Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Merindu



BOSS COME HERE PLEASE! S2 BAB 102


Frea telah sampai di apartement miliknya, tempat itu sangat sederhana hanya mememiliki balkon kecil, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan ruang makan yang menyatu serta satu kamar tidur. Sangat nyaman sekali dari pada ia harus tinggal satu atap dengan ibu tiri dan adiknya.


Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur dengan bedcover berwarna putih itu, memejamkan mata sejenak mengingat bahwa Zico telah menghianatinya dengan bertunangan dengan adiknya sendiri. Meskipun hatinya sakit, ia mencoba tetap tenang dan berpikir mungkin Zico bukan orang terbaik untuknya.


Dering ponsel Frea menggema, dia melirik ke arah tas yang ia letakkan di atas meja lampu. Lalu dengan cekatan ia merogoh tas dan mengambil ponselnya, nama ayahnya telah terpampang di layar.


"Halo, Ayah."


"Nak, nanti malam pulang kerumah sebentar. Kita adakan makan malam atas kedatanganmu." Ayah Frea berucap di balik ponselnya.


"Ah ... Frea rasa tidak perlu mengadakan seperti itu untuk Frea." Frea menjawab dengan nada sopan namun ada sedikit penekanan di sana.


"Ayah masih merindukanmu. Ayah mau malam ini keluarga kita berkumpul. Oia ... Sammy juga akan pulang, besok. Ayah rasa pertunanganmu bisa segera dilaksanakan."


Frea mengehela napas sejenak, ia mengingat jika dulu ia berjanji akan bertunangan dengan Sammy jika ia kembali. Namun masih saja dengan keinginan yang sama, Frea tak ingin bertunangan apalagi menikah dengan orang yang tidak ia cintai.


"Ah ...iya, aku lupa ayah. Frea mengerti," ujarnya kembali namun Frea tak mampu menutupi kegusaran hatinya.


Setelah menutup panggilan telepon dari ayahnya Frea kembali menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


Ia membayangkan bagaimana Zico mengemis kepadanya untuk tidak pergi dan ingin menikahinya. Namun nyatanya apa? Semua lekaki sama saja. Ayahnya pun melakukan hal yang sama terhadap ibunya.


Kini ia harus berhadapan dengan takdir, menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai.


******


Malam itu Frea tengah siap pulang kerumahnya yang sebenarnya sudah tampak asing untuknya. Namun demi keinginan sang ayah ia terpaksa harus pulang malam ini. Mungkin saja ada kejutan di sana. Ibu tirinya yang dulu membencinya akan berubah menyayanginya.


Dress navy melekat pas di tubuh langsing


Frea dengan aksen bunga di leher membuatnya terlihat lebih jenjang, ia memilih menggunakan stilleto berwarna putih dan tas dengan warna senada dengan sepatu yang ia kenakan, rambutnya yang lurus berwarna kecoklatan yang sengaja ia gerai membuat tampilannya semakin anggun dan berkelas.


Ia menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah, saat ia akan keluar sudah ada pria yang membukakan pintu untuknya, pria berpakaian serba rapi sudah berjajar di depan pintu.


"Ada apa ini?" gumamnya dalam hati.


Belum sempat ia menyelasaikan pikiran yang meliputi otaknya tiba-tiba pria berbaju hitam tadi berkaya, " Nona, silakan anda masuk. Ketua sudah menunggu anda sejak tadi. Biarkan mobil Nona saya parkirkan di tempat yang lebih aman."


Frea tersenyum ramah dan berkata, "Baiklah, terimakasih."


Frea masuk ke dalam rumah dengan langkah anggun dan cantik semerbak bau yang selama delapan tahun tidak pernah ia hirup kini untuk pertama kalinya, ia hirup kembali.


Rindu? Ya ... Ia rindu dengan masa kecilnya yang selalu bahagia bersama ayah dan ibunya.


Di ruang keluarga yang masih dengan dekorasi yang sama tampak riuh dan ramai.


Ia berhenti sejenak untuk memindai siapa saja yang ada di dalam ruangan itu.


Belum sempat ia berjalan kembali tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Sosok yang tak asing dengan tatanan rambut khas dengan bibir merah merekah tersenyum simpul kepadanya.


"Kamu sudah kembali, anak tidak tahu diri? Ah ... Meskipun kamu telah kembali, warisan ayahmu tetap ada dalam genggamanku. Kamu tidak akan bisa berkutik wahai rubah kecil!" umpat wanita itu yang tidak lain adalah ibu tiri Frea.


"Lihatlah anakku sudah kembali!" Tiba-tiba ia berseru dan merangkul pundak Frea, ia bak lakon dengan watak bermuka dua. Sungguh menggelikan.


Namun bukan Frea namanya jika ia tetap tenang dan berjalan anggun. Frea bukanlah gadis muda seperti dulu. Kini ia adalah seorang wanita matang yang akan menyerang ketika musuhnya lengah.


Mereka yang berada di dalam ruangan itu langsung menoleh.


"Frea?!" Asta berseru, rupanya keluarga Arga juga di undang di acara ini. Acara untuk menyambut kedatangan Frea.


Frea masih merasa bersalah kepada Frea ia berdiri dan memeluk Frea dengan erat. "Aku merindukanmu, Frea. Maafkan kebodohanku dulu," bisik Asta.


Frea menyambut pelukan Asta dengan memeluknya kembali dengan erat. "Masa itu telah berlalu, kak Asta. Lupakanlah."


"Ayo duduk, sembari menunggu makan malam siap," Kata ayah Frea.


"Hai ... dua malaikat ini pasti Arga dan Asta kecil, siapa nama kalian?" sapa Frea ramah.


"Ia ini anakku, Frea. Yang laki-laki bernama Rafa delapan tahun, yang perempuan bernama Stefa enam tahun," jawab Asta.


"Wah kak Asta produktif sekali, seharusnya di umurku ini aku juga sudah punya anak, bukan?" ucap Frea tersenyum menutup mulutnya dengan tangan.


"Iya setalah kamu menikah dengan Sammy, kamu juga akan memiliki anak dengannya. Ayah sudah tidak sabar menimang cucu darimu dan Yufen," ujar ayah Frea dengan menatap kedua putrinya secara bergantian.


"Ternyata anda sudah mendambakan cucu? Anggap saja anak saya sebagai cucu anda, ketua," ucap Arga dengan penuh wibawa.


Suasana cair nampak melebur menjadi satu di antara mereka, meskipun Frea merasakan hawa panas yang biasa ia rasakan jika ia berada di rumah ini.


Ayah, aku permisi ke toilet sebentar. Permisi semua. Frea berjalan menuju salah satu toilet di rumahnya yang terletak di sudut kanan rumah itu.


"Ternyata dekorasi rumah ini belum berubah," gumam Frea dalam hati.


Tiba-tiba seseoarang menarik tangannya dengan kasar dan menempelkan Frea ke dinding dengan cekatan si penarik itu menutup mulit Frea dengan tangannya.


"Zico!" teriak Frea dalam hati, ia tak mampu berteriak karena mulutnya telah terkunci.


Dengan panik Zico menutup mulutnya dengan jari terlunjuknya memberi tanda agar Frea tidak berteriak.


"Frea, Please! Jangan berteriak!" mohonnya dengan wajah memelas.


Frea mengangguk-angguk kepalanya pertanda ia akan menuruti permohonan Zico, perlahan Zico membuka tangannya perlahan.


"Ada apa?" bisik Frea.


"Aku merindukanmu." Tiba-tiba Zico memeluk tubuh Frea dengan sangat erat tanpa aba-aba sedikit pun. Sehingga membuat Frea tersentak kaget. Dengan penuh tenaga Frea melepaskan pelukan Zico dengan susah payah, lalu ....


Plak


Tamparan keras mendarat di pipi Zico sehingga meninggalkan bekas merah di sana.


"Aku pernah berkata padamu, kesempatanmu memilikiku sudah terlambat. Tapi aku kira cintamu cukup kuat, sehingga kamu akan menungguku. Tapi aku terlalu naif, karena aku percaya dengan keyakinanku!" ucap Frea menohok relung hati Zico.


"Aku terpaksa bertunangan dengannya, aku bisa menjelaskan ini semua. Kalau kamu mau aku bisa memutuskan tali pertunangan kamu," ujar laki-laki berusia 28 tahun tersebut.


"Lalu, kamu akan membuat ayahku jantungan, lalu meninggal. Itu yang kamu mau?" tanya Frea.


"Aku mohon, Frea dengarkan penjelasanku!"


Frea melepas sesuatu yang menggantung di lehernya. Kalung pemberian Zico sebagai hadiah ulang tahunnya, ia kembalikan ke tangan Zico sekarang.


"Aku kembalikan ini, seiring dengan memudarnya kepercayaanku kepadamu!"


Frea meletakkan kalung itu di telapak tangan Zico dan pergi.





Bersambung


Jangan lupa like komen dan Votenya, yah. Agar author semangat dalam menulis.


Terimakasih


Salam


Novi Wu.