Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Mencintai



Boss Come here Please! Bab 115


Langit menghitam ketika sore telah menjelang, dedaunan pun tidak kuasa menahan hempasan angin yang begitu serampangan menghembuskan kekuatannya.


Frea masih saja duduk di ruang kerja menikmati awan yang berjalan perlahan di atas cakrawala. Terlintas dibenaknya delapan tahun lalu ketika Zico telah memintanya untuk menikah dengan lelaki itu.


Mungkin jika saat itu Frea mengiyakan permintaan Zico, mungkin keadaanya tidak akan seperti ini. Tentunya dia sudah bahagia karena hidup dengan orang yang ia cinta.


Frea melirik jam yang ada di pergelangan tangan kirinya, jam berwarna rose gold yang selalu menemani hari-harinya. Waktu telah menunjukan pukul enam sore.


Ia langsung menyambar tas dan melepaskan jas berwarna putih yang ia kenakan sejak tadi. Lalu ia keluar dan menyusuri koridor rumah sakit mewah itu.


Orang-orang berlalu lalang tanpa memperdulikan keberadaan mereka, hingga ia telah sampai di Instalasi Gawat Darurat untuk mengecek para dokter dan perawat sebelum pulang. Raut semua orang tampak serius dengan keriuhan dan kepanikan. Frea bertanya kepada salah satu perawat, "Ada apa ini, sus? Kenapa tiba-tiba pasien membludak secara tiba-tiba?"


Perawat yang tengah sibuk itupun berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan atasannya, "Tadi sekitar pukul lima baru saja terjadi kecelakaan karambol dekat rumah sakit kita, Dok."


"Ha ...." Frea terkejut lalu dengan cekatan ia memeriksa keadaan satu persatu pasien yang ada di ruang IGD tersebut.


Frea melihat Zico juga ada di sana, mungkin Frea lupa jika Zico adalah salah satu tim dokter bagian instalasi Gawat Darurat.


Tanpa basa-basi ia bertindak sebagai dokter profesional dan sebagai atasan.


"Dokter Zico, bagaimana? Berapa jumlah korban?"


Zico tampak terkejut ketika Frea bertanya kepadanya, matanya terbelalak seolah tak percaya dengan apa yang ia alami, sejenak ia termenung dan diam, kemudian Frea mengulangi kata-katanya, "Dokter, berapa korban?"


"Ah ... maaf. Ada total dua pasien yang meninggal, delapan kritis dan 14 luka ringan dan agak berat."


Frea terdiam sejenak, lalu menatap mata Zico dan membuat laki-laki itu sulit bernapas karena jantungnya berdegup kencang.


"Apakah ada yang bisa saya bantu, sebagai seorang dokter?" tanya Frea.


"Tidak perlu, Dok. Ada banyak tim di sini. Anda lebih baik pulang."


Frea mengangguk pelan seraya memandangi para tim melayani pasien. "Baiklah. Aku akan pergi, terimakasih semoga semua baik-baik saja," ucap Frea, tersenyum.


Wanita itu berjalan hendak keluar dari ruangan itu, tiba-tiba Zico memegang tangannya. "Frea," ucap Zico lirih.


Frea terkejut lalu berbalik badan memandangi tangan Zico yang memegang pergelangan tangannya yang putih.


Ia pun mencoba melepaskan diri.


"disini banyak orang! Kamu bisakan tidak berbuat di luar batas? Saya adalah boss kamu." Frea berucap lirih, dengan bola mata melotot ke arah Zico.


"Aku tidak perduli kamu akan memecatku atau apa, aku hanya ingin berbicara denganmu. Menjelaskan semuanya agar tidak ada kesalah pahaman antara kita." Zico memohon dengan nada suara lirih.


"Oke! Tapi tidak di sini! Jika kamu telah selesai, datang saja ke rumah, aku tunggu di sana," ujar Frea, ia ingin mendengarkan penjelasan Zico tentang pertunangan dan perasaannya.


Zico mengangguk dan melepaskan tangan Frea lalu ia pergi karena harus mengurus para pasien dan ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.


*****


Frea duduk di atas balkon apartementnya, ia memandangi pemandangan malam ibu kota yang berhiaskan lampu warna warni yang sangat indah.


Ditemani secangkir kopi ia menghirup udara malam yang dingin. Ternyata meskipun sore tadi langit tampak gelap, tetapi malam hari tidak turun hujan.


Suara bel bergema di dalam apartementnya, setelah ia memberikan pesan singkat kepada Zico dan memberi alamat rumahnya. Mungkin itu adalah laki-laki itu.


Frea berjalan pelan membuka pintu untuk memastikan siapa yang datang. Benar saja, Zico telah berada di depan pintu dengan wajah tegang, seolah sedang menantikan sesuatu.


"Kamu? Silakan masuk!" perintah Frea.


Dengan senang hati Zico masuk dan melihat sekeliling apartement Frea yang tampak sederhana. Lalu duduk di ruang tamu.


"Kenapa kamu membeli tempat yang kecil? Dengan uang yang kamu miliki, kamu bisa membeli tempat yang lebih besar."


"Kamu telah berubah, Frea."


Frea berjalan ke dapur untuk membuat minuman untuk Zico, tiba-tiba rintik hujan telah turun membasahi bumi.


"Ah ... hujan!" hardik Frea.


Zico bergeming karena pandangannya fokus kepada satu tempat, yaitu paras Frea yang cantik dengan hanya mengenakan stelan piyama panjang berwarna merah muda serta wajah tanpa riasan dan rambut dibiarkan di kucir berantakan membuat Frea tampak cantik alami.


"Kamu ingin minuman hangat atau dingin?" tanya Frea. Namun tidak ada tanggapan dari Zico yang masih tenggelam dengan betapa takjupnya dia dengan paras Frea.


"Hello ... Dokter Zico!" Frea mengulangi pertanyaan dengan nada tinggi. Suara Frea mengagetkan Zico sehingga ia tersadar dari lamunannya.


"Bagaimana, Frea?"


"Kamu mau minuman hangat atau dingin?"


"Hangat, seperti suasana hatiku dan keadaan di luar yang dingin," jawab Zico.


Frea datang membawa segelas teh hangat untuk Zico dan duduk di hadapan Zico dengan nampan yang masih sengaja di pangku olehnya.


"Sekarang apa yang mau kamu jelaskan?"


Zico menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk meredam emosi yang lama ia pendam.


"Aku mencintaimu," ucap Zico lantang.


"Aku tahu, lalu?" tanya Frea.


"Aku ingin menikahimu, hidup bersamamu, membahagiakanmu dan menjagamu," jawab Zico.


"Hei ... Dokter Zico, kamu telah bertunangan dengan adikku!"


Zico termenung mendengar kata-kata Frea. Lalu berjalan mendekati Frea. Prempuan itu kebingungan dengan tingkah Zico.


"Kita pergi untuk menikah di luar negeri!"


"Ha ... Kamu sudah tidak waras? Bisa-bisa adikku mati bunuh diri karena kamu meninggalnya dan menikah denganku."


Tiba-tiba Zico menarik wajah Frea dan membenamkan bibirnya ke atas landasan bibir Frea, iya mengesap dan mencercap bibir prempuan itu dengan serampangan dan membuat Frea berhenti sejenak lalu berontak dengan sekuat tenaga, cukup lama mereka saling mencium kemudia Zico melepaskan kecupannya. Dan membuat Frea menarik napas karena ia sedikit kekurangan oksigen karena itu.


"Kamu sudah gila, ya!" teriak Frea emosi.


"Kamu pasti sudah mendengar cerita bagaimana aku bisa bersama dengan adikmu, bukan?! Jangan pura-pura Frea!" seru Zico dengan nada tinggi. "Aku cukup frustasi, Frea. Dengan keadaanku saat ini, tolong mengertilah! Jangan bertunangan apalagi menikah dengan orang lain," tambah Zico, mulai mengeluarkan air mata, karena takut kehilangan Frea.


"Kamu egois, kamu sudah bertunangan bahkan mungkin sebentar lagi kamu akan menikah dengan Yufen, tapi kamu tidak memperbolehkan aku berkomitmen!" jelas Frea, dengan nada tak kalah tinggi.


"Tolong Frea, aku sedang mencari cara untuk lepas dari Yufen, aku ingin bersamamu, aku mencintaimu." Air mata Zico tergenang di pelupuk matanya namun tidak sampai terjatuh, lalu ia cepat-cepat mengusap air matanya.


"Sudahlah Zico. Mungkin kita tidak berjodoh. Kamu milik Yufen dan aku akan bertunangan dengan Sammy." Frea berkata lirih untuk menenangkan Zico.


Tapi Frea pun tak bisa membendung kesedihannya ketika ia harus menerima kenyataan bahwa Zico harus menikah dengan Yufen.





Bersambung


Jangan lupa like, komen dan vote.


Oke.... 🤩