Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Iklas



Boss Come Here Please! Bab 138


Cahaya temaram menembus jendela kaca apartment mereka berdua, kini mereka telah sampai di tempat peraduan setelah seharian penuh berjuang membantu para pasien untuk menyembuhkan penyakit mereka.


"Aku akan mandi," kata Frea berjalan menuju kamar mandi.


Zico memandang kosong ke arah istrinya yang berjalan perlahan dengan santai. Lalu ia berteriak dengan lantang, "Aku ikut!"


Mendengar kalimat dari mulut Zico, Frea mengerutkan alisnya, lalu berbalik badan dan berkata, "Apa yang kamu tunggu? Let's go, Honey!"


Mendapat sambutan baik dari wanita cantik itu membuat Zico bersemangat, matanya seolah memancarkan api penuh kobaran semangat ketika Frea mengizinkannya untuk mandi bersamanya.


Dengan lari terbirit pria itu menghampiri istrinya yang yang seolah tengah menggodanya.


Dering ponsel Frea tiba-tiba berdering, lagu If I Let you Go milik boyband favoritnya menggema di seluruh ruangan, memaksanya untuk berlari menyambar ponsel yang ia letakkan di atas meja.


Nama ayahnya terlihat di layar ponsel sedang memanggil ....


"Hallo ...."


"Frea, pulanglah! Adikmu mencoba melukai dirinya, Nak!" ucap ayahnya dengan suara lemah.


Frea menyentuh dahinya sendiri dengan memasang wajah khawatir, bukan Yufen yang ia khawatirkan. Tapi ayahnyalah yang menjadi beban pikirannya.


"Iya ayah. Aku akan ke sana!" Frea menutup panggilannya, lalu menyambar tas yang terletak di atas ranjang besar.


"Hei ... kamu mau kemana?" Zico khawatir melihat wajah Frea yang tampak kebingungan.


"Yufen ... dia mencoba melukai dirinya kembali."


"Lalu? Biarkan saja dia mati, tidak ada yang akan mengganggu kita lagi nanti!"


"Tapi aku khawatir dengan ayah, Zico. Mardella dan Yufen bisa melakukan apa saja, jika ia mau."


"Mereka tidak akan berani itu, ayahmu masih memegang kekuasaan penuh, Frea!"


"Aku akan tetap kesana, kamu mau ikut atau tidak terserah!" Frea berjalan keluar dengan langkah yang amat tergesa-gesa.


Sementara Zico yang berdiri mematung dengan pandangan kosong sesaat, kemudian berlari mengikuti istrinya.


***


Malam itu tampak begitu suram bagi keduanya, mereka ingin bersama tapi keadaan seolah bertolak belakang dengan keinginan mereka.


Zico tampak berkali-kali menarik napas panjang-panjang tangannya memukul-mukul stir berbentuk bulat tersebut. Ia tampak frustasi, sementara Frea memandang keadaan suaminya dengan tatapan nanar.


"Kita bisa melalui ini semua," kata Frea lirih.


"Aku harus berkata terus terang kepada ayahmu, jika kita telah menikah."


"Jangan pernah berpikir seperti itu, Zico! Karena aku akan sangat membencimu!" seru Frea.


Zico memicingkan mata menatap Frea dengan saksama, ia bingung dengan cara berpikir wanita itu, ia seolah seperti dewi yang siap mengorbankan kebahagiaan demi orang yang memusuhinya.


"Omong kosong macam apa ini, Frea! Kamu mau melihatku menikah dengan wanita yang tidak waras seperti Yufen. 'ha?!"


Air mata Frea mulai menetes membasahi kedua pipinya, mukanya berubah memerah karena itu.


"Jangan memaksaku, Zico! Akupun tidak tahu apa yang akan aku perbuat," seru Frea.


"Oh ... aku tahu. Aku paham sekarang, kamu tidak pernah benar-benar mencintaiku, bukan?!"


Frea hanya terdiam karena enggan menjawab perkataan Zico yang selalu memojokannya.


Zico memijat-mijat keningnya sendiri karena merasa pusing, lalu ia berkata dengan lantang, "Apa perlu kita mati bersama agar Mardella dan Yufen puas mendengar kematian kita?"


"Kalau begitu kita bunuh mereka!" seru Zico dengan nada begitu marah.


"Kamu mau diberi predikat sebagai penjahat?!"


"Lalu apa, yang harus kita lakukan?!" jawab Zico marah, ia berkali-kaki memukul stir mobilnya berulang-ulang. Zico tahu jika istrinya tipe orang yang keras kepala, dan tidak mau mendengar siapapun.


"Iklaskan aku, dan menikahlah dengan Yufen!"


Mendengar kalimat yang di katakan oleh Frea membuat Zico seketika menghentikan mobilnya dengan cara mengerem secara mendadak. Dan membuat Frea terkejut. "Apa kau sudah tidak waras?!"


"Ya ... aku memang tidak waras! Aku telah mencintai wanita jahat sepertimu, oke! Kalau itu maumu. Aku akan menikah dengan Yufen dan akan segera melayangkan pembatakan menikah untuk kita!"


Zico kembali tancap gas, ia melajukan mobilnya dengan sangat tinggi agar segera sampai ke rumah keluarga Arav.


Tentu saja dengan kecepatan setinggi itu membuat keduanya cepat sampai, Zico turun dari mobil dengan begitu serampangan dan masuk ke dalam rumah, sementara Frea berjalan dengan kaki gamang mencoba tegar dengan keputusan yang akan dibuatnya.


Mereka berdua masuk ke dalam kamar Yufen. Arav dan Mardella menunggui Yufen dengan tatapan mata menyedihkan. Mata Mardella langsung menyambar tubuh Frea yang baru datang, dengan kasar ia mengumpat, "Ini semua gara-gara kamu, anak tidak tahu diri! Berani-beraninya kamu berbuat jahat kepada keponakanku!"


Arav yang mendengar anaknya di maki, dengan tegas membela Frea, yang tampak kacau dan lesu. "Sudah! Bukan saatnya kalian berdebat. Yufen sedang sekarat, urat nadinya hampir putus tadi. Nyawanya akan melayang jika tidak segera tertolong."


Alih-alih diam, Mardella malah semakin menjadi-jadi. "Karena anakmu ini adalah wanita tidak tahu diri, Arav!"


"Cukup! Aku akan menikahi Yufen secepatnya!" Pungkas Zico, memotong perkataan Mardella yang begitu menyakitkan bagi dirinya.


Kalimat yang keluar dari mulut Zico membuat Mardella seketika menutup rapat mulutnya.


"Ayah harus istirahat, ayo segera masuk ke kamar, di sini ada ibu dan Zico yang akan menemani Yufen." Frea mencoba tenang setelah mendengar kalimat Zico, dan membawa ayahnya pergi.


Frea mendorong ayahnya perlahan, ia tidak kuasa menahan tangisnya yang harus memisahkan diri dan mengiklaskan orang yang paling dia cintai.


Tiba-tiba Arav berucap lirih, ia sebenarnya tahu jika anaknya itu tengah dirundung kesedihan karena masalah ini.


"Maafkan ayah yang selalu menomor duakanmu."


Frea seketika menyeka air matanya lalu berjalan ke arah depan dan berlutut di depan kursi roda ayahnya. Ia menatap ayahnya dengan saksama. Ia sungguh menyayangi pria tua ini, meskipun dulu ia selalu di curangi olehnya.


"Ayah ... Frea tetap akan menjadi anak ayah, dan mencoba yang terbaik untuk ayah. Frea tidak pernah membenci ayah, sama sekali tidak pernah terbelsit kebencian Frea untuk ayah."


Tuan Arav mengelus rambut anaknya itu, lalu meninggalkan kecupan untuk putrinya itu.





Bersambung~


Frea mengiklaskan kebahagiaan demi ayahnya, Zico merelakan Frea demi Frea sendiri.


Cinta tidak bisa bersatu itu menyakitkan, apakah kalian pernah mengalaminya?


Bab selanjutnya sebentar lagi, terimakasih atas semua dukungan para pembaca.


Like, komen dan Vote kalian adalah pembakar semangatku.


Misi kakak, mau sekalian promo anak Novel baru, judulnya MR. Mafia.


Menceritakan kisah seorang pria berdarah dingin berusia 30 tahun mencintai gadis kecil berusia 19 tahun. Ia menunjukan cintanya dengan cara berbeda, bukanya meninggalkan kesan yang baik, namun malah membuat gadis itu sangat membencinya.