Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Garden Party



Boss Come here Please! 125


waktu menunjukan pukul sembilan pagi, dan suasana rumah sakit saat itu cukup sepi apalagi ruangan direktur ada di ujung koridor di bagian paling atas rumah sakit, dilengkapi pintu besar berwara coklat bertuliskan papan nama direktur utama.


Frea tanpa sadar menggigit pinggir bibirnya secara kasar ia terus berontak mencoba melepaskan diri dari Zico yang seolah sedang dirasuki iblis berhawa membunuh.


"Apa yang akan kamu lakukan?! Mencoba memp*rkosaku lagi, 'ha?!" hardik Frea penuh emosi.


"Tidak, aku akan berkata ...." Ucapan Zico terputus, ia berkata dengan suara lirih dan bibir hampir menempel di leher Frea.


"Berkata apa?!" seru Frea lagi.


"Aku akan melepaskanmu! Melupakanmu!" tutur Zico menghempaskan cengkeraman tangan Frea yang sengaja ia paku ke tembok.


Frea sedikit terkejut, di dalam relung hatinya seolah ada sesuatu yang hilang, namun tidak bisa diungkapkan dengan kata demi kata. Ia terus menguatkan tekat dan berkata dengan lantang.


"Bagus, memang seharusnya begitu! Kamu mengiklaskanku bersama Sammy. Kamu dan aku harus sama-sama mencintai orang yang mencintai kita," ujar Frea.


Meskipun Frea tahu jika Yufen tidak benar-benar mencintainya, ia memakai Zico hanya untuk alat balas dendamnya kepada Frea.


"Ya ... sejak awal harusnya aku begitu! Bukan secara impulsif menginginkan wanita yang tidak mau memperjuangkan cintanya! Maaf Frea, kita sampai di sini. Aku akan mencintai Yufen dengan sepenuh hatiku. Dan sampai ketemu nanti malam di acara pertunanganmu!" tutur Zico lalu pergi keluar dari ruangan Frea.


Napas Frea seolah berhenti ketika mendengar penuturan Zico, kakinya lemas ia mencoba berjalan ke arah kursi untuk menenangkan diri. Tak terasa bulir air matanya menetes, dengan tangannya beberapa kali ia mengusap air matanya namun tetap saja secara liar air terus keluar dari mata inda Frea.


"Ini yang kamu inginkan, Frea. Kenapa kamu menangis!" ucapnya lirih masih terus mengusap air matanya.


Dia menarik napasnya panjang-panjang, mendingakkan kepala demi menghentikan air mata dan mencoba duduk tegak.


"Frea, kamu bisa!" Ia terus menguatkan tekatnya demi untuk menepati janjinya bertunangan dan menikah dengan Sammy.


Ia berjalan menuju meja kerja untuk mengerjakan pekerjaannya.


******


Senja telah tiba, matahari yang sejak pagi telah mengingkir untuk beristirahat sejenak untuk menyinari bumi, esok hari. Bulan berganti dan bintang menghiasi langit gelap kota di mana Frea lagir dan di besarkan.


Frea menoleh ke arah jam dinding di ujung kanan tembok kantornya, lalu ia melihat ke arah jendela dan bergumam dalam hati.


"Ah ... hari sudah beranjak petang, lebih baik aku segera pulang."


Frea bersiap mengambar tas dan kardigan yang ia letakkan di atas kursi tadi. Lalu berjalan keluar. Lagi-lagi ia bertemu sepasang dokter yang sedang memadu kasih di hadapannya.


Yufen tampak bergelayut mesra di lengan Zico, sementara Zico yang biasanya dingin dengan Yufen, kini bersikap berbeda ia seolah ingin menunjukan kepada Frea bahwa dia ingin mulai mencintai tunangannya.


Frea bergeming mencoba tak memperdulikan mereka lalu masuk ke dalam lift dan segera menutup lift tersebut guna menghindar dari sepasang kekasih itu.


Frea menghela napas ketika ia sudah tak berada di dekat Zico dan Yufen. Sesekali ia memandang jam yang ada di pergelangan tangan kirinya, waktu telah menunjukan pukul enam sore. Ia harus bergegas pulang ke rumah ayahnya untuk bersiap.


*****


Dengan menggunakan taksi ia telah sampai di rumah ayahnya, ia disambut oleh ibu tirinya yang sudah berdandan rapi untuk menyambut para tamu undangan.


"Dari mana saja kamu?!" bentak ibu tiri Frea.


"Tentu saja aku aku selesei bekerja, Bu. Adakah yang salah dengan tindakanku?" jawab Frea santai.


Ibu tiri Frea memandang anaknya dengan tatapan sinis. "Lekas mandi dan besiap, sebentar lagi semua tamu akan datang, aku tidak ingin kamu mempermalukan ayahmu dan perusahaan!" seru ibu tiri Frea, dengan mengibaskan kipas ke wajahnya sendiri seolah ia sedang kegerahan karena melihat ulah Frea.


Frea berjalan menuju kamar yang dulu ia tiduri. Ia sudah bertahun-tahun tidak naik ke lantai dua, terakhir kemari dia hanya sempat sampai di ruang makan dan ruang keluarga. Ia sangat merindukan kamarnya.


Setalah sampai di ujung lorong lantai dua pintu berwarna merah muda masih menjadi pintuk kamar Frea dengan bertuliskan papan berwarna ungu muda 'Frea' ya ... tulisa ini benar-benar tidak berubah, ia semakin penasaran dan masuk ke dalam ruangan itu.


Semua dekorasi tidak berubah dan tetap sama keadaanya ketika delapan tahun yang lalu Frea terusir dari rumah ini. Foto ibunya masih ada di meja lampu tidur, serta foto besar keluarga kecilnya yang berisi Frea, ayah dan ibunya. Frea sangat terharu akan itu.


Tok tok tok ....


"Nona?" sapa seseorang di balik pintu yang masih tertutup itu.


"Iya siapa?" jawab Frea sambil mengusap air matanya, lagi.


"Saya Greis assistent rumah tangga di rumah ini, saya mengantarkan sesuatu kiriman dari tuan muda Sammy," jawabnya ramah.


"Ah ... Iya sebentar." Frea berjalan ke arah pintu itu dan membukanya, diserahkannya kotak berwana putih berpita merah muda itu. Dengan sabar Frea meraihnya dan berkata, " Terimakasih, Greis."


"Sama-sama Nona, sebaiknya anda segera bersiap karena nyonya sudah marah-marah di bawah sana. Ini pesan dari Tuan Arav, Nona."


"Oke! Baiklah aku bersiap."


******


Setelah sekian lama ketika semua tamu telah tiba dan tak terkecuali Sammy beserta keluarka. Zico pun hadir tak ketinggalan Arga dan Asta beserta putra putrinya telah sampai.


perta dengan tema garden night itu tampak indah nuansa hijau dan putih menjadi tema acara malam itu. Kolam renang berhiasakan lilin-lilin kecil, pintu masuk berbentuk tangkai berhiaskan daun dan bunga membentuk lengkungan, serta meja-meja bulat beserta kursi sebagai tempat duduk para tamu, alunan instrumen musik mengalir lembut di telinga para tamu.


Sammy sudah tidak sabar menunggu Frea, ia ingin tahu bagaimana penampilan Frea hari ini.


Tak berapa lama Frea muncul dengan gaun putih panjang dengan tatanan rambut ikal dan mahkota berbentuk ranting bunga yang indah menambah keanggunan direktur utama rumah sakit tersebut.


Semua mata terpana melihat kecantikkan Frea seolah seperti lakon dalam drama yang melompat di dunia nyata, wangi cherry blossom yang selalu menemani langkahnya membuat semua tamu tak berkedip memandang Frea.


Sammy menghampiri Frea, mengulurkan tanganya agar Frea menggapai tangan Sammy dan mereka menuju ke atas panggung untuk memulai acara pertunangan sepasang kekasih ini.


Seorang host memberi aba-aba kepada mereka berdua.


"Wah ... benar-benar pasangan yang cantik dan tampan sungguh sempurna," puji host berjenis kelamin laki-laki itu.


Frea dan Sammy hanya tersenyum dan berhadapan mereka saling memandang satu sama lain.


"Apakah ada yang tidak setuju dengan pasangan sempurna ini?" tanya Host itu kepada para tamu undangan.


Tiba-tiba


"Aku ...."





Bersambung


Menurut kamu siapa sih, yang tidak setuju?


a. Zico


b. Kekasih gelap Sammy


Jawab di kolom komentar, yak!


Jangan lupa Like, Komen dan Vote.


Terimakasih dan Papay....