Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Dipaksa Menikah



Boss Come Here Please! 129


Langit mulai petang. Sementara air belum menunjukan tanda-tanda akan surut. Zico beberapa kali menelan ludahnya sendiri, instingnya sebagai pria normal menggiringnya untuk segera menelan Frea mentah-mentah dan membuatnya menjadi milik Zico seutuhnya, tetapi nuraninya sebagai seorang manusia menuntunnya untuk tidak menyentuh gadis yang sedang tidak berdaya ini.


Zico memeluknya dengan erat, bukti dirinya sebagai seorang lelaki dewasa telah mengeras meminta untuk segera dipuaskan. Kegundahan mulai menerpa Zico, keinginannya menyentuh Frea, dan nalarnya melindungi gadis itu mulai saling beradu.


Keduanya kini terlelap dalam buaian mimpi indah masing-masing, suhu tubuh Frea telah kembali normal.


Secerca harapan datang, sebuah cahaya menyorot ke arah mereka, membuat Zico mengerjapkan mata lalu ia melihat jam yang melekat di pergelangan tangan kirinya. waktu telah menunjukan pukul 10 malam. Beberapa orang masuk ke dalam gedung itu. Mungkinkah mereka akan menolong mereka.


Tiba-tiba salah satu dari mereka berteriak.


"Woi di sini ada orang!"


Zico tampak kebingungan melihat beberapa orang itu dengan menggunakan senjata tajam seolah ingin merampok mereka berdua.


"Siapa kalian?" tanya orang itu dengan nada kasar. Mencoba mengintrogasi mereka berdua.


"Kami berdua adalah dokter yang terhanyut oleh tsunami tadi sore, Pak," jawab Zico menutupi tubuh Frea yang polos tanpa sehelai benang. Agar tidak di nikmati oleh para lelaki itu.


"Lalu kenapa anda telanjang? Apa yang anda lakukan? Apakah anda sedang berbuat hal yang tidak senonoh di kota ini?" hardik salah satu dari mereka yang kelihatannya adalah tetua daerah setempat.


"Bu-bukan ... Teman saya ini sedang terkena hypotermia. Saya hanya mencoba membantunya menghangatkan tubuhnya saja."


"Tidak bisa tetua, mereka kita temukan dalam keadaan seperti ini, takut jika kita biarkan kota kita akan ditimpa hal-hal yang tidak diinginkan, dan menjadi dampak buruk bagi kota bahkan desa kita ini!" ujar salah satu dari mereka.


"Lalu bagaimana seharusnya kita?" tanya tetua itu lagi.


"Kita nikahkan mereka malam ini!" tutur orang itu lagi.


Mendengar percakapan mereka membuat Zico bak disambar petir. Ia benar-benar kaget melihat ide gila yang dianjurkan oleh para masyarakat di desa ini.


"Me-menikah?" Zico tampak terbata, tanganya masih memeluk erat tubuh Frea yang masih tak sadarkan diri.


"Ya ... Menikah! Kalian harus menikah malam ini juga! Untuk menghalau bencana susulan di kota ini!" kata tetua tersebut.


"Tidak bisa! Teman saya sedang tidak sadarkan diri, saya tidak bisa melakukan hal itu!" tolak Zico tegas.


Tetua itu mendekat ke arah Zico, bau napas yang bercampur dengan aroma tembakau semerbak menerpa wajah Zico. Dengan berbisik ia berkata, "Kalau kalian tidak mau, hukuman cambuk 1000x di depan umum akan menanti kalian berdua!"


"Hah ... Apa?!"


"Hukuman cambuk!" seru tetua itu lagi, menegaskan hukuman yang akan ditimpakan oleh mereka berdua.


Zico menatap tubuh Frea yang lemah, ia tidak bisa membayangkan wanita yang di cintainya dipermalukan di depan umum bahkan akan merasakan sakit yang teramat sangat karena cambuk 1000x yang akan ditimpanya.


"Aku saja yang kalian cambuk, tapi bukan dia," pinta Zico setengah memelas.


"Tidak bisa! Kalian melakukan dosa berdua, jadi kalian berdua akan menanggung hukuman ini semua!" kata salah satu dari orang-orang itu.


"Tidak! Kami tidak melakukan hal apapun di sini!" Zico bersusah payah mengelak, untuk menghindari pernikahan paksa ini.


"Tidak bisa!" seru tetua itu. "Bawa mereka kerumahku, siapkan pernikahan mereka malam ini juga!" perintah tetua itu kepada para pria yang mengawalnya.


Salah satu dari mereka melempar baju dan dan selimut tebal ke arah Zico. Ia menutupkan selimut itu kepada Frea kemudian memakai baju adat setempat untuk dirinya sendiri, karena kebetulan baju itu adalah baju untuk laki-laki dewasa.


Mereka mencoba menarik tangan Frea, dengan cekatan Zico berkata, "Jangan sentuh dia! Dia tanggung jawabku. Biarkan aku yang membawanya!" ucap Zico penuh penekanan.


Mendengar perkataan Zico, para orang itu menjauhkan diri dari Frea. Dan membiarkan Zico membawa Frea dengan cara di gendong.


*****


Semua rumah terbuat dari kayu dan beratapkan jerami, rumah rumah di sana tampak seperti padepokan-padepokan kecil namun begitu rapi dan indah. Di depan rumah mereka terdapat satu obor kecil untuk menerangi jalan. Seperti rumah impian di negeri dongen.


Di tengah desa ada rumah besar yang terbuat dari kayu dan beratap jerami pula, namun berbeda dengan yang lain. Rumah itu tampak lebih mewah.


Seorang wanita menghampiri Zico dengan raut wajah cemas. "Ada apa ini, ada apa dengan istrimu, Tuan?"


"Mereka bukan suami istri, kita akan menikahkan mereka malam ini, karena mereka telah melakukan hal yang tidak senonoh di kantor desa," sahut tetua desa itu.


"Tapi sepertinya dia tidak berdaya, Suamiku. Bagaimana bisa kamu memaksa mereka menikah?!"


"Kamu mau desa kita terkena bencana lagi?!" seru tetua desa itu kepada istrinya. "Pakaikan dia pakaian. Bawa dia ke lapangan desa seakarang!" perintahnya lagi.


Zico hanya diam tidak menyanggah kata-kata tetua desa tersebut karena akan sangat percuma untuk mengelak apalagi menolak. Lagi pula ini cara yang tepat untuk memiliki Frea seutuhnya. Mereka akan dipaksa menikah. Di lain sisi ia sedih tapi hati kecilnya menjerit bahagia. Tapi bagaimana jika Frea sadar dari pingsannya kemudian ia menolak pernikahan itu.


"Semoga Frea tidak bangun, malam ini," gumam Zico dalam hati.


*****


Tidak berapa lama mereka telah sampai di lapangan desa dan di sana berkumpul semua warga desa untuk menyaksikan pernikahan mereka berdua.


Frea duduk di kursi dan di sandarkan begitu saja karena tidak sadarkan diri. Namun tiba-tiba tanpa mereka ketahui. Frea mengerjapkan matanya, menggakkan jari jemarinya. Frea telah sadar!


Matanya langsung memindai seluruh lapangan yang masih tampak buram di dalam penglihatannya.


Kemudian seperti tersengat aliran listrik ia bangun dan berdiri melihat sekeliling, di sebelahnya terlihat Zico yang tampak ikut kaget dan di depannya ada tetua desa yang memasang wajah datar.


"Zico ada apa ini?!"


"Kalian akan menikah malam ini!" sahut tetua desa itu.


"Apa?! Tidak bisa!" sanggah Frea.


"Baiklah, jika itu maumu!" ucap sang tetua desa santai.


"Frea tenanglah!" pinta Zico meredamkan hati Frea.


Frea menatap Zico dengan tatapan jijik lalu berkata, "Kamu gila, ya?! Bagaimana bisa aku tenang!"


"Kalau kamu tidak ingin menikah! Kalian akan dihukum cambuk 1000x malam ini juga di depan mereka!" kata tetua desa itu, mengancam.


"What!" seru Frea.





Bersambung


Apakah Frea mau menikah Dengan Zico ataukah ia memilih dihukum cambuk?


Beri pendapat kamu di kolom komentar, 'ya!


Jangan lupa like, komen dan Vote.


Terimakasih dan Papay.