Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Penyekapan



Ingat jangan senyum-senyum ketika membaca part ini 😀



Aku menatap tubuhku sendiri yang dipenuhi dengan tanda merah bekas kecupan Arga saat bercinta tadi. Kulihat pakaianku berserakan di lantai terkoyak begitu saja, aku beranjak bangun menutupi tubuh polosku dengan selimut tebal. Kuraih bajuku yang teronggok di lantai, kemudian kukenakan kembali satu persatu.


Aku tidak membenci Arga sedikitpun, aku membenci diriku sendiri karena tak bisa mempercayai laki-laki yang paling aku cintai itu.


Aku ingin percaya, namun hatiku terlalu sakit untuk menerima dan mengingat masa lalu pahit diantara mereka berdua.


Seperti trauma berkepanjangan yang tak kunjung usai.


Aku menuju ke kamar mandi. Guna membersihkan tubuhku dari sisa keringat karena percintaan sengit diantara aku dan Arga malam ini.


❇❇❇❇❇


Sudut pandang penulis.


Arga berjalan keluar dari rumah utama menuju rumah kecil di belakang rumah besar bergaya american style tersebut.


Sementara rumah kecil di belakang rumah utama tampak lusuh, jelek dan kelihatan telah lama tak ditempati. Tentu saja, rumah itu adalah bekas tempat tinggal para pelayan Arga sebelum Arga membangun rumah tepat di samping rumah utama.


Arga dan beberapa body guard yang berpakaian stelan tiga potong berwarna hitam dan tak lupa memakai kaca mata hitam meskipun hari itu sudah gelap, tapi entah kenapa, mungkin itu adalah style para body guard tersebut.


Arga membuka dengan kasar pintu rumah itu, dan berjalan menuju kamar pojok di sana.


Kemudian Arga membuka pintu kamar itu dengan satu kaki sehingga menciptakan suara yang amat keras.


Brak....


Suara itu sangat memekakkan telinga karena begitu kencang Arga mendobrak pintu itu.


Di dalamnya tampak Wina dengan berpakaian lusuh dengan wajah awut-awutan entah ia sudah tak mandi beberapa hari.


Ia tersentak kaget melihat kedatangan Arga, raut mukanya berubah ketakutan ketika ia menangkap sosok yang dulu sangat amat memuja kecantikannya, yang kini sudah berubah menjadi benci terhadapnya.


"Arga, aku mohon. Maafkan aku," pinta Wina dengan mengatupkan dua telapak tangan memohon kepada Arga.


Arga memandang wanita itu dengan tatapan benci, cinta yang dulu bersemi kini telah pudar. Arga tahu betapa bodohnya ia dulu. Mengapa ia harus mencintai wanita laknat seperti Wina ini.


Wanita yang hanya memperalatnya sebagai ladang uang dan hanya dianggap seperti laki-laki bodoh oleh Wina, jika mengingat itu tentu amat sangat membuat Arga murka.


Jelas-jelas ia sudah mengembalikan Wina ke tempat asalnya, bagaimana bisa ia kembali lagi ke kota ini. Atas bantuan siapa?


"Siapa yang membantumu kembali ke kota ini?!"


"Aku-aku, kembali atas permintaan seseorang, aku mohon padamu. Lepaskan aku," mohon Wina dengan memasang wajah memelas untuk mengecoh Arga.


Namun tentu saja Arga sudah tak akan pernah tertipu lagi dengan Wina. "Siapa dia?! aku pastikan kamu akan hancur bersamanya!"


Mata Wina terbelalak kaget, ia benar-benar ketakutan atas ancaman Arga. "Tidak. Aku mohon, lepaskan aku."


Arga mengeluarkan pistol berjenis revolver.


Revolver adalah sejenis senjata api di mana peluru dimasukkan ke tabung berputar. Pada revolver berkaliber 44 berisi 5-7 peluru.


Dia mengacungkan pistol ke kepala Wina. "Katakan! Siapa yang memerintahmu untuk melakukan ini, hah?!"


Wina memejamkan mata dan ketakutan, ia menelan ludahnya sendiri. Wina mampu mendengar suara pelatuk pistor itu berputar, sebagai tanda bahwa Arga siap-siap mencabut nyawanya dengan paksa.


"Oke!" teriak Wina. "Cherryl yang memintaku melakukan ini semua, aku sebenarnya sudah tak ingin bertemu denganmu, tapi Cherryl yang memintaku," sambungnya lagi.


Arga melepaskan pistol itu dari kepala Wina. kemudian Ia menyuruh para body guard untuk membawa Wina keluar dari rumah itu.


"Bawa dia kerumah utama!"


"Baik, Mr." jawab para bodyguard dengan serempak.


"Arga, kamu akan membawaku kemana?" ucap Wina dengan penuh rasa berontak.


"Taruh dia ke kamar pelayan! nanti aku urus ia nanti."


Arga pergi berlalu, meninggalkan Wina ditangan para bodyguardnya.


❇❇❇❇❇


Sudut pandang Asta(Aku).


Aku mengguyur tubuhku dengan air hangat di bawah guyuran shower, ini benar-benar menenangkan. Setelah Arga memaksakan kehendaknya, itu sangat membuatku merasa kelelahan.


"Segar sekali," gumamku dalam hati.


Tubuh yang tak asing berdiri tepat di hadapanku, dengan tatapan nakalnya.


"Kamu?!" Aku berteriak karena kaget. Spontan menutupi bagian tubuhku yang polos dengan kedua tanganku.


"Kamu mau apa?"


"Tentu aku akan mandi denganmu, Asta," jawabnya santai.


"Bukankah tadi sudah cukup?! kini kamu akan memaksakan kehendakmu di kamar mandi ini?!"


"Kalau iya, kenapa?" ledek Arga, ia mulai melepas satu persatu kancing bajunya.


"Arga, stop! "


"Stop untuk apa? aku ingin mandi, bersama istriku yang paling aku cintai," ucapnya menggodaku.


Kini tubuh kita sama-sama polos seperti bayi yang baru lahir, seperti tak ada sekat lagi diantara kami, bahkan aku sudah mulai luluh kepadanya, rasa cintaku yang besar terhadapnya mampu membunuh rasa marahku kepadanya.


Arga menggosok punggungku, memberi shampoo pada rambutku, ia menempatkanku seolah ia sedang memandikan anaknya sendiri. Dia masih terus memijat kepalaku sehingga membuatku rileks dan tanpa sadar memejamkan mataku.


Tiba-tiba Arga menggigit tengkukku dengan lembut membuat kesadaranku terjaga kembali. " mmmh ... enak, ya? sampai kamu ketiduran," ledek Arga masih memijat kepalaku.


Namun aku memilih diam menikmati sensai pijat yang Arga berikan padaku.


"Kamu sudah tak marahkan? kalau iya. Aku ingin lagi sekarang," ujar Arga dengan memasang wajah polos.


Aku melepaskan tangan Arga yang memijat kepalaku. "Sudah cukup, aku selesai mandi."


Ketika aku akan beranjak, tiba-tiba ia merengkuh tubuhku kembali. "Ayolah," rengeknya.


"Tidak! aku sudah kedinginan."


"Asta, kamu benar-benar tega kepadaku."


Namun aku tetap diam, dan membilas seluruh tubuhku dengan air hangat yang keluar dari shower.


"Ayolah sayang!" Ia merengek kembali.


"Cukup, Ga. Aku ingin tidur."


Aku mengambil kimono handuk warna biru yang tertata rapi di rak pojok kamar mandi lalu mengenakannya.


Sementara Arga menyusulku dan memakai kimono handuk yang sama. Dan kemudian kami keluar kamar mandi bersama-sama.


"Duduk di meja rias sana! aku akan mengeringkan rambutmu dengan, hair dryer," perintah Arga.


Aku menuruti perintahnya, dan duduk di depan kaca meja rias, sementara Arga sibuk menyeringkan rambutku dengan hair dryer. Aku melihat pantulan bayangan Arga di dalam kaca membuatku sedikit ingin tertawa. Karena ia seperti para pekerja salon yang sedang melayani pelanggannya dengan lembut.


"Apa yang kamu tertawakan, Asta?" tanya Arga, dengan masih sibuk dengan rambut istrinya.


"Tak ada," jawabku. "Oia apa kejutan yang akan kau beri padaku? mana?"


"Tenang, sebentar lagi kamu akan tahu itu."


Kira-kira apa yak?🤔


❇❇❇❇❇❇❇❇❇


Hello temen-temen, jangan lupa like, komen, rate bintang 5 untuk Boss Come here Please! yah. Itu sangat penting buat Novi. Karena itu semangat untuk para author-author dalam menulis.


oia, Novi punya rekomendasi Novel seru dan keren dari sesama author.


judul\= My Heart is Only For you.


Pena\=Ergina Putri.


Judul\=Nothing is Impossible


Pena\=Septriani Wulandari.


Juduk\=Pujaku Mayang


Pena\=Azis Beck.


Eh ... Novi ada grub chat juga loh, kalian bisa lebih deket sama Novi di sana, bisa tanya apapun di sana, nagih update, kreji up, apapun itu kalian bisa lakuin di sana.


Novi