Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Berdua Bersamamu



Season 2


Zico mengendarai motornya tak tentu arah, ia benar-benar tidak tahu harus pergi kemana, ingin bertanya arah jalan dengan Frea ia terlalu gengsi. Lagipula gadis itu tengah bersedih karena ayahnya tadi.


Zico membelah jalan gelap di depannya, jalan menanjak yang begitu curam ia lalui yang ada di pikiriannya ia harus berjalan sejauh mungkin agar tidak ditemukan oleh orang-orang suruhan ayah Frea.


Setelah dirasa cukup jauh, Zico menghentikan motornya di tepi tebing tinggi di bawahnya terdapat pemandangan lampu-lampu ibukota yang tampak indah warna-warni.


"Kita istirahat di sini dulu," ucap Zico lembut.


Frea mendongakkan kepalanya yang sejak tadi ia benamkan di pundak Zico, ia merasa nyaman di sana, aroma tubuhnya bak sebagai aroma therapi untuknya. Ia sangat menyukai sejak pertama kali ia mencium aroma itu. Seperti aroma bayi lembut dan tidak menusuk hidung.


"Dimana kita?" tanya Frea menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Entah," jawab Zico santai.


"Apakah kita tersesat?" tanya Frea lagi.


"Mungkin."


Frea menghela napas panjang, sebenarnya ia merasa sedih tapi entah mengapa ketika ia bersama Zico kesedihannya seketika sirna.


"Kenapa kamu menangis tadi? Dan mengapa kamu menolak pertunangan itu? Bukankah Sammy adalah kekasihmu?" tanya Zico serius.


"Siapa bilang Sammy adalah kekasihku?"


"Waktu itu ketika ia menolongmu, saat kamu jatuh dari gendonganku."


Frea melepas kucir rambutnya dan menggoyang-goyangkan rambut panjangnya yang lurus, aroma coklat lembut keluar dari sana, membuat indera penciuman Zico otomatis mencium aroma itu kuat-kuat.


"Sebenarnya perjodohan itu sudah di rencanakan sejak aku masih kecil, tapi aku menolaknya, namun ayahku dengan segala upayanya ia terus mendesakku. Ditambah lagi Sammy juga menyukaiku sejak kita masih kecil."


Frea menjelaskan kepada Zico asal muasal tentang perjodohan itu. Namun hatinya tergelitik dengan hubungan Frea dengan Yufensia adiknya itu.


"Lalu kamu dengan Yufen?"


Mendengar nama Yufen seketika darah Frea mendidih karena mengingat jika Zico adalah kekasih Yufen adiknya.


"Kamu! Kenapa kamu menolongku?! Bukankah kamu adalah kekasih Yufen,'ha?!" seru Frea, marah.


"Ha ... kekasih?" jawab Zico bingung.


"Ya ... kekasih, kamu tadi memperkenalkan diri dengan ayah dan ibu tiriku sebagai kekasih Yufen, 'kan?!"


"Ibu tiri?" tanya Zico semakin bingung.


"Ya ... Ibu tiri, kenapa?!" desis Frea dengan nada tinggi.


"Sebentar, apa maksudmu? Yufen kata ...."


"Ya ... pasti kamu lebih percaya dengannya dibanding aku, 'kan? Dia lebih lembut dan lebih sopan dibandingkan aku?!"


Zico benar-benar bingung dengan kalimat demi kalimat yang di ucapakan Frea.


"Asal kamu tahu, Yufen itu anak selingkuhan ayahku. Dan ibu tiriku adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kematian ibuku!"


"Apa?!"


Air mata Frea tumpah mengingat ibunya kembali. Saat itu ia masih kecil ketika ibunya meninggal karena penyakit yang ia derita ditambah lagi dengan perselingkuhan ayahnya dengan ibu tirinya saat ini. Belum lagi ternyata ayahnya memiliki anak dengan wanita lain yang tak lain adalah Yufen.


Yufen dan sang ibu tiri selalu memojokkan Frea ketika ada di rumah dan hal itu membuat Frea berubah menjadi pribadi yang berontak dan tidak bisa diatur. Karena kurang masih sayang dari sang ayah.


"Kamu tidak pernah tahu penderitaanku bukan? Yang kamu tahu aku adalah gadis bar-bar yang tidak bisa di atur. Iya, 'kan?" Air mata Frea terus terjatuh melewati kedua pipinya yang mulus.


"Lalu kenapa kamu membully Yufen di kampus?"


"Karena jika di rumah, akulah yang di bully dia dengan sikapnya yang sok alim itu!"


" ........ "


Suasana seketika hening, Zico membiarkan Frea menangis menumpahkan segala isi hatinya. Ingin rasanya ia memeluk gadis itu, namun rasa gengsi yang begitu besar membuatnya enggan melakukan hal tersebut.


******


Setelah selesai menumpahkan rasa isi hatinya dan menghapus air matanya ....


"Aku lapar," ucap Frea, polos.


"Pakai sepatuku!" perintah Zico, dengan meleparkan sepatu ke arah kaki Frea.


"Lalu kamu?"


"Biarkan saja, aku sudah terbiasa tidak memakai alas kaki ketika masih di kampung dulu," jelas Zico.


Tanpa pikir panjang Frea mengenakan sepatu berwarna putih tersebut, meskipun sedikit kebesaran.


"Ayo naik, kita cari makan!" perintah Zico sembari naik ke atas motor.


Frea bergeming, bibirnya di tarik kebawah karena sedih. "Ada apa lagi?" tanya Zico.


"Aku tidak membawa uang sepeserpun," jawab Frea.


"Aku yang bayar kali ini, tidak perlu gensi, aku ini laki-laki, pantang jika aku makan wanita yang harus bayar," ucap Zico pongah.


"Kalau begitu, mana kadomu tadi?"


"Kamu bilang tidak suka kado murahan, jadi aku buang ke tong sampah rumahmu," jawab Zico santai.


Frea menghampiri Zico lalu meraih ujung jas Zico lalu di goyang-goyangkannya karena kesal.


"Kamu jahat! Kamu jahat!" ucapnya, geram.


Zico menarik ujung jasnya kembali agar Frea berhenti. "Ayo naik, kalau tidak. Kamu akan aku tinggalkan di sini!" ancamnya.


Mau tidak mau Frea menuruti perintah Zico dan naik ke atas motor pemuda itu. Lalu berpegangan erat membenamkan wajahnya ke pundak Zico untuk mencium aroma bayi yang menempel pada Zico.


Mereka berdua menyusuri jalanan sepi nan gelap, namun entah kenapa suasana romantis tercipta karena itu, membuat Frea benar-benar nyaman dan tidak mau terpisah oleh sang pujaan hati tersebut.


"Mau makan apa?" tanya Zico


"Terserah, asal sama kamu," jawab Frea manja.


Zico melihat beberapa kedai makan tanpa tenda yang berada di pinggir jalan menurun tersebut. "Kamu mau makan dipinggir jalan? Malu tidak?" tanya Zico lagi.


" Terserah asal berdua bersamamu, mengajarkanku apa artinya kenyaman," kata Frea santai.


Zico mengkerutkan dahi seolah pernah mendengar kalimat yang diucapakan Frea seperti potongan sebuah lagu.


Zico mengehentikan motornya di pinggir jalan tersebut dan menyuruh Frea turun, dengan perasaan malas Frea turun dari motor dan berdiri memindai suasana kedai tersebut.


Banyak muda mudi yang sedang makan di kedai tersebut, dengan view pemandangan lampu kota menambah keromantisan tempat itu.


"Makan di sini?" tanya Zico.


Frea menganggukan kepala tanda ia setuju dengan ajakan Zico. Ia pikir semua yang di lakukannya asal bersama Zico semua akan baik-baik saja.


Mereka duduk di atas tikar Zico memesan dua mie ayam dan minuman hangat dan dua porsi roti bakar coklat keju untuk mereka berdua.


"Buat apa makanan sebanyak itu?"


"Untuk dimakan, 'lah."


"Iya tapi ini sudah malam, aku tidak mau badanku gemuk karena makan, makanan yang kamu pesan."


"Kamu akan tetap cantik meskipun, badan kamu gemuk." Zico melemparkan kata-kata seadanya namun membuat Frea menjadi salah tingkah karena mendengar kalimat itu.





Bersambung


Hai terimakasih telah membaca Boss Come here Please! Hingga bab ini.


Sebagai pengumuman, kisah Asta dan Arga masih terus berlanjut, hanya saja author menambahkan kisah Zico dan Frea sebagai bumbu pelengkap kisah ini dan semoga kalian suka.


Jangan lupa like komen dan Vote, ya.


Salam hangat


Novi Wu.