Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Terungkapnya Kejahatan



Karena dari awal Arga dan Asta adalah artis korea jadi aku putusin untuk pakai mereka. 😁



Frea Arav



Zico Alvaro



Yufen Arav


Boss Come Here Please!141


Sinar matahari masuk ke sela-sela gorden putih yang ada di kamar Frea, seolah ia mengerahkan semua tenaganya untuk menerpa wajah Frea, hingga membuatnya mengerjapkan mata. Ia menatap suaminya yang tampak masih terlelap dan mendekap tubuhnya dalam keadaan polos seperti bayi.


Frea menangkup telapak tangan laki-laki itu ke pipinya, dengan tujuan agar suaminya bangun.


"Sayang ...." ucapnya lembut, dengan berusahan mengusapkan telapak tangan sang suami ke pipinya.


Alih-alih terbangun, Zico hanya mengerang seolah ia enggan untuk di ganggu dan berbalik badan memunggungi Frea. Hal itu sungguh membuat Frea sangat gemas, dengan srampangan Frea mencubit pipi Zico dengan lembut. Frea memilih mandi dan tidak mengganggu suaminya lagi.


Sekali lagi, ia membangunkan laki-laki itu lagi dengan goncangan lembut. "Sayang ... Katanya mau milih vendor untuk pernikahan kita?"


Mendengar kalimat dari sang istri, Zico seolah memiliki kekuatan penuh. Laki-laki itu terperanjat dan bangun. "Ah ... hampir saja aku lupa," ucapnya sembari tersenyum kecut.


Frea duduk di depan kaca sembari bersenandung lirih saat Zico memanggilnya dengan suara nyaring.


"Sayang ... mana handuk bersih? Di sini tidak ada, apakah para pelayan lupa menyiapkan handuk bersih?"


Frea dengan cekatan memberikan handuk yang ia pakai tadi, Prempuan itu menyodorkan kain berwarna putih itu kepada suaminya yang sudah selesai mandi.


Tak lama kemudian, Zico keluar dengan hanya memakai handuk sebatas pinggangnya sementara dadanya ia biarkan terbuka lalu dengan polosnya, ia menggoda sang istri.


"Sayang ... lihatlah, apakah suamimu seksi?" tanyanya sambil berkacak pinggang dan berdiri di ambang pintu.


Frea hanya melirik dan melihat pantulan suaminya dari balik cermin, tidak bisa di pungkiri jika suaminya memang tampan, bisa dibilang sangat tampan melebihi rata-rata laki-laki pada umumnya.


"Ayo ... lekas ganti baju, pasti ayah menunggu kita sarapan!" perintah Frea, seolah mengacuhkan pemandangan indah yang sengaja Zico suguhkan untuknya.


***


Mereka sudah berkumpul di meja makan besar, Yufen menatap sepansang pengantin itu dengan tatapan penuh kebencian, hingga beberapa kali ia tampak memicingkan matanya.


Tiba-tiba seorang pengawal menyodorkan amplop besar coklat kepada Arav. Ia adalah Adams tangan kanan Arav sejak lima tahun belakangan ini, ia serba bisa semua yang Arav perintahkan dikerjakan dengan sangat rapi dan teliti hingga Arav tidak bisa mencela cara kerja Adams.


"Ini tugas yang Ketua berikan kepada saya pekan lalu." Adams memberikan dengan posisi badan setengah menunduk.


Arav membuka amplop itu dengan saksama, Yufen dan Mardella tampak saling menatap seolah ingin tahu apa isi di dalam amplop coklat tersebut. Tidak untuk Zico dan Frea, mereka tidak peduli dengan apa yang ada di dalam kertas itu dan terus makan sembari sesekali saling menyuapi.


Arav terbelalak, manik matanya seolah akan lepas dari tempatnya ketika membaca kertas putih tersebut. Lalu matanya menyambar Mardella dengan tatapan marah.


"Apa ini, Della?!" Suara nyaring keluar dari mulut Arav, mengaggetkan semua orang.


"A–apa kesalahanku, Arav?" tanya Mardella, gurat ketakutan terpancar dari wajahnya, selama menikah dengan Arav ia tidak pernah melihat kemarahan yang begini besar dari sosok suami yang ia anggap sangat mencintainya itu, bahkan semua perkataan Mardella selalu Arav turuti tanpa membantah, membuang Frea keluar negeri, meskipun batinnya menjerit, tetap Arav lakukan meskipun nuraninya menolak. Tapi ternyata kebohongan yang selama ini Mardella tanamkan seolah melukai hati pria tua itu.


"Baca!" perintahnya dengan nada tinggi.


Mardella mengambil kertas tersebut, dengan tangan bergetar. Tertulis di sana, jika Yufen bukan anak biologis dari Arav. Dan membuat Mardella seketika menahan napas dan menjatuhkan kertas di tangannya.


"Siapa kamu?!" bentak Arav kepada Yufen.


"Ayah ...." Frea belum sempat melanjutkan kalimatnya, Arav kembali berseru dengan lantang.


"Siapa kamu?!"


"A-aku anakmu, Ayah—" jawab Yufen dengan nada gugup dan ketakutan.


"Ada apa ini ayah?" tanya Frea lagi, ia berjalan ke arah ayahnya yang tampak begitu murka.


"Lihat saja kejahatan mereka, Frea! Semua ada di dalam kertas itu!"


Zico beranjak dari tempat duduk dan mengambil kertas yang terjatuh di kaki Mardella, Zico terkejut melihat isi di dalamnya dan memperlihatkan kepada Frea, setali tiga uang sama seperti Zico, wanita itupun kaget, namun ia tidak ingin membuat ayahnya semakin murka, ia malah menenangkan laki-laki tua itu.


"Mungkin saja ibu tidak tahu menahu soal ini ayah, Yufen pun pasti sama, karena ini adalah rahasia dari ibu kandung Yufen." Frea mengusap lembut punggung ayahnya itu.


"Bagaimana tidak tahu, mereka tinggal serumah waktu itu, Adellia ibu Yufen saat berhubungan denganku, ia sudah hamil empat bulan, dan bodohnya aku saat Yufen lahir ia berkata bahwa anaknya lahir prematur," pungkas Arav.


"Lalu dari mana ayah tahu ini semua?" tanya Frea.


"Seorang pria mendatangi Ayah di rumah sakit, dia berkata ingin mengambil Yufen, karena Yufen adalah anak kandungnya bersama Adellia!" tambah Arav, yang membuat wajah Mardella dan Yufen tampak pucat pasi.


"Mardella, bukti kongkrit ini adalah nyata, kamu tidak bisa menyangkalnya lagi! Aku menganggap anak orang lain sebagai anakku, sementara aku membuang anak kandungku sendiri, dan menghianati istriku hanya demi wanita penipu sepertimu!" seru Arav.


"Ayah ... tenanglah!" pinta Frea dengan nada lembut, lebih baik ayah istirahat.


"Pergi kalian dari rumahku! Pindah ke rumahku yang aku berikan kepadamu dulu!" teriak Arav.


Mardella langsung bersimpuh di kaki suaminya untuk meminta ampun, namun Kemarahan Arav telah mencapai puncaknya, ia merasa tertipu selama lebih dari 25 tahun.


"Kalau kamu tidak mau, aku akan mencabut namamu dari hak ahli warisku!" ancamnya.


"Ti–tidak, aku akan pindah Arav—"


***


Arav berkali-kali mencium kening putri satu-satunya itu, ia terus meneteskan air mata menyesali kebodohannya dulu.


"Maafkan Ayahmu yang jahat ini, Nak!"


Frea tak kalah bersedih, bulir air mata terus mengucur deras membasahi pipinya, dengan lembut Frea berkata, "Ayah ... Frea tidak pernah membencimu, Frea sangat bersyukur telah lahir di dunia ini karenamu."


"Tapi, Nak. Ayahmu ini tidak pernah adil terhadapmu."


Frea menggelengkan kepala dan duduk menyendarkan kepalanya di kaki pria tua itu.


"Tidak ayah, jika ayah tidak mengirimku sekolah dan mengacuhkanku, aku tidak akan menjadi Frea yang seperti sekarang ini."


Arav dan Frea saling berpelukan. Zico melihat istrinya tampak bahagia, ia menarik napas lega karena itu.


"Ayah ... dari mana Ayah sadar, jika Yufen bukan anak kandung Ayah?" tanya Zico penasaran.


Arav melepaskan pelukannya dari Frea dan menatap mata menantunya. Ia menghela napas panjang.


"Tuan Arga yang memintaku menyelidiki ini semua, setelah aku bercerita jika aku didatangi oleh Ayah kandung Yufen."


"Jadi karena Arga dan Asta semua ini menjadi terbuka?" tanya Zico, diikuti anggukan dari ayah mertuanya.


"Mereka berdua memang berguna bagi hidupku," gumam Zico dalam hati sembari tersenyum lega.