Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Mengenal Zico 2



Hai aku kembali 👀


Mentari memancarkan cahaya dari sela gorden berwarna merah, sayup-sayup terdengar suara nyanyian burung-burung yang sangat merdu. Asta mengerjapkan mata namun sangat berat terasa karena tangan Arga sedang memeluk perutnya sementara dagu Arga menempel di pundaknya. Ia tak kuasa untuk bergerak.


"Arga, bangun! Sudah pagi." Asta mencoba membangunkan suaminya dan disambut dengan erangan manja dari laki-laki tampan itu. "Ayo bangun!" perintah Asta, lagi.


"Iya, sebentar. Hari ini aku hanya ada acara peluncuran produk baru."


"Antar Zico ke kampus!"


Arga terperanjat kaget mendengar perintah dari istrinya. " Ha! Aku harus mengantarkan bakiak pororo?!" pekik Arga. "Oh, No! Tidak!" serunya menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.


"Lalu siapa? Aku? Dia belum tahu jalan. Nanti kalau sudah hapal jalan, aku akan membelikannya motor," ujar Asta.


"Biar Adamson atau supir yang mengantarkannya," tolak Arga, lalu membalikkan badannya memunggungi Asta.


Tiba-tiba Asta memukul pantat Arga. " ayolah, siapa kakaknya?" tanya Asta.


"Kamu!"


"Oh, aku? Oke aku akan mengantarkannya," Asta beranjak dari tempat tidur.


Arga langsung berbalik arah dan menatap wajah istrinya yang tampak kesal. "Naik apa kamu?" tanya Arga penasaran.


"Motorlah, aku pinjam motor dari salah satu pekerja kita," jawab Asta.


"Motor?! Tidak-tidak. Kamu tidak boleh pakai motor!"


"Lalu pakai apa? Angkutan umum? Oke!" jawab Asta.


"Baiklah aku akan mengantarkan bocah tengik itu," kata Arga, ia lebih memilih mengalah dari pada Asta yang harus susah-susah mengantar Zico.


"Nah, suami siapa sih, ini?" goda Asta.


"Suami orang gila!" sahut Arga kesal. Lalu masuk ke kamar mandi.


❇️❇️❇️


Arga dan Asta baru saja turun untuk sarapan, sementara Zico sudah menunggunya duduk di meja makan dengan ukiran klasik berbentuk bundar. Di atasnya tersedia berbagai makanan dari salad nasi goreng telur roti susu dan jus jeruk favorit Arga semua sudah tersedia.


"Kalian lama sekali? Aku lama menunggu kalian!" seru Zico.


"Heleh, kamu berlebihan, ini baru jam berapa?" jawab Arga.


"Apakah makanan sebanyak ini kalian makan semua?" tanya Zico penasaran.


Asta menggelengkan kepala. Sementara Arga lebih memilih diam tak menjawab pertanyaan Zico.


"Dasar orang kaya yang boros! Kalian suka membuang makanan, padahal kalian tahu masih banyak di luar sana orang tidak bisa makan!" Tiba-tiba Zico mengomel tidak jelas.


"Ayo makan!" perintah Asta.


Mereka sarapan bersama hingga makanan Arga, Asta dan Zico tandas tak tersisa. Perut mereka dan telah terisi aktivitas meraka telah menanti.


Arga dengan pekerjaan kantornya, Zico dengan kuliahnya dan Asta yang hanya santai di rumah bak nyonya besar.


Jika diruntut kebelakang satu tahun yang lalu Asta masih berstatus sebagai assitant rumah tangga namun kini ia beralih menjadi nyonya rumah, sungguh nasip yang sulit dibayangkan, karena takdir Asta bak cerita novel yang ditulis oleh penulis hebat.


❇️❇️❇️


Arga mengeluarkan mobil SUV berwarna biru metalic kesayanganya, hari ini ia ingin mengendarai mobilnya sendiri tanpa sopir yang selalu menyetirkan mobilnya.


"Mobilmu keren," ujar Zico terpana dengan mobil di depannya, ia juga menatap sekeliling melihat ada beberapa mobil yang berjejer rapi dengan berbagai merk.


"Sudah tidak usah pakai ngiler lihatnya!" ledek Arga. "Kamu tidak pernah melihat mobil begini?" sambung Arga lagi.


Zico hanya membalas kalimat Arga dengan lirikan tajam karena kesal.


"Kenapa mata kamu? Seperti mau lepas," ujar Arga.


Namun Zico tetap bergeming mendengar kalimat demi kalimat yang terucap dari bibir kakak iparnya itu.


Arga masuk kedalam mobil di ikuti Zico yang juga duduk di samping meja pengemudi. Ia masih menatap penuh keheranan melihat mobil CEO Perusahaan kosmetik nomor satu di seantero negeri itu.


Arga memutar kunci mobil kemudian menstater mobil tersebut dan di pagi yang cerah mobil Arga membelah jalanan ibu kota yang tampak ramai saat ini.


"Hei bakiak pororo! Kampus kamu sama seperti Asta, bukan?" tanya Arga.


Zico hanya menganggukan kepala mengikuti lantunan musik yang sengaja distel oleh Arga.


Lagu Sunday morning milik Maroon 5 menemani perjalanan mereka saat ini.


"Mengapa harus dokter? Kenapa tidak yang lain?" tanya Arga, menunggu jawaban pria 19tahun yang ia anggap masih kecil itu.


"Aku ingin menyembuhkan orang, dulu ayahku meninggal karena kami kekurangan dana dan akhirnya hanya bisa merawat ayah di rumah," jawan Zico mengingat ketika sang ayah sakit dan tidak punya biaya pengobatan.


"Sorry bro, aku tidak bermaksud mengulik masa lalumu."


"It's ok! No problem."


❇️❇️❇️


"Siap?" tanya Arga menatap lekat adik iparnya.


Zico memandang Arga sejenak kemudian beranjak masuk. "Aku siap!"


Kemudian Zico turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kampus. Sementara Arga masih memandang tubuh Zico hingga ia menghilang dari padangannya lalu tancap gas kembali untuk pergi ke kantor.


❇️❇️❇️


Suasana kampus yang riuh dengan kumpulan mahasiswa dan mahasiswi dari junior hingga senior mereka melebur menjadi satu.


Jauh dari pandangan Zico seorang gadis seperti sedang menerima perundungan dari beberapa seniornya. Zico mencoba acuh tak menghiraukan mereka untuk menghindari masalah, karena untuk study di sini saja, ia harus sangat berjuang. Namun hati nurani Zico meronta dan memaksanya untuk menolong gadis tak berdaya tersebut.


ia menggigit bawah bibir seraya berpikir kemudian dengan langkah malas ia menghampiri sekumpulan para wanita itu.


"Kalian senior, 'kan?!" seru Zico matanya memindai ke segala arah memandang empat gadis yang kelihatannya senior sedang menganiaya juniornya.


Salah satu dari mereka menghampiri Zico kemudian berdiri menantang Zico, padahal ia kalah tinggi dengan pria 19 tahun tersebut.


"Kalau iya kamu mau apa?" jawabnya memandang rendah Zico.


"Mengapa kalian melakukan perundungan terhadap junior kalian?"


"Lalu kenapa? Kamu keberatan?" jawab gadis dengan tinggi badan sekita 158cm kulitnya putih rambut panjang dan wajah oriental tersebut.


Sementara gadis yang memasang wajah menyeringai ke arah Zico.


Zico menghela napas, karena tahu ia tak akan menang melawan segerombolan gadis-gadis di hadapannya ini.


"Oke! Aku akan menebusnya, apa yang bisa aku lakukan agar kalian membebaskan dia?!" Zico menunjuk prempuan korban perundungan tersebut, yang masih tampak terduduk di tanah.


"Jadi pembantuku selama satu bulan?!" seru gadis berwajah oriental tadi.


"Apa?!" Zico tak percaya dengan jawaban gadis itu.


"Aku tidak akan mengulanginya untuk yang kedua kali. Iya atau tidak sama sekali!"


"Oke! Aku terima," jawab Zico, pasrah.


"Bagus," jawabnya singkat. "Lepaskan dia!" imbuhnya lagi, menyuruh teman-temannya untuk melepaskan korbannya.


Zico mengacak-acak rambutnya karena frustasi, ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Bakiak pororo OTW jatuh cinta


****


Bersambung


sungguh


dunia terasa indah


sejak aku mengenalmu


diri tidak seperti biasa


hati penuh dengan taman cinta


yang engkau ciptakan..


rindu melanda setiap saat


bagaikan lebah merindukan madu..


aku memerlukan dirimu


seperti aku perlukan udara


aku harap engkau juga begitu


sesungguhnya


aku mencintai mu...


~R~


15 Agustus 2020


Jangan lupa like komen dan Vote.


Terimakasih


Novi Wu