
Aku kembali 👀
Selepas makan, Asta memutuskan kembali lebih cepat ke kamar, meninggalkan Arga dan Zico yang masih asyik beradu mulut tentang game yang sedang mereka mainkan.
Asta memang sengaja meninggalkan mereka berdua supaya bisa lebih dekat satu sama lain, agar Arga lebih mengenal Zico dan sebaliknya Zico juga seperti itu.
Adu mulut antara 2 orang laki-laki itu terasa sengit, tapi entah kenapa atmosfir yang diciptakan sangat berbeda, seolah mereka adalah sepasang kakak beradik yang sudah lama tidak bertemu. Maklum saja Arga adalah anak tunggal sedangkan Zico pun sama.
"Hei, kumis doraemon. Bisa diam tidak!" seru Arga, menahan kepala Zico.
Zico dan Arga saling sikut dalam permainan game pertarungan itu. "Apa-apa! Bilang saja kamu mau menyerah!"
"Enak saja, tidak akan!"
Ponsel Arga berdering, simphoni biola classic terdengar di penjuru ruangan, tampak di layar ponsel nama 'Istriku memanggil'
"Hallo sayang. Ada apa?" tanya Arga seolah ia tak mau diganggu dengan pertarungan sengit antara dirinya dan Zico.
"Ayolah tidur, sudah jam sembilan malam, 'loh," ucap Asta.
"Iya sebentar lagi, aku lagi seru nih, sama adik kamu. Sebentar ya!" jawab Arga lalu menutup panggilannya.
Asta sangat kesal mendengar kata-kata Arga, ia menggigit ujung bibirnya, kemudian ia bergumam dalam hati.
"Padahal aku yang ingin membuat Arga cemburu. malah aku yang dibuatnya cemburu. Apa-apaan ini!"
Asta memutuskan untuk kembali menemui suaminya yang sedang asyik bermain bersama Zico pemuda 19 tahun itu.
Zico adalah lulusan Sekolah Menengah Atas Kejuruan Farmasi dan kini ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan study kedokteran yang ia ikuti di kotanya.
Asta berjalan cepat karena kesal ia mendapati sang suami sedang tertawa ria dengan Zico, hatinya yang sejak tadi marah kini teredam oleh kerukunan mereka berdua.
Ia kemudian memilih duduk di sofa dekat dengan mereka, meskipun kehadiran Asta tak dihiraukan, Ia tetap merasa senang melihat kerukunan yang tercipta antara mereka berdua.
Hingga tanpa sadar wanita hamil itu tak kuasa dengan rasa kantuk yang mulai menggelayuti matanya, sehingga membuatnya tertidur di atas sofa dengan posisi terduduk memeluk bantal.
Permainan mereka berlangsung lama hingga pukul satu malam. "Aku sudah tidak kuat, bakiak! Aku tidur dulu, ya!" ucap Arga.
"Aku juga, lebih baik aku istirahat dan tidur."
Arga melirik Asta yang telah terlelap di ujung sofa tak jauh dari mereka. " Sejak kapan kakakmu tidur di sana?" tanya Arga heran, karena tidak melihat kedatangan sang istri di tengah-tengah mereka.
Zico menjawab dengan menaikan kedua pundaknya sebagai pertanda ia juga tak melihat Asta melintas di tengah-tengah mereka.
Arga menghampiri Asta membopong wanita hamil yang nampak kelelahan itu, karena berat badan Asta belum naik secara signifikan membuat Arga dengan mudah menggendong Asta tanpa kewalahan sedikitpun.
"Apakah dia tidak berat?" tanya Zico memamdang Arga yang santai membopong Asta.
"Tidak, berat badannya belum naik."
"Bolehkah aku mencoba menggendongnya?"
"Heh bakiak pororo! Lama-lama kamu ini menjengkelkan, 'ya?!" bentak Arga.
Zico terkekeh mendengar emosi Arga telah tersulut, sehingga membuatnya berapi-api.
"Sorry Bro! Jika aku menyinggung perasaanmu," ledek Zico.
"Persetan dengan hidupmu!"
Arga berjalan melewati tangga ia melangkah sangat hati-hati karena takut pujaan hatinya terjaga.
"Bro, mana kamarku? Banyak sekali pintu di sini, apakah ini semua kamar?" tanya Zico terheran-heran melihat jajaran pintu berwarna coklat.
"Ya, terserah kamu mau pilih yang mana! Itu semua kamar kosong," jawab Arga, santai.
"Kamu tidak waras, ya?! Sudah tahu kalian cuma berdua, mengapa kamu membuat kamar sebanyak ini?"
Arga mulai tak sabar mendengar ocehan pemuda 19 tahun tersebut. Ia mengatupkan bibir untuk membungkam diri untuk tidak menjawab kata-kata Zico.
"Aku pilih kamar ini, ya?" tambah Zico, lagi. Ia memilih dua kamar berdekatan dengan kamar Arga dan Asta.
" Ya, terserah kamu sajalah."
Arga membuka pintu kamar, berjalan perlahan dan meletakkan tubuh mungil sang istri pelan-pelan. Ia membelai lembut rambut wanita yang sudah setahun ia nikahi itu, sehingga membuat Asta menggeliat karena sensasi sentuhan Arga.
Asta memegang pergelangan sang suami ketika Arga akan beranjak pergi.
"Emh ... mau kemana, Sayang?"
Arga menoleh dan melirik ke arah sang Istri.
"Aku mandi sebentar, ya? Gerah sekali," jawab Arga, mengibas-ngibaskan kerah bajunya.
Dengan berat hati Asta melepaskan Arga.
❇️❇️❇️❇️
Selepas mandi Arga hanya mengenakan komono handuk berwarna coklat, rambutnya yang basah dan agak berantakan membuatnya semakin seksi. Ya, laki-laki matang yang menggoda batin Asta. Ia tak pernah bosan memuja ketampanan suaminya sendiri. Entah sejak kapan mereka saling tergila-gila satu sama lain.
"Aku ganti baju dulu, ya?" kata Arga.
Asta mengangguk pelan menjawab kalimat Arga.
Setelah selesai, Arga mengenakan baju tidur warna merah senada dengan namun hanya berbeda corak saja. Memakai pakaian tidur membuat Asta semakin ingin di dekap oleh tubuh suaminya.
"Sayang, dingin." Asta merengek.
"Bukan, aku mau di peluk," jawab Asta.
"Uluh-uluh sayangku, sini-sini papa peluk, biar hangat," sambung Arga, menyodorkan tangannya dan masuk ke dalam slimut tebal lalu mereka saling berpelukan.
"Sudah hangat, 'kah?"
"Hu'um." Asta memejamkan mata merasakan sensasi keharuman sabun yang baru saja Arga pakai tadi.
Sementara Arga mengelus rambut wanita hamil tersebut, rambut hitam panjang yang beraroma stoberi yang segar.
"Aku selalu jatuh cinta dengan aroma rambutmu, sayang. Seolah kamu adalah buah beri yang sedang berjalan." Arga menghirup kuat-kuat aroma rambut Asta.
"Suka?" tanya Asta.
"Iya," jawab Arga singkat.
Tangan Arga mulai turun kebawah menuju punggung Asta, ia menggosok lembut tubuh bagian belakan milik istrinya.
"Apakah kamu lelah?"
"Iya, sedikit. Kakiku terasa pegal," ungkap Asta.
"Sini aku pijat kakimu agar lelahmu hilang."
Arga bangun dan mulai menekan-nekan kali Asta. Asta memejamkan mata menikmati sensasi pijat yang di berikan laki-laki tampan di hadapannya.
"Apakah dulu kamu sering memijat kaki mantan istrimu?"
"Tidak pernah, karena Wina dulu jarang pulang, aku sama sekali tidak pernah memanjakannya."
"oh, jadi kamu sering tidur sendiri?"
"Iya, dulu aku sangat kesepian karena itu, tapi aku selalu mencoba setia," jawab Arga, membayangkan wanita yang sebenarnya malas ia ingat-ingat.
•
•
•
•
•
Besambung.
❇️❇️❇️❇️
Aura bintang nestapa bergulir menciptakan pusara
Untukku, ini dilema yang bergelora
Mulut terkunci hati menjerit
Teriakan dingin rasa nurani
Masamu masaku masa kita
Terbentang jauh di bawah langit yang sama
Hanya berada di sini tanpa mampu memiliki
Melihat senyummu mendera lubuk hati
Ahh, hanya pencundang yang menangis
Menulis waktu yang tak terlukis
Untukmu kekasih yang jauh di seberang sana
Oleh
@KenzikiKyozaki
(Kenkyo) Author Pendekar Dewa Surgawi.
❇️❇️❇️❇️
Halo temen-temen sedikit curhat
Aku nggak tau kenapa viewku dua hari ini anjlok, jujur aku down banget semangat nulis juga hancur berantakan. Sebenarnya mau end aja dan aku pindah ke platform lain.
Tapi aku masih terlalu mencintai Arga dan Asta hingga aku belum mau tamatin mereka.
Terimakasih untuk kalian yang masih setia bersamaku
Dukung aku, ya! Aku tidak memerlukan Vote banyak, hanya like dan komen yang aku butuhkan untuk menaikan Viewku.
Terimakasih
salam hangat
Author halu
Novi Wu.