Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Keinginan Frea



Zico menghela napas menghadapi Frea yang terus merajuk, ia sebenarnya malas melihat tingkah gadis itu. Tapi nuraninya tidak ingin mengacuhkan Frea. Entah mengapa?


"Apa yang harus aku lakukan? Agar kamu berhenti berteriak tidak jelas?" tanya Zico menatap wajah ayu gadis di depannya.


"Aku mau kamu datang ke acara ulang tahunku, nanti malam!"


Zico mengacak-acak rambutnya frustasi mengahadapi Frea yang terus merajuk.


"Baik-baik, aku akan datang. Tapi kamu harus janji setelah aku datang, kamu tidak akan mengusik hidupku di sini!"


Frea menganggukan kepala tanda setuju, gadis itu masih meringis kesakitan memandangi lecet di kakinya, seolah sedang mencari perhatian kepada Zico yang masih berdiri mematung di hadapannya.


Sementara Zico menggigit pinggir bibirnya, mengepalkan jari jemarinya, ingin rasanya ia meninggalkan Frea yang sedang duduk lemah di depan matanya, namun logikanya dia adalah seorang pria dewasa yang seharusnya tidak meninggalkan seorang gadis begitu saja. Sesekali ia memejamkan mata seraya berpikir. Sedetik kemudian ia berucap dengan nada kuat.


"Apa yang harus aku lakukan, untukmu?" tanya Zico.


Frea langsung menengadahkan kepalanya dan menatap wajah Zico yang tampak serius, lalu ia membuang muka untuk mengalihkan jika ia sebenarnya sedang sedih karena diperlakukan acuh kepada pria incaranya itu.


"Tidak perlu, aku bisa berjalan sendiri. Lebih baik kamu pergi!" kata Frea.


Namun mata hati Zico tidak tertutup, ia berjalan maju dan membopong tubuh Frea dengan mudah, Frea tampak terkejut, tapi benar. Ini yang benar-benar ia inginkan. Tanpa aba-aba dari Frea mengalungkan kedua pergelangan tangannya kepada Zico. Matanya terus memandang ke wajah Zico yang masih memasang wajah serius dan menatap kedepan.


Semua orang memandangi mereka, seolah sedang menikmati adegan Zico dan Frea yang tampak mesra. Padahal itu tidak yang seperti mereka bayangkan.


"Sampai mana aku harus membopong tubuhmu ini?" tanya Zico dengan nada penuh penekanan.


"Sampai kelas, biarkan aku duduk di sana!" perintah gadis itu dengan nada lembut.


Mendengar intonasi nada lembut dari Frea membuat Zico seketika mau tak mau menatap lekat bola mata Frea, mata mereka saling beradu, membuat jantung Zico berdetak kencang. Ia berharap Frea tidak mendengarkan nyanyian detak jantungnya yang semakin menguat itu.


"A-aku lelah, istirahat dulu!" ucap Zico terbata, ia ingin menutupi kegugupannya kepada Frea.


"Ada apa?"


Seketika Frea bertanya ketika tangan Zico meletakkan tubuh Frea di bangku koridor kampus. Yang saat itu nampak sepi.


Zico hanya diam memandang wajah Frea yang mampak kebingungan.


"Ada apa?" Frea mengulang lagi kalimatnya.


Zico masih tetap bergeming dan Frea memutuskan untuk menyerah dan memilih tidak mengulangi kata-katanya lagi.


Tiba-tiba seseorang mendekat, ia menyapa Zico dengan ramah.


"Zico, apa yang kamu lakukan di sini?"


"Ah, Yufensia. Ini kakakmu tadi terjatuh dan aku membantunya." Zico menjelaskan kepada Yufen, sementara Yufen menatap wajah Frea dengan tatapan ramah, namun Frea membalas tatapan Yufen dengan tatapan penuh kebencian.


"Aku bisa berjalan sendiri! Aku lebih baik pergi, karena aku tak ingin bernapas di udara yang sama dengan dia!" seru Frea menatap bengis wajah adiknya itu.


"Tapi, kak ...."


Belum sempat Yufen menyelesaikan kalimatnya, Frea memilih pergi dan berjalan perlahan dengan kaki tertatih menahan rasa sakitnya untuk menghindari Yufen.


Zico terus memandang tubuh Frea yang semakin menjauh dan menghilang masuk ke kelasnya.


"Ada apa dengannya?" Zico benar-benar penasaran.


"Aku sudah pernah menjelaskan padamu, bukan?" jawab Yufen dengan nada lembut.


Tidak bisa dipungkiri Zico seolah merasakan ada hal yang janggal antara hubungan kakak beradik itu Zico merasakan ada dendam di antara mereka berdua tapi entah apa itu?


******


Zico bersiap untuk menghadiri ulang Tahun frea sesuai perjanjian jika ia hadir, ia akan terbebas dari gangguan Frea.


Jelas itu adalah hari yang ia tunggu karena bisa lepas dari gangguan gadis cantik dengan mata berwarna coklat tersebut.


Dengan memakai kemeja garis dan celana jeans biru serta sepatu snikers putih favoritnya ia berdiri memandangi banyangannya di depan cermin.


"Perfecto!" ucapnya dalam hati.


Tiba-tiba ia di hadang oleh Asta yang sejak tadi memperhatikan dirinya. Asta sudah tampak cantik dengan gaun putih bergradasi dengan warna putih di bawahnya, rambut panjangnya ia biarkan tergerai dengan sedikit ikal di bagian ujung rambutnya. Benar-benar nampak anggun sekali wanita hamil itu.


"Mau kemana kamu anak muda?" tanya Asta, dengan wajah penuh kecurigaan.


Zico berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan kakaknya itu.


"Mau ke acara ulang tahun si gadis menyebalkan itu," jawab Arga dengan nada mendengkus kesal.


Asta memindai penampilan Zico dari ujung rambut hingga ke kaki. " Kamu mau ke sana dengan dandanan seperti ini?" tanya Asta.


"Iya, memang kenapa?" tanya Zico dengan wajah malas.


Asta menghela napas panjang, melihat tingkah laku Zico. "Ayo ikut aku ke kamar!" perintah Asta, sembari berjalan.


"Hei Asta! Aku ini adikmu!"


Asta menghentikan langkahnya dan berbalik arah menghampiri Zico yang masih berdiri mematung di belakangnya.


"Pikiran macam apa itu, aku hanya ingin mendandanimu dengan meminjam baju suamiku!" Asta menjewer telinga Zico dan menariknya agara mengikutinya sampai ke kamar.


"Aw ... sakit-sakit!" seru Zico memegang tangan Asta yang mencengkeram kuat telinganya.


****


Tidak lama kemudian, Zico berganti baju dengan stelan tiga potong berwaran putih hitam milik Arga, ia tampak begitu gagah dengan stelan itu.


"Jadi ukuran bajuku sama seperti Arga?" tanya Zico.


Asta menggelengkan kepala, masih memandang tubuh Zico yang tampak hampir sempurna itu.


"Sayang?" Tiba-tiba Arga datang, melihat sepasang kakak beradik yang tampak sibuk itu.


"Wah, Zico tampak pas memakai pakaianku ketika aku masih muda." Arga terus memandangi tampilan Zico dari atas ke bawah.


Asta tersenyum sumringah menatap wajah sang suami dengan tatapam manja.


"Aku sudah siap, sayang." Asta menggandeng tangan Arga.


"Hei, bakiak pororo! Ayo ikut bersama kami!" ajak Arga.


Zico dengan tegas menolak ajakan Arga dan memilih untuk naik motor matic yang di belikan Asta untuknya.


****


Pukul 20:00


Zico sampai di depan pintu gerbang rumah Frea. Ia masuk dan memarkirkan motornya, di depan pintu rumah Frea tampak dua orang pria dengan jas serba hitam meminta para undangan untuk menyerahkan secarik kertas undangan untuk di periksa apakah ada tamu penyusup. Sialnya Zico lupa membawa undangan tersebut.


Zico kebingungan, ia tidak bisa masuk menghadiri ulang tahun Frea, ia sangat kecewa dengan hal itu. Tapi mau apa lagi, dia tidak bisa masuk ke sana tanpa sebuah undangan.






Bersambung


Terimakasi telah membaca hingga bab ini


Jangan lupa like komen dan Vote agar penulis semakin bersemangat untuk update novel Boss Come here Please!


Salam


Novi Wu