
Beberapa makanan sudah tersaji di depan meja, bau wangi semerbak meliputi dapur kami. Cacing-cacing di perutku sudah mulai meronta sehingga menimbulkan suara nyaring di perutku. Arga tersenyum kecil mendengar raungan perutku, seketika itu pula aku merasa malu.
"Kamu sedang menahan lapar, istri kecilku?" tanya Arga penuh rasa ingin tau, tangannya mendarat di kepalaku dan mengelus lembut rambut ku. "Makan yang banyak! agar kamu segera pulih," imbuhnya lagi.
Aku hanya terdiam tak menjawab perkataan Arga, ia benar-benar memperlakukan ku bak ratu di dalam rumah ini.
Ketika kami asyik dan terhanyut dalam santapan kami. Tiba-tiba suara bel pintu berbunyi, mau tidak mau Arga bergegas dan pergi meninggalkan meja makan menuju pintu untuk membukanya. Dan aku lebih memilih tak acuh dengan apa yang dilakukan laki-laki itu.
"Hai Asta," sapaan suara wanita seolah membuyarkan sarapan ku. Wanita bernama Cherryl pagi-pagi buta sudah menapakkan kakinya kemari. Entah apa yang akan dia lakukan.
"Eh, hai," sahutku singkat lalu melanjutkan sarapan ku seolah tak perduli dengannya.
"Wah, kamu sedang sarapan ya? pasti semua ini Arga yang masak untuk mu?" ujar Cherryl seolah mengerti apa kebiasaan Arga setiap pagi.
"Sebenarnya apa hubungan wanita ini dengan Arga?" aku bertanya-tanya dalam hati.
"Ada apa kamu kemari?" Arga memotong pembicaraan Cherryl.
"Ada berkas penting yang harus kamu tanda tangani," sahut wanita itu dengan nada manja, seolah suaranya dapat bergelayut didalam pelukan Arga.
"Bukankah ayahku sedang berada di kantor, sekarang?" tanya Arga sedikit heran sembari meraih lembaran-lembaran kertas yang terbungkus map berwarna hijau yang sedari tadi ada di genggaman Cherryl.
"Iya, tapi klien minta hanya kamu yang bisa tanda tangani ini, karena kamu pemilik tander ini," ucap Cherryl masih dengan nada manja.
"Oke, sebentar aku tanda tangani ini dulu," ucap Arga sembari membubuhkan tinta hitam di atas kertas berwarna putih tersebut.
Kemudian Arga menyerahkan setumpuk kertas itu kembali kepada Cherryl, aku sesekali melirik ke arah mereka, mengamati pergerakan mereka dan memindainya.
Arga tampak biasa-biasa saja menanggapi wanita ini tapi entah kenapa wanita ini begitu manja dengan Arga.
"Apakah kamu sudah sarapan?" tanya Arga kepada Cherryl.
"Belum, aku belum sempat sarapan," jawab Cherryl.
"Makanlah bersama kami!" titah suamiku, jujur saja aku merasa tak nyaman dengan kalimat Arga yang terakhir, sehingga membuat selera makan ku musnah.
Aku sengaja membanting sendok menciptakan suara agar Arga mengalihkan pandangannya padaku.
"Aku sudah selesai, aku ingin menonton televisi," aku beranjak dari meja makan dan menuju ke meja televisi untuk mengalihkan pikiran ku agar tak tertuju kepada mereka berdua.
Mata Arga terus memandang ke arahku mengikuti tubuhku yang sedang berjalan dan duduk di depan meja televisi, namun sedetik kemudian ia kembali makan dan berbincang mesra dengan Cherryl, sehingga membuat hati ku menjadi panas.
Aku berfikir bagaimana cara agar Cherryl ini segera pergi dari sini dan berhenti menggoda Arga. Entah mengapa perasaan aneh itu muncul, seolah-olah aku sedang cemburu dengan Arga.
"Aw....." aku memekik kesakitan seraya memegangi kepalaku, meminta perhatian dari Arga. Dengan cekatan mata Arga langsung tertuju padaku, dan secepat kilat berlari menghampiri ku.
"Ada apa, sayang? dimana yang terasa sakit?" ucap Arga penuh kekhawatiran.
Aku terus memegangi kepalaku, dengan spontan Arga memegang kepalaku sedangkan lengannya menahan tengkuk ku yang seolah lemas dan terkulai.
"Ini yang sakit."
Cherryl menghampiriku dengan tatapan sinis ia menatapku. "Arga aku kembali ke kantor saja, sepertinya Istri mu sedang membutuhkan pertolongan."
"Ya ... lebih baik kamu segera kembali ke kantor!" jawab Arga namun tetap tak melepaskan pandangannya padaku.
Cherryl pergi menjauh, dan hilang di balik pintu.
"Sudah, aku tak apa-apa," ucapku seolah kesakitan ku sembuh dengan tiba-tiba.
Arga tersenyum kecut melihat wajahku yang seolah tak berdosa. "Apakah kamu sedang mempermainkan laki-laki mu ini, Asta?" desak Arga bertanya padaku.
"Apa? tadi memang kepalaku sakit," ujarku dan kembali melanjutkan menonton televisi.
Tiba-tiba Arga meraih tubuhku seraya mengangkat tubuhku dan kemudian memangku diriku sehingga membuat kami saling berhadapan.
Arga menempelkan hidungnya ke arah hidungku sesekali ia meninggalkan gesekan lembut di sana. napasnya yang hangat menerpa wajahku.
"Kamu sedang mempermainkan suami mu bukan? aku akan tunjukan bagaimana cara menggoda pasangan," ancam Arga.
Arga mendekatkan bibirnya keleherku, menghembuskan udara dari mulutnya sehingga menerpa leherku dan itu cukup membuatku merasa geli dan wajahku memerah.
"Geli?" tanya Arga menggoda ku.
Aku bergeming dan memilih menahan nafas dan memejamkan mata ku.
Kemudian dengan serampangan Arga mencercap leherku dan meninggalkan tanda merah di sana.
"Kamu ini !" sebelum aku menyelesaikan kalimat ku tiba-tiba Arga mencium bibirku dengan sembarangan, sehingga membuat nafasku sesak.
"Ingin ku teriak!......"