yang masih menatap Frea dengan tatapan menggoda membuat Frea sedikit bergidik karena sedikit tidak nyaman.
"Kamu mau tidur di mana, Istriku?" godanya.
"Diam kamu! Jangan panggil aku istri!"
Zico membalas perkataan Frea dengan tersenyum kecut seolah meledek Frea yang menolak menikah dengannya.
"Mau atau tidak, kamu sudah menjadi milikku seratus persen kamu adalah tanggung jawabku!"
"Tidak bisa! Kita hanya menikah dengan adat yang sama sekali tidak kita ketahui, apalah itu di anggap sah?" Frea mencoba mengelak.
Zico menghela napas, dan merubah posisi yang tadinya berbaring kini telah duduk menghadap lurus ke arah Frea.
"Lalu kamu menuduh penduduk desa ini berzina? Karena mereka tidak sah?" tanya Zico, mendesak Frea.
"Bu–bukan begitu. Ta-tapi—"
Zico tampak kesal dengan jawaban Frea yang seolah mempermainkan pernikahan mereka berdua. Lalu berbaring kembali dan membelakangi Frea.
Frea mengamati seluruh ruangan tersebut yang hanya menyisakan sebuah tempat tidur dan dua kursi dan satu meja, jika Frea tidak tidur di tempat tidur, makan ia harus tidur di lantai tanpa alas.
Membayangkannya saja Frea merinding, ia tidak bisa membayangkan betapa dinginnya tidur di lantai.
Perlahan namun pasti Frea berjalan menghampiri Zico yang masih memunggunginya. Ia mencoba duduk dan berbaring dengan pelan dan setenang angin agar Zico tidak tiba-tiba berbalik badan dan menerkam tubuhnya.
Namun meskipun Frea sangat berhati-hati, Zico masih bisa merasakan kedatangan Frea, ia terlihat tersenyum senang karena istrinya mau tidur di sampingnya.
Akhirnya setelah beberapa kali mencoba memejamkan mata, Frea akhirnya bisa terpejam dan berdamai dengan mimpinya.
Dengan napas yang tenang menandakan Frea sudah pulas tertidur.
Zico akhirnya bisa memalingkan badannya kembali dan menatap wajah istrinya yang tenang ketika tidur. Dengan hati-hati ia menyentuh pipinya yang putih bersih itu. Dan membuat Frea sedikit menggeliat karena sentuhan Zico. Namun matanya tetap terpejam tanpa terjaga sama sekali, sepertinya ia benar-benar lelah hari ini.
Dia mendekap dan menyelimuti tubuh Frea, dan memejamkan matanya berharap ia akan terbangun dengan perasaan yang bahagia karena sudah memiliki wanita yang ia cintai.
*****
Matahari telah menyingsingkan cahayanya menyinari bumi sebagai tugasnya untuk mengirim energi keseluruh penjuru bumi. Suara ketukan benda seolah saling berada di luar kamar Zico dan Frea.
Frea mengerjapkan mata, mulai memindai ke seluruh ruangan yang ada di depannya, tiba-tiba matanya menatap tangan seseorang di atas perutnya ia langsung menoleh ke kiri dan mendapati Zico sedang terlelap memeluknya dengan posisi wajah bergelayut di pundaknya, sehingga membuat mereka sangat dekat sekali.
Namun anehnya Frea tidak ingin melepaskan diri dari pelukan laki-laki tampan itu dan malah diam membisu menatap wajah Zico dengan seksama.
Saat ia ingin mendaratkan ciuman pagi ke arah kening Zico tiba-tiba laki-laki itu bergerak dan melepaskan pelukannya dan merubah posisinya membelakangi tubuh Frea.
Hal itu membuat Frea sedikit kesal dan ia memutuskan untuk membangunkan Zico dari tidurnya.
"Zico ... Zico! Bangun!"
Zico hanya menggeliat biasa saja dan tak menghiraukan kata-kata Frea.
"Zico!" Frea mengulangi kata-katanya.
"Mhhhh ... Ada apa? Aku masih
mengantuk, Frea. Jangan ganggu tidurku!"
"Ih ... Kamu lupa kita sedang berada di mana?" Frea menggoyangkan badan Zico, sehingga mau tak mau Zico bergegas bangun dan menuburuk tubuh Frea mengunci kedua tangannya di atas bantal dengan kedua tangan Zico, sehingga ia tidak bisa bergerak sama sekali.
"Zico, Lepaskan!" seru Frea, mencoba melepaskan diri. Namun usahanya tetap sia-sia karena ia kalah kekuatan dengan Zico.
"Siapa suruh mengganggu tidur suamimu!"
"Suami ... Suami, tidak. Kamu bukan suamiku!" sanggah Frea.
"Kamu mau atau tidak. Kamu sudah menjadi miliku. Nyonya Zico!"
Wajah Frea memerah mendengar kata-kata Zico yang menggodanya. Membuat Zico semakin bersemangat menggoda gadis itu.
"Lepaskan aku!" ucapnya dengan nada lirih karena malu.
"Tidak akan!" jawab Zico menggodanya.
Tiba-tiba suara ketukan pintu menganggetkan mereka berdua, membuat keromantisan mereka berakhir.
"Apakah kalian sudah bangun?" tanya seseorang dari balik pintu.
"Tetua telah menunggu kalian di meja pertemuan untuk sarapan bersama."
"Baik kami segera keluar," sahut Zico lagi.
Mereka bangun dan merapikan baju mereka masing-masing. Lalu keluar dari kamar untuk menemui sang tetua.
Seseorang yang sepertinya pesuruh itu mengantarkan mereka menuju ruang pertemuan, setelah sampai di dalam sana ada tetua beserta istri sedang menunggu mereka dengan tenang.
"Silakan duduk!" perintah tetua itu. "Kalian pasangan suami istri, kami menawarkan apakah kalian akan tetap tinggal atau akan pergi?" tanya Tetua itu lagi.
"Kami akan kembali ke kota kami hari ini," jawab Frea tegas.
"Hari ini? Kalian baru saja menikah. Tidak baik jika langsung pergi," tutur istri tetua.
Frea menghela napas panjang. " Kami ini dokter di salah satu rumah sakit ibu kota. Kami ke sini dalam misi perbantuan namun kami terjebak di sini dan di paksa menikah," kata Frea sedikit kesal.
"Di paksa?! Kulihat kalian pasangan yang saling mencintai, dari mana kata dipaksa itu hadir?"
"Ya ... Karena kita tidak ingin men-menikah—" jawab Frea gugup.
Tetua itu terkekeh mendengar ucapan Frea yang terus mengelak.
"Apakah kalian sudah melakukan hubungan suami istri?" tanya Tetua itu lagi.
"Pertanyaan macam apa ini!" seru Frea lalu berdiri mencoba menantang.
Sang tetua tidak tinggal diam lalu menggebrak meja dengan keras dan membuat makanan di meja itu tampak tercecer kemana-mana. Hal itu tentu membuat Frea ketakutan dan duduk kembali.
"Kalian harus melakukan hubungan suami istri, sebelum kalian pergi!" perintah tetua dengan tegas.
"Untuk apa?" tanya Zico penasaran.
"Menghindari bencana di desa ini!" jawab tetua tegas.
"Tidak bisa! Kami akan pergi hari ini!" seru Frea.
Sang tetua melotot ke arah Frea seolah bola matanya akan terlepas dari tempatnya. "Kamu berani menantangku?! Gadis kecil!"
Frea terdiam tak membalas perkataan sang tetua itu.
"Malam ini kalian harus melakukannya! Atau kalian akan terjebak di sini selamanya!" ancam tetua itu.
"Ta-tapi—" Frea terbata ingin menyanggah perkataan tetua tapi tidak berani meneruskan ucapannya.
"Silakan sarapan, setelah itu. Kamu suami, ikut kami menyisir korban gempa dan tsunami di kampung sebelah! Dan kamu istri ikut para wanita memasak!"
"Baik tetua," jawab Zico pasrah.
Sang tetua dan istri pergi meninggalkan mereka berdua untuk sarapan, setelah tetua itu pergi.
"Ini sudah gila, Zico. Aku tidak bisa!" ucap Frea.
"Mau bagaimana lagi, aku milikmu malam ini, Frea," goda Zico sambil mengambil piring dan menyendok nasi lalu disodorkan nasi itu kepada Frea.
•
•
•
Bersambung....
Ces ces....😂
Asik asik
Jangan lupa Like, Komen dan Vote.
Terimakasih saya ucapkan untuk semua teman-teman yang masih setia membaca Boss Come Here Please!
Viewers harian saya telah kembali.
Love u All 😘😘
Berkah selalu dan Papay