
Boss Come here Please! 127
Air mata tak mampu terbendung lagi ketika Frea melihat laki-laki yang berumur lebih dari setengah abad itu telah lunglai tak berdaya di atas tempat tidur. Pria tua yang selalu menyalahkannya ketika ia salah bahkan ketika ia tak melakukan kesalahan apapun.
Tetapi hanya dia satu-satunya yang ia punya di dunia ini, bagaimana pun caranya ia harus tetap hidup agar terus bisa menemani Frea dan membongkar kedok ibu dan adiknya.
Frea mengusap air matanya sendiri yang seolah terus merangsek keluar dari celah mata dan membanjiri pipi mulusnya.
"Siapa yang akan menemaniku, sekarang?" ucap Frea dalam hati.
"Dokter Frea ada di sini?" tanya salah satu dokter laki-laki yang menangani ayahnya.
Frea mencoba tegar dan menjawab pertanyaan sang dokter itu. "Iya, dok. Saya ingin melihat keadaan ayah saya."
"Syukurlah, ketua sudah dalam keadaan stabil. Mohon untuk tidak memberikan beliau beban pikiran yang terlalu berat."
Frea mengangguk dan tersenyum. "Tentu saja dokter dan terimakasih."
"Sudah menjadi tugas saya sebagai dokter untuk menyelamatkan pasien."
Semua perawat dan dokter keluar setelah menyelesaikan perawatan kepada tuan Arav. Seketika itu pula ibu tiri Frea masuk lalu mendorong tubuh Frea hingga sedikit bergeser dari posisinya berdiri.
"Puas kamu melakukan hal ini kepada suamiku?!" dengusnya.
Frea menghela napas panjang. "Maaf nyonya Mardela! Coba pikir, siapa yang mendalangi pertunangan ini? Siapa yang telah memaksaku sejak dulu untuk di jodohkan dengan anak dari keluarga Richard? Anda bukan?!"
"Anak kurang ajar!" Mardela mengayunkan tangannya ke arah pipi Frea namun dengan cekatan Frea menangkap dan mencengkeram kuat tangan ibunya itu.
"Lepaskan!" dengus Mardela mencoba meronta.
"Ingat, nyonya Mardela! Selagi aku masih hidup. Anda tidak akan mendapatkan apapun. Dan ingat juga bahwa aku buka Frea yang dulu!" tutur Frea menghempaskan tangan ibu tirinya sehingga ia sedikit terpelanting.
Hal itu membuat Maredela naik pitam menatap Frea dengan tatapan benci seolah ingin melahap Frea mentah-mentah.
****
"Dunia dalam berita, telah terjadi bencana gempa dengan kekuatan 6,9 skala richter dengan di ikuti tsunami dengan ketinggian tujuh meter melanda kota Apache. Banyak korban bergelimpangan, diperkirakan korban telah mencapai 1694 jiwa dan ada 499 jiwa yang hilang."
Berita gempa di televisi membuat negara ini gempar, semua orang membutuhkan tim medis untuk membantu korban. Kota itu hanyalah kota kecil yang membutuhkan banyak bantuan. Mau tidak mau rumah sakit Healty Life harus mengulurkan tangan menerjunkan tim medis di sana.
Mereka memerlukan dokter bedah jantung dan syaraf untuk melakukan tugas kemanusiaan di kota itu.
Frea yang mendengar berita itu sedikit bingung, dilain sisi ia harus pergi membantu sesama tapi dia juga harus mengurus rumah sakit dan ayahnya juga terbaring lemah meskipun kondisinya stabil.
Tuan Arav yang beberapa hari ini di tunggui oleh Frea kini telah membaik, ia merasa bersyukur memiliki anak berbakti seperti Frea.
"Pergilah, Nak! Bantulah sesamamu! Inilah tugasmu sebagai dokter. Biarkan rumah sakit ini ayah yang urus sementara waktu dan ayah bisa menjaga diri ayah sendiri. Dokter di rumah sakit ini adalah para lulusan terbaik di bidangnya. Percayalah!" tutur ayah Frea dengan suara berat.
"Ta-tapi Ayah. Frea tidak bisa ...."
"Tidak, Nak! Kamu pasti bisa," ucap tuan Arav.
Frea membulatkan tekatnya untuk ikut serta di perbantukan di kota Apache sebagai dokter bedah syaraf di sana. Pasti banyak orang yang terluka di sana akibat gempa dan tsunami.
Kini Frea telah bersiap menuju landasan halipad yang ada di lantai paling atas gedung rumah sakit. Frea berjalan dengan beberapa perawat yang mengawalnya. Tiba-tiba ia telah dikagetkan dengan kehadiran Yufeb dan Zico yang juga berada di sana.
"Mengapa mereka juga ikut?" guman Frea dalam hati, namun ia tetap diam tak memperdulikan kehadiran mereka.
"Sayang, baik-baik di sana! Ingat ada hati yang harus kamu jaga dan setia menunggumu di sini!" ucap Yufen dengan suara yang sengaja di tinggikan agar Frea ikut mendengar kata-katanya.
Zico masuk ke dalam halikopter dan seseorang petugas menutup pintu, suara gemuruh yang sangat berisik memekakan telinga membuat mereka harus menggunakan headsead demi melindungi gendang telinga mereka.
****
Membutuhkan waktu satu jam perjalanan untuk sampai di kota Apache. Sesampainya di sana mereka di arahkan menuju suatu dataran tinggi yang di peruntukan para pengungsi. Pemerintah setempat mendirikan tenda untuk menampung para korban yang ada di sana.
Suasana di sana sunggu mengerikan, wajah-wajah putus asa mewarnai masyarakat setempat. Membuat hati Frea terenyuh dan ingin menangis.
"Jangan menangis, ada aku di sini!" ucap Zico mengagetkan lamunan Frea. Dokter cantik itu diam bergeming mendengar celotehan partner kerjanya itu.
"Ada berapa dokter dan perawat dari rumah sakit kita, dokter Zico?" tanya Frea penuh wibawa.
"Ada tujuh dokter dan empat belas perawat lagi yang akan menyusul kita kemari dengan helikopter yang lainnya, Boss!" ucap Zico, dengan nada menggoda.
"Ingat dokter, jaga attitudemu. Saya adalah atasanmu!"
Wanita itu berjalan melihat-lihat sekitar untuk memeriksa keadaan para pengungsi. Tiba-tiba seorang wanita dengan menggendong seorang bayi menghampiri mereka. "Dokter cantik, bantu bayi saya. Dia terkena demam sejak pagi, saya sudah membawa ke petugas medis, mereka berkata kami harus menunggu mereka menangani orang yang lebih parah terlebih dahulu."
Frea memandang wanita itu dengan tatapan iba, lalu mengecek dengan menyentuh kening bayi ibu itu. Yang ia rasakan sangat panas, mungkin sudah mencapai 39 derajat celicus.
"Letakkan anak ibu ditempat tidur, saya akan memerikasanya." Frea segera bergegas mengikuti wanita itu dan Zico juga mengekor di belakang Frea.
Frea langsung mengeluarkan stetoskopnya guna memeriksa keadaan bayi itu.
"Apakah anak ibu terkena air yang cukup lama?" tanya Frea.
"Ya ... ia cukup lama terombang ambing di atas gendongan saya ketika tsunami datang menerjang rumah kami."
Frea yang mendengar hal itu sangat terkejut, bagaimana bisa bayi sekecil ini bertahan di dalam air, dan syukurlah ia telah selamat. Tanpa terasa Frea meneteskan air mata ketika memeriksa bayi mungil yang umurnya baru sekitar empat bulan itu.
"Jangan menangis Frea!" ucap Zico lirih, laki-laki itu mengeluarkan beberapa obat di dalam tas besarnya, yang sengaja ia bawa dari rumah sakit itu.
"Nyonya, minumkan obat ini pada bayi anda, jika besok panasnya tidak turun bawalah kepada kami, kami ada di tenda khusus para medis," imbuh Zico.
"Baiklah, terimakasih dokter tampan dan cantik, kalian begitu baik dengan bayi saya," tutur wanita muda itu.
"Itu adalah tugas kami sebagai dokter," sahut Frea ramah.
"Apakah kalian pasangan suami istri? Kalian tampak serasi sekali."
"Kami? Bukan." Frea mengelak dengan cepat dan menggelengkan kepala.
•
•
•
Bersambung
Apakah yang akan terjadi dengan mereka di kota itu? Yuk beri aku saran dikolom komentar!
Jangan lupa, Like, komen dan Vote yah, Teman-teman!💟
Terimakasih dan Papay.