Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Terlalu Percaya Diri



Selamat datang di kehaluan tanpa batas bersama Novi Wu.


Woh ... Maap suraap~


Kadang Jon Thor suka telat up, ya.


Terimakasih kepada yang masih setia dengan kisah Arga dan Asta.



Wajah Cherryl terlihat merah padam ketika mendengar kalimat ejekan dari Asta. Dia berharap jika Arga akan membelanya, namun pada kenyataanya Arga hanya diam tanpa melakukan upaya apapun untuknya.


"Baiklah, karena ini sudah malam. Aku pamit terlebih dahulu. Selamat istirahat untuk kalian," ujar Cherryl menahan amarah, tangannya mengepal seolah ia sedang memendam amarah yang siap untuk dikeluarkan.


"Silakan," jawab Arga singkat.


Rupanya Cherryl amat sangat kecewa bahwa laki-laki yang sejak dulu ia cintai sudah berubah karena seorang wanita. Bahkan yang lebih menyakitkan ia tak menahannya pergi.


"Hei ... Cherryl tehnya jangan lupa diminum, aku membuatnya khusus untukmu. Tenang saja ini tidak aku tambahkan racun, kok." Asta benar-benar semakin membuat Cherryl marah, emosinya sudah berada di tingkat level maksimum. Namun sebisa mungkin ia mencoba menahannya.


"Ah ... ia. Terimakasih, Asta," sahutnya mengambil segelas teh yang ada di atas meja.


Kemudian ia beranjak pergi, dengan memendam emosi yang memuncak bagai gunung api yang siap memuntahkan laharnya.


❇❇❇❇❇


Sementara Arga memandang wajah istrinya yang seolah tertawa puas karena mampu memukul mundur Cherryl. Asta sedikit terkekeh melihat Cherryl yang mulai menjauh dari pandangn mereka.


"Mengapa kamu terkekeh?" Tanya Arga. Dengan memendam seribu tanya melihat ekspresi sang istri.


Asta menangkup pundak suaminya dan persandar di sana. "Aku puas memperlakukan Cherryl seperti itu," ujar Asta, hatinya benar-benar diliputi kebahagiaan yang hakiki.


Arga tersenyum memandang istrinya, ia mencapit lembut hidung istrinya dengan jarinya. "Bayi keciku sangat nakal." Lalu memeluk istrinya.


Asta tertawa terbahak-bahak di bawah pelukan suaminya. "Aku sayang kamu, cinta kamu, kamu duniaku satu satunya, kamu adalah alasan di mana aku ingin hidup, Asta," imbuh Arga.


Tentu saja mendengar ucapan sang suami Asta perfikir itu adalah kode ajakan bercinta sang suami yang biasanya Arga lancarkan untuknya. "Jangan bilang, kamu ingin itu lagi, Arga?" Asta menyipitkan mata karena curiga.


Arga tertawa kembali terbahak-bahak. "Kamu pikir jika aku melontarkan kalimat gombalan padamu, aku menginginkan sesuatu darimu? Kamu terlalu naif, Sayang."


Asta malu, pipinya memerah, ia benar terlalu percaya diri karena melontarkan kalimat seperti itu, dan tentunya itu akan menjadi bahan Arga untuk merundungnya sepanjang waktu. Kemudian ia melepaskan dan menghempaskan pelukan suaminya itu. Dan beranjak ke dapur untuk memasak sesuatu.


Asta sangat merindukan suasana dapur, mungkin sepanjang hidup bersama Arga, tempat favoritnya adalah dapur, guna memuaskan rasa lapar Arga, dan itu adalah cara Asta membahagiakan laki-laki yang selalu mengisi hatinya. Dengan cekatan Arga meraih tangan sang pujaan hati. "Eit ... mau kemana?"


Asta berhenti sejenak dan menatap suaminya. "Apa yang kamu inginkan?" tanya Asta penasaran.


"Aku? Hanya ingin bertanya kepada wanita yang memiliki hobi bercinta dengan suaminya," ejek Arga dengan senyuman menggoda.


Asta menghempaskan tangan Arga. "Kamu yang selalu punya pikiran seperti itu, Arga. Kamu pernah berkata tubuhku adalah candu untukku, bahkan aromaku kamu anggap bak zat psikotropika. Kamu ingat?"


Sekali lagi Arga terkekeh mendengar kalimat Asta. "Apa yang kamu tertawakan, Arga?" tanya Asta mengulang kembali pertanyaannya.


"Aku hanya lucu mendengar kalimatmu, kamu pemilihan kata yang begitu sempurna untuk menggambarkan rasa nafsu yang kumiliki terhadapmu."


"Terserah kamulah, aku lebih baik masak di dapur," ucap Asta kesal.


"Kenapa kamu harus masak? Jika di sini ada banyak juru masak profesional," cegah Arga.


"Kamu tidak rindu dengan masakanku yang hambar?"


Arga diam sejenak. "Iya aku rindu, aku sunggu rindu dengan masakanmu."


"Baiklah, aku akan masak."


Asta pergi berjalan menuju dapur, dapur luas dengan desain american style ini sungguh indah. Perpaduan warna coklat kayu yang hangat membuat dapur itu terlihat nyaman. Bahkan dapur ini benar-benar luas, ada para juru masak di sana, yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Mengingat Asta sama sekali belum pernah menginjakan kaki di dapur ini. Ketika para juru masak melihat Asta masuk semua serempak menundukan kepala. Seorang yang memakai seragam berbeda mendatangi Asta dan bertanya dengan bahasa sangat sopan.


"Selamat malam, nyonya Asta." sapa wanita itu.


"Selamat malam," jawab Asta tidak kalah sopan.


"Perkenalkan, saya Vivian. Saya adalah chef utama di rumah ini. Adakah yang bisa saya bantu?"


"Tidak, lakukan saja tugasmu. Aku hanya ingin memasak untuk suamiku."


Vivian terhenyak kaget mendengar ucapan Asta. Bagaimana bisa seorang nyonya rumah ini, pergi ke dapur hanya untuk memasak seseuatu agar perut suaminya kenyang, sementara di rumah ini ada beberapa juru masak profesional yang siap menghidangkan makanan untuk mereka berdua.


"Tapi nyonya, itu adalah tugas kami."


"Aku tahu, hanya saja aku sedang merindukan suasana dapur. Tak apa, kalian teruslah melakukan aktivitas kalian masing-masing, jangan hiraukan keberadaanku di sini," ucap Asta.


"Baiklah, Nyonya," jawab Vivian, penuh hormat.


❇❇❇❇


Setelah semua selesai, Asta kembali menemui sang pujaan hati untuk menyantap makanan yang sudah dengan susah payah ia kerjakan. wanita itu berjalan menuju ruang kerja di mana Arga tadi berkata ia akan menunggunya di sana.


Asta mengetuk pintu sebelum masuk, meskipun Arga adalah suaminya tetap saja ia selalu menjujung tinggi kesopanan yang di ajarkan sang ayah.


"Sayang," sapa Asta, ia melihat Arga yang sedang serius di depan layar komputernya.


Arga menengok ke arah sumber suara lembut yang berasal dari suara sang istri.


"Sini masuk!" perintah Arga.


Astapun menghampiri sang suami dan mendekat kearahnya. Tiba-tiba Arga menggendong tubuhnya kemudian ia letakkan di atas meja berhadapan dengan kursi di mana Arga duduk.


"Apa-apan ini Arga?!" hardik Asta. Ia sangat kaget dengan apa yang di kakukan Arga untuknya.


"Sebelum makan sungguhan, bolehkah aku mencicipimu di ruangan ini? Kita belum pernah melakukannya di tempat lain, aku ingin suasana baru, bolehkan?" tanya Arga.


"no ! Tidak untuk saat ini, ini waktunya kita makan, nanti masakanku bisa dingin, Arga."


"Tidak kenapa, asalkan aku memakanmu sekarang juga."


.


.


.


.


.


Woah ... apakah yang akan terjadi selanjutnya?


❇❇❇❇❇


Ada beberapa bait lagu dari seseorang yang setiap hari aku dengarkan tanpa bosan.


HANYA TENTANGMU


Hati takkan ingkari


janji yang tlah kuberi


untukmu, untukmu


Gundah yang dulu ada


kini tlah hilang berganti asa


karnamu, karna dirimu


Cintamu dan cintaku satu


mendekap erat jiwaku slalu


Tahukah kamu disaat kurapuh


hanya kaulah yang mampu menenangkanku


tahukah kamu arti dirimu


tak bisa kujelaskan semua tentangmu


Kau bahagiaku saat sedihku


sungguh tak mampu bila tanpamu


kaulah nafasku dalam hidupku


semua tentangmu, hanya tentangmu.


oleh


Adhy Artha~Author Legenda Sang Monster.


Palu....


❇❇❇❇❇


Oia temen-temen, aku ada beberapa recomendasi bacaan yang akhir-akhir ini sedang kubaca.


Sambil menunggu Boss Come here Please! up. Temen-temen bisa singgah kesana juga.


1.Judul:Badboy My Boss


Pena:Adillah R


2. Judul : The Last Whiteblood


Pena : Haritsataqi Jaman


3. Judul : Pujaku Mayang


Pena : Azis Beck


4. Judul : OB kerudung biru


Pena : Putri Tanjung


5. Judul : I'M THE NECROMANCER KING


Pena : kata pandu


6. Judul : Legenda Sang Monster


Pena : Adhy Artha


7. Judul: The CURSE : Deadly Game


Pena : Aracely and Sonia


8. Judul: SEVENTEEN


Pena: Ripee


9. Judul : Mahasiswaku Calon Suamiku?


Pena: Choi Aerii


10. Judul: First Love First Fall


Pena: Lana Ra


11. Judul : Menikah Muda


Pena : Muhammad Aulia Luthfi.


Jangan lupa Like, komen, Vote.


Gumawo


Novi wu.