Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Dendam



Boss Come here Please 117


Saya memcoba membuat cerita dengan alur kuat dan mencoba mencekik nurani kalian, seperti halnya Boss Come here Please! S1. Tidak ada cerita yang di awali dengan kebahagiaan. Tapi semua cerita pasti di akhiri dengan bahagia seperti halnya Asta dan Arga. Saya berterimakasih kepada para pembaca yang masih setia dengan BCHP. Saya juga tidak melarang kalian untuk stop baca karena kalian tidak kuat dengan penderitaan Frea, saya maklumi itu, tapi saya akan tetap jalankan cerita ini sesuai outline yang saya buat. Matur Thankyou


Selamat membaca.


*****


Langit begitu cerah, matahari pun masih setia memancarkan cahayanya untuk menyinari bumi.


Tapi mengapa suasana hati Frea tampak mendung menatap sepasang sejoli yang merajut kasih sembari bekerja. Ah ... Itu sungguh romantis sekali, ia bahkan mendambakan hal itu sejak lama. Tapi apalah daya.


Frea berjalan melewati mereka berdua dengan pandangan lurus ke depan tanpa menolehkan wajahnya sedikit pun kepada mereka. Itu Frea lakukan agar ia bisa semakin kuat merelakan Zico yang mungkin memang tercipta bukan untuknya.


Dari kejauhan seorang perawat datang menghampiri Frea dengan wajah pucat pasi. "Dokter pasien di kamar 32 anfal, tiba-tiba jantungnya berhenti berdetak!"


Napas Frea tercekat, Frea sedikit panik lalu berlari ke arah ruangan pasien yang di maksud, seorang keluarga yang menunggu pasien itu tampak panik, setengah jam yang lalu pasien itu masih baik-baik saja, maka dari itu ia di tempatkan di bangsal inap biasa.


Frea mengambil stetoskop yang selalu berada di dalam tasnya, lalu dengan cekatan ia membuka mata pasien laki-laki paruh baya itu. Napasnya tampak tersengal dan tercekat di tenggorokan. Membuatnya kejang.


"Panggil dokter Zico!" perintah Frea, lalu ia kembali fokus kepada pasien. Sementara perawat telah memanggil Zico yang masih menangani pasien bersama Yufen.


"Dokter Zico. Anda telah dipanggil oleh dokter Frea, ada pasien dalam keadaan kritis di bangsal 32." Perawat itu tampak terengah karena panik dan sejak tadi berlari.


"Ada apa? Kenapa pasien itu?!"


"Tiba-tiba detak jantungnya melemah, dok. dia juga ada riwayat jantung lemah." Perawat itu menjawab dengan nada panik.


"Kamu tenang, kamu pasti perawat baru, makanya kamu panik. Siapkan defibrillator sekarang juga!" perintah Zico.


Zico berbalik badan menatap Yufen yang sejak tadi mendengar percakapan mereka berdua. "Yufen, kamu tangani ini dulu! Aku akan melihat pasien lain."


"Ta-tapi sayang ...."


Belum sempat Yufen melanjutkan kalimatnya, Zico sudah berlari ke arah bangsal tersebut.


*****


Setelah sampai, Zico melihat Frea sedang menangani pasien itu sendirian. Jatungnya berdegup sesaat, lalu ia putuskan untuk masuk.


"Bagaimana keadaan pasien?" tanya Zico, ia mencoba untuk tenang.


"Tiba-tibanya melemah dan napasnya tampak tercekat."


"Pindahkan pasien ini ke ruang icu sekarang juga!" perintah Arga. Lalu ia melanjutkan memeriksa pasien tersebut.


Frea berjalan keluar untuk menelepon ruangan Icu apakah ada kamar bed kosong untuk satu pasien.


Tak berapa lama Frea kembali dengan beberapa perawat untuk memindahkan pasien tersebut di ruang Icu.


"Kamu tenang, tidak perlu khawatir, pasien ini akan ditangani dengan baik oleh para dokter di ruang ICU," ujar Zico dengan mengelus lembut belakang kepala Frea.


Frea tersenyum lalu menepis tangan Zico. "Di sini rumah sakit, tidak etis rasanya seorang dokter bersikap tidak profesional dengan bermesraan di depan pasien!" Kata-kata Frea menohok hati Zico, ia berpikir apakah ia sedang menyindir dirinya dengan Yufen.


Frea pergi menuju ruang kerjanya dengan keadaan kesal tanpa memperdulikan Zico yang masih berdiri memandang dirinya.


Setelah sampai di ruangannya Frea melepas Heels yang sejak tadi ia kenakan. Ia tampak mendengus kesal jika ingat apa yang Zico lakukan tadi.


Tiba-tiba pintu ruangan Frea ada yang mengetuk dari luar, Frea pun berseru, "Silakan masuk!"


Pintu terbuka sosok yang tak asing itu muncul, Yufen dengan membawa dua gelas kopi cup masuk dan duduk di hadapan Frea.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Frea dengan nada datar. "Terimakasih untuk kopinya."


"Bagaimana rasanya tidak bisa memiliki orang yang kamu cintai?"


"Ha?!" Frea tampak terkejut mendengar kalimat Yufen.


"Ya ... Bagaimana rasanya mencintai tapi tidak dapat memiliki, sakit bukan?" tanya Yufen dengan satu bibir tertarik ke atas.


"Maksud kamu apa?"


Yufen terkekeh sesaat lalu wajahnya kembali tampak serius. "Kamu sekarang bisa merasakan apa yang dirasakan almarhumah mamaku, dia mencintai ayah tapi ibumu masih syah menjadi istri ayah. Dan kamu tahu itu sangat menyakitkan. Apa yang dirasakan mamaku akan kamu rasakan sekarang!"


Frea tersenyum simpul.


"Lalu apa yang dilakukan bibimu terhadap ibuku? Dia merebut ayahku dari ibuku dan membuat ibuku meninggal dan bahkan membuat aku dan ayahku saling membenci, itu ulah siapa, 'ha?!"


Yufen tertawa terbahak-bahak dan bertepuk tangan. "Itu pembalasan yang setimpal!"


"Kamu pikir ibumu wanita suci? Sengaja hamil dengan ayahku. Agar apa? Agar bisa menjadi nyonya Arav?" Frea terkekeh sejenak. "Jangan mimpi!"


"Kamu bisa lihat sekarang aku dan bibiku lebih kuat dari pada kamu!"


"Ha-ha-ha ... Kuat dalam arti apa?! Yang memegang kekuasaan semua ini sekarang adalah aku, Frea Arav!" seru Frea dengan nada melecehkan.


"Makan saja semua harta yang ayah punya. Aku sudah memiliki orang yang paling kamu ingin miliki. Aku tidak akan melepaskannya," ejek Yufen dengan nada mencibir.


"Ambil saja Zico! Dia bukan milikku, aku tidak akan merebutnya darimu!" cibir Frea.


"Ingat Frea, aku akan membuat mu menjadi wanita paling menyedihkan mengikuti ibumu hingga ke liang lahat!" ancam Yufen dengan mata melirik ke arah Frea.


"Coba saja! Aku akan membuatmu sadar jika dendam akan membuatmu menderita dan gila!"


Yufen beranjak dan pergi, sebelum ia melangkah keluar ia berkata, " Selamat datang di pintu kesengsaraan tiada akhir!" Lalu membanting pintu dengan keras membuat Frea terperanjat.


Mendengar kalimat demi kalimat yang di utarakan oleh Yufen membuat Frea tersadar, jika Yufen tidak pernah mencintai Zico, ia hanya bernafsu ingin memiliko Zico.


Tapi Frea bisa apa, ia benar-benar tidak ingin membuat kesehatan ayahnya memburuk karena perselisihannya dengan Yufen.


Frea memutuskan untuk menelepon Zico untuk membicarakan sesuatu kepadanya.


Mereka akhirnya memutuskan untuk bertemu setelah pulang dari kerja. Frea telah melupakan janjinya kepada Sammy jika hari ini ia ada pertemuan keluarga untuk membahas pertunangan mereka.


"Temui aku di tempat parkir rumah sakit jam 5 sore," ucap Frea dari balik sambungan telepon lalu menutup tanpa menunggu jawaban Zico.


Hal itu membuat Zico bertanya-tanya, apa yang akan dibicarakan oleh Frea?





Bersambung....


Ingat jangan baper, ini hanya novel dengan alur sedikit berat, semoga kalian tetap setia membaca BChP


Jangan lupa Like, komen dan Vote 🤩