
Boss Come here please 109
Mengandung bawang sembilan bulan
Ayah Frea dengan lantang mengusir darah dagingnya sendiri, entah setan apa yang merasuki pikirannya sehingga ia melalukan seperti itu membuang anak yang sejak kecil ia sayangi tanpa sedikit pun ia lukai, kini semua berubah, Frea yang dulu dicinta kini berubah menjadi sosok yang paling tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri.
Maka dari itu Frea memilih mengalah dan melanjutka Studi kedokteran diluar negeri.
Ia akan menghabiskan waktunya selama delapan tahun hingga menjadi dokter spesialis yang ayahnya mau, itupun jika ia lulus tepat waktu, dia bisa saja kembali ke negara ini lebih lama hingga sepuluh tahun mendatang.
Tapi demi menghindari pernikahan paksa dan mengulur waktu ia siap melakukan itu semua.
Frea membereskan kopernya dengan berlinang air mata meratapi penolakan Zico, ia sadar betul jika Zico tak menginginkannya sejak awal.
Semua telah siap, Frea bersiap untuk itu semua ia sudah siap terbang ke negara tujuan untuk studi hingga menjadi dokter spesialis.
Ayahnya bahkan tidak mengantar anaknya hingga ke bandara, ia membiarkan Frea berangkat ditemani beberapa bodyguard dan sopir agar Frea tidak melarikan diri.
*****
Zico menunggu kedatangan Arga dengan cemas, bahkan ia mondar mandir seolah sedang menanti sesuatu yang menegangkan.
Arga datang, dengan langkah santai namun tetap gagah dan berwibawa, Asta langsung menyambar tangan Arga dan melempar beberapa pertanyaan, " Sayang, bagaimana keadaan Frea?"
Arga merasa bingung kenapa dua kakak beradik ini terlihat cemas, ia beberapa kali melempar pandangan kepasa Asta dan Zico, kemudian berlalu.
"Sayang!" seru Asta semakin penasaran.
Arga berbalik badan lalu menghampiri istrinya yang berdiri mematung di belakangnya.
"Kenapa, sayang?" Memegang pundak istrinya, ia tak memperdulikan Zico yang dari tadi terus menatapnya dengan raut wajah seolah sedang menanti sebuah jawaban.
"Bagaimana?" tanya Asta.
"Bagaimana apanya?" Lalu Arga menghela napas panjang. " Frea akan studi di luar negeri, dia sudah berangkat ke bandara sejak tadi.
Asta terkejut menutup mulutnya sendiri, namun beda dengan Zico, ia langsung belari keluar merogoh kunci motor yang ada di saku celananya.
Arga dan Asta saling bertatapan dengan memasang wajah heran dan bertanya-tanya ada apa dengan Zico?
"Ada apa dengan si Bakiak, sayang?" tanya Arga, heran.
"Entah, Memang dia tahu jalan, ya?" Asta bertanya kembali kepada Arga.
"Kan ada GPS di ponselnya," jawab Arga santai.
*****
Semantara Zico melajukan motornya dengan kecepantan tinggi, ia sudah tak memperdulikan keselamatannya sendiri. Lalu tiba-tiba ia ingat, jika dirinya tidak tahu arah bandara yang dimaksud, kemudian Zico membuka ponsel dan menyalakan.
Peta ponselnya menunjukan jika bandara bisa ditempu selama lima belas menit ke selatan, ia langsung memacu motornya menuju bandara.
Dadanya berdegup kencang, otaknya kacau, ketika menerima kenyataan jika Frea akan pergi jauh darinya, ia masih bingung dengan perasaannya sendiri.
Dia membelah jalanan beraspal itu dengan serampangan dan tidak memperdulikan rambu lalu lintas.
Cukup lama ia harus bertarung dengan kemacetan hingga akhirnya ia sampai di bandara. Zico memarkirkan motornya di sembarang tempat.
Ia berlari masuk mencari keberadaan Frea. Tapi ia tak menemukan gadis itu sama sekali, Zico hampir saja menyerah, iya meringis seolah menahan sakit napasnya naik turun tangannya memegang dengkul kaki karena lelah berlari.
Lalu ia melanjutkan pemcarian hingga.
Ia mencari terus hingga ia melihat Frea di tempat boarding, Frea tengah bersiap masuk ke pesawat, tidak menunggu waktu lama lagi Zico berlari kencang dan berteriak.
"Frea!" Berteriak sekencang-kencangnya membuat semua orang menengok ke arah pemuda itu. Tidak terkecuali Frea. Ia langsung menoleh ke sumber suara. Ia terkejut melihat Zico yang berlari ke arahnya.
Zico memegang pergelangan tangan Frea, beberapa petugas bandara sudah memamta Zico, mengira ia adalah seorang perusuh.
"Frea kembalilah! Aku akan menikahimu," ucap Zico, napasnya tersengal ia sembari mengatur napas karena lelah berlari.
"Aku akan pergi dan pasti aku juga akan kembali suatu saat nanti. Tapi ingat cintaku tidak akan berubah untukmu dan maaf kesempatanmu memilikiku sudah terlambat. Aku pamit!"
"Frea, please! Jangan tinggalkan aku!" ucap Zico dengan nada memohon.
"Maaf, aku harus pergi."
"Jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu!" seru Zico, dengan nada memaksa.
"Cinta?" Frea tersenyum sinis. "Di mana kamu saat aku membutuhkanmu?! Di mana kamu ketika aku ingin berada di sampingmu?! Kamu menolak kehadiranku dengan seenaknya. Lalu kini, kamu ingin aku ada untukmu?! Maaf Zico, ini tidak adil untukku. Aku pergi, semoga cita-citamu tercapai dan sukses selalu." Frea melepaskan tangan Zico yang mencengkeram pergelangan tangannya lalu ia pergi untuk masuk ke dalam pesawat.
Zico mengacak-acak rambutnya karena frustasi, ia tak mampu menggapai Frea. Kesempatannya memiliki gadis itu telah sirna, ini benar-benar kesalahannya sendiri. Ia yang berbuat kini ia harus menelan pil kekecewaan.
Iya duduk di kursi tunggu deket jendela yang langsung mengarah ke landasan terbang, ia berharap bisa melihat pesawat yang Frea tumbangi take off.
Selamat tinggal Frea semoga hidupmu menyenangkan tanpa Zico.
•
•
•
Bersambung.
******
Aku memilih diam karena takut mengucap kata perpisahan
Aku memilih diam karena terlalu takut akan kehilangan
Aku memilih diam hanya agar kau tetap tenang.
Walau di hati tak mampu menahan ingin mencurahkan isi pikiran
Tentang aku yang selalu harus mengerti dan berujung sakit hati
Tak terhitung berapa kali air mata telah terjatuh
Memaksakan senyuman yang sebenarnya tak ingin aku keluarkan
Canda dan tawa yang seakan semu
Obrolan yang mulai tak nyambung
Ya, benar aku bertahan karena tak sanggup kehilangan
Aku terlalu pengecut untuk itu
Aku hanya ingin kamu yang dulu.
Rose water
4 Oktober 2020
****
Hallo terimakasih sudah membaca, oia ini bab yang menguras emosi sekali menurut aku, karena aku juga ikut hanyut dan air mataku saat menulis juga tak mampu terbendung.
Semoga kakak-kakak suka.
Jangan lupa like komen dan vote
Salam hangat
Novi Wu