
Boss Come here Please! 118
Frea memandang jam di dinding pojok kanan yang ada di ruangannya. Sepuluh menit lagi waktu telah menunjukkan pukul lima sore, akan tetapi ia masih saja bergelut dengan pekerjaannya yang tak kunjung usai.
Ia memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada Zico yang mungkin saja tengah menunggunya. Ia memberi kabar bahwa ia akan sedikit terlambat menemuinya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, tanpa melihat siapa yang telah menelepon dirinya, Frea pun mengangkat dan berkata, "Hallo?"
"Bolehkah aku ke ruanganmu?" ujar Zico dari balik sambungan telepon, dan membuat Frea seakan tak percaya lalu melihat layar ponselnya. Jika nama Zico lah yang ada di sana. "Aku tidak mau jika Yufen melihatku sedang menunggu seseorang di tempat parkir," imbuh Zico, lagi.
"Ehmm ... Rupanya nyalimu ciut! Terserahmu saja, aku masih ada urusan di kantorku." Frea menjawab dengan nada ketus lalu menutup sambungan teleponnya.
"Dia bilang tidak mencintainya, tapi malah takut dengan tunangannya! Laki-laki memang tidak ada yang bisa dipercaya!" gerutu Frea, masih berkutat dengan komputer yang ada di depannya.
*****
Senja akan berganti membuat langit yang tadinya berwarna oranye kini telah berubah menjadi biru gelap, Frea dengan sengaja membiarkan lampu di ruangannya tetap dalam kondisi mati, karena ia berpikir jika cahaya senja masih terpancar melewati jendela kaca besar yang ada di kantornya.
Suara ketokan pintu membuyarkan konsentrasi Frea. "Masuk!" sahut Frea lalu merapikan baju dan rambutnya seolah telah bersiap menemui sang pujaan hati.
"Frea." Zico berjalan masuk, memandangi sekitar ruangan Frea yang tampak remang karena lampu yang sengaja tidak di hidupkan. Zico mencari saklar guna menghidupkan lampu agar ruangan tampak terang.
Cahaya telah memenuhi ruangan Frea, tapi gadis itu masih tetap fokus dengan pekerjaannya sebagai direktur utama di rumah sakit Healty Life.
"Ehem ...." Zico sengaja mengeluarkan suara agar membuat Frea tersadar jika ia berada di ruangan gadis itu.
"Ah ... dokter Zico. Silakan duduk, tunggu sebentar, ya!" sapa Frea masih sibuk dengan keyboard di depannya.
"Aku sudah selesei dan pulang, kita tidak dalam ikatan boss dan bawahan. Panggil saja aku Zico!"
Frea lalu menatap wajah Zico dengan seksama, lalu menyelesaikan pekerjaannya dan menutup komputernya.
Ia berjalan ke arah Zico yang sejak tadi duduk di sofa panjang ruangan Frea.
Lalu ia duduk di samping laki-laki itu.
"Aku siap!" kata Frea seperti ragu-ragu.
"Siap untuk apa?"
"Siap menjadi kekasih gelapmu," jawab Frea dengan nada lantang.
"A-a-apa kamu yakin?" tanya Zico terbata, wajahnya berubah menjadi sumringah ketika mendengar kalimat kejutan yang keluar dari bibir tipis Frea.
Frea mengangguk pelan, lalu tersenyum manis menatap wajah Zico yang masih terlihat bahagia seolah sedang mendapat asupan energi.
Sedetik kemudian wajahnya berubah serius. "Apa yang membuatmu berubah?" Zico meremas dagunya seraya berpikir.
"Karena aku mencintaimu!" Frea mencubit lembut hidung Zico yang masih tampak berpikir sehingga membuatnya sedikit meringis kesakitan.
"Apakah kamu mencintaiku?" tanya Zico meyakinkan diri sendiri.
"Of Course, aku selalu mencintaimu," jawab Frea.
"Lalu apa yang membuatmu berubah?" Zico penasaran dengan perubahan Frea.
"Aku akan menjadi wanita jahat yang akan merebutmu dari tunanganmu!"
Zico kembali meremas dagunya seraya berpikir kembali. "Lalu kamu akan bertunangan dengan sammy?"
Zico mengacak-acak rambutnya lalu berdiri dan berkata, "Lalu hubungan kita ini apa, Frea?!" seru Zico.
"Sepasang kekasih gelap! Aku menuruti semua permintaanmu semalam."
"Hah ...." Zico mendengus kesal, seolah tak percaya dengan kata-kata Frea. "Kamu mau melihatku patah hati?"
"Aku juga pernah patah hati mendengar pertunanganmu dengan Yufen." Frea menjawab kalimat Zico dengan santai, lalu menatap kuku-kuku di jari kirinya.
"Kamu gila Frea!" Zico hendak berjalan keluar dari ruangan, dengan sigap Frea merampas pergelangan tangan Zico dan menghentikannya.
Mereka saling berhadapan lalu Frea menarik kepala Zico membenamkan bibirnya ke landasan bibir Zico, mereka saling berpanggut dan bertukar saliva satu sama lain, sekian detik adegan itu telah mereka lakukan, Lalu Frea melepaskan ciumannya, namun Zico tidak tinggal diam ia meraih pinggul Frea dan kembali menenggelamkan diri dalam buaian bibir tipis Frea, sekian menit lidah mereka saling beradu hingga menciptakan suara kecupan yang sangat membara.
Dengan terpaksa mereka saling melepaskan satu sama lain dan menyudahi adegan itu dengan perasaan kecewa. Zico memberi kecupan tepat di kening Frea dan berucap, "Aku mencintaimu dan aku pastikan aku akan memilikimu seutuhnya!"
Frea tersenyum dan berkata, "Aku akan selalu mencintaimu meskipun kita tidak berjodoh."
"Tidak bisa! Kita akan berjodoh!" Zico mengelak ucapan Frea.
"Tuhanku tidak pernah pilih kasih terhadap umatnya, jika kamu memang sengaja diciptakan untukku. Maka Tuhanku akan membuka jalan lebar untukku memilikimu," ucap Frea menenangkan Zico.
"Sekarang kamu kembalilah, aku masih ada urusan pekerjaan," kata Frea.
Zico menurut kepada Frea, ia kemudian keluar dari ruangan Frea, "I love you, Frea!" ucap Zico sebelum meninggalkan ruangan wanita yang ia cintai itu.
Frea membalas kata-kata Zico dengan senyuman dan lambaian tangan. Kini ia bertekad untuk menabuh genderang perang terhadap Yufen dan bibinya.
Ia menyambar tas yang sejak tadi ia letakkan di meja dan keluar untuk pulang, ia berjalan pelan dan santai menuju lift, saat ia sedang menunggu ia sedang melihat Yufen dan Zico berjalan menuju ke arahnya, Yufen bergelayut manja dengan menggandeng tangan laki-laki yang berprofesi sebagai dokter tersebut.
Setelah mereka sampai Yufen berdiri di samping kakaknya. "Kakak, baru selesai kerjaannya? Sibuk sekali bukan menjadi seorang direktur?" cibir Yufen.
"Ya ... Lumayan menyita waktu, tapi aku enjoy dengan pekerjaanku saat ini." Frea menjawab tanpa menatap wajah mereka berdua.
"Oh ... Ya, hari ini kakak mau ke rumah bukan? Keluarga Sammy akan datang malam ini untuk membicarakan pertunangan kalian."
"He'em, aku akan langsung pulang ke rumah," jawab Frea datar.
Pintu lift telah terbuka, Frea langsung masuk ke dalam diikuti Yufen dan Zico yang masih bergandengan tangan. Frea mencoba mengabaikan mereka, tapi nuraninya seolah berteriak tidak terima dengan apa yang di lakukan Zico di depan matanya, belum ada tiga puluh menit yang lalu mereka saling memadu kasih, kini mereka seolah menjadi orang yang berbeda dan tidak saling mengenal. Apa ini cara Tuhan menghukum Frea.
•
•
•
Bersambung
"Tuhanku tidak pernah pilih kasih terhadap umatnya, jika kamu memang sengaja diciptakan untukku. Maka Tuhanku akan membuka jalan lebar untukku memilikimu."
Frea.
Intinya kalau jodoh, bagaimana pun caranya pasti akan tetap bersatu.
Jangan lupa Like komen dan Vote, agar author semangat update.
Terimakasih untuk semua komentar positif dari teman-teman.
Love u All.