Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Film Horor




Arga kembali membopong tubuhku yang sebenarnya sudah bisa berjalan sendiri, dan melakukan apapun sendiri, namun entah mengapa ia selalu memperlakukan aku seperti orang lumpuh akhir-akhir ini.


Ku kalungkan tangan ku ke tengkuk lehernya, langkahnya tegap namun setengan air, raut wajahnya seketika serius melukiskan pesona entah apa itu, namun sejujurnya aku mulai menyukainya, seolah ini adalah perintah di alam bawah sadarku, agar aku jatuh hati pada laki-laki berusia matang ini.


"Cukup!, kamu tak perlu terus menerus menatap wajahku",Ia melirikkan matanya melihat aku yang masih terpersona dengan jiwa kelaki-lakiannya.


"Siapa yang menatap wajahmu, lagi pula untuk apa aku melakukannya?", aku menyanggah kalimat yang di lontarkan Arga baru saja.


Ia tampak menipiskan mata, seolah sedang kesal padaku, namun sebenarnya ia benar-benar tak bisa meluapkan kekesalannya kali ini.


Tak berselang Arga meletakkan ku di atas kasur, dengan secepat kilat memaku tangannya di antara dua pahaku seraya menundukan wajahnya agar sejajar dengan wajahku.


"Kita sedang menikmati bulan madu kita, namun hanya bisa dirumah karena kamu sedang sakit, lalu apa yang kamu ingin lakukan untuk membunuh kebosanan mu?", Ucap Arga.


"Apakah kamu bosan?".


"Tak,aku tak pernah bosan jika semua itu aku lakukan hanya dengan mu", lagi-lagi ia melesatkan kalimat gombal yang sedikit membuat ku mual.


"Jangan berbicara seperti itu!".


"Kenapa?",Tanya Arga penasaran.


"Aku sedikit mual mendengar kalimatmu baru saja",ucapku tanpa dosa.


Karena mendengar kalimat ejekan dariku Arga serta merta mendorong tubuh ku sehingga membuat ku terjatuh tertidur di atas kasur,kemudian dengan cekatan ia menindih tubuhku dengan kedua siku memaku di antara kepalaku.


Arga mendekatkan hidungnya ke arah hidungku lalu menciptakan gesekan lembut di antara hidung kami.


"Kamu sudah mulai pandai menggoda suamimu ya, Asta?",Ucap Arga lirih.


Aku bisa merasakan hembusan hangat nafasnya samar-samar menerpa hidungku "jika kamu hari ini tidak sakit, mungkin aku sudah memakan mu, karena terlalu gemas",Ucap Arga dengan hidung masih bergerak ke arah pelipis lalu turun ke pipiku.


"Baiklah, aku tak akan menggodamu lagi. Tapi aku mohon jangan seperti ini, aku benar-benar tak nyaman".


"Posisi mana yang bisa membuat mu nyaman, nyonya Arga?", benar-benar kalimat pertanyaan yang sangat sulit untuk ku jawab.


Ehm....


Aku berpikir keras untuk merangkai kata yang tepat untuk menjawab kalimat pertanyaan konyolnya.


"Film?!, film apa yang ingin kamu tonton", ucapnya penasaran.


"Kamu punya cd apa saja,aku akan memilihnya sendiri".


Arga tertawa terbahak-bahak mendengar kata cd yang terucap dari bibir ku "kamu hidup di jaman apa, sampai masih menonton film lewat cd", cibir nya.


"Lalu apa?".


"Streaming film, kamu bisa memilih genre film apapun tapi no romance drama,ok", ucapnya, menegaskan bahwa ia tak menyukai drama romantis.


Arga mengambil remot televisi lalu memilah-milah mana yang akan aku pilih "kamu suka genre film apa?", ucapnya dengan masih sibuk dengan remot televisi di tangannya.


"Horor", aku menjawab singkat, ku ingat genre ini adalah yang terfavorit dalam hidupku,dengan menonton film horor dapat memacu adrenalin seseorang, sensasi tegang dan kaget yang membuatku sangat menikmati film horor.


Tiba-tiba Arga mengeluarkan senyuman menyeringai yang amat sangat menakutkan untuk ku "kamu mau ini, jangan menyesal ya, nanti".


Arga mengklik pilihan judul The Nun,


Cerita The Nun berkisar pada upaya pengungkapan misteri kematian the Demon Nun Valak. Pengungkapan ini juga yang menyasar pada skandal berikutnya: rahasia-rahasia biara yang selama ini disembunyikan.


Aku mengerutkan dahi karena keheranan mendengar ungkapan Arga, namun aku tetap bergeming melihat ke arah televisi untuk mulai menyaksikan film tersebut.


"Jika kamu takut, bahu dan dadaku siap menahan ketakutan mu,Asta",Kata Arga penuh percaya diri.


Aku hanya melirik ke arahnya, "apakah kamu suka menonton film, Arga?".


"Pernah, sesekali aku pernah menemani Wina untuk nonton film horor kesukaannya".


"Wina?!, siapa dia?", aku mengerutkan dahi karena heran.


Arga tampak terbata mendengar kalimat ku, lalu dengan seribu jurus ia mampu mengalihkan pertanyaan ku, "lihatlah, filmnya sudah mulai!", seru Arga membuyarkan pertanyaan ku, sehingga perhatian ku langsung tertuju pada arah televisi.


Sesaat setelah film menegangkan itu di mulai, hal-hal menakutkan dan menegangkan itu muncul, sehingga menciptakan atmosfir menegangkan di dalam kamar kami malam itu.


Namun adegan demi adegan sungguh sama sekali tak membuat ku takut, tapi berbanding terbalik dengan Arga, sesekali ia menjerit ketakutan, begelayut pada pundakku, memelukku dengan erat bahkan ia mencari kesempatan dengan membenamkan wajahnya ke arah dadaku, sehingga benar-benar membuat ku amat kesal.


"laki-laki bertubuh kekar, namun takut dengan film setan",aku berdengus dalam hati sembari melihat Arga dengan kehebohannya sendiri.