
Hai aku kembali membawa kehaluan.
👀
Asta sesekali melirik ke arah suaminya gurat kekesalan terlihat di wajah pria tampan bak lakon dalam drama itu. Melihat itu membuat Asta semakin bersamangat untuk membuat Arga cemburu.
Ia berjalan sembari menghentakan kaki kuat-kuat seolah ia baru saja memenangkan undian berhadiah.
"Sayang, hati-hati dengan langkahmu! Ingat kandunganmu!" ucap sang suami dengan raut wajah ditekuk karena jengkel.
"Iya aku tahu, aku hanya senang adikku datang dan akan tinggal bersama kita." Asta terus memandangi wajah sang suami yang terlihat seperti meredam amarahnya.
Semenit kemudian mereka sampai di tempat parkir mobil. Adamson sudah siap, ia berdiri di depan pintu kiri belakang mobil.
"Sayang, kamu duduk di depan, ya! Aku ingin ngobrol dengan Zico soal ayah," perintah Asta. Sementara Arga hanya mengangguk dan menuruti keinginan sang wanita hamil itu.
"Kamu yakin, dia tak akan membunuhku jika kita duduk dan bermesraan di bangku belakang?" Zico melempar kata-kata sarkasme untuk mengejek Arga.
"Hei bocah tengik! Bisa diam tidak?! Hawa pembunuhan sedang mengitari otakku!" umpat Arga, kesal.
"Wo-wo-wo, kakak ipar janganlah marah!" ledek Zico.
Telinga Asta pengang melihat pertengkaran dua laki-laki di hadapannya sehingga membuatnya spontan berteriak.
"Diam!"
Arga dan Zico langsung terdiam mendengar teriakan Asta, sementara Adamson memasang wajah malas melihat boss yang selalu bersikap elegant dan galak berubah menjadi seperti anak kecil ketika berhadapan dengan Asta.
"Mr. Apakah kita sudah bisa jalan?" tanya Adamson.
"Iya, Pak Adamson, silakan jalan," ucap Asta tak menghiraukan pertengkaran Arga dan Zico.
Mobil sedan berwarna silver keluaran terbaru itu berjalan melesat membelah jalanan ibu kota sore itu. Beruntung hari ini jalanan tidak terlalu macet sehingga tak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai kerumah.
Zico tercengang melihat pemandangan jalan arah masuk kerumah Asta dan Arga, mungkin karena bertemakan tropis, sebelah kanan dan kiri ditumbuhi pohon cemara yang meninggi dan berbaris rapi seperti jajaran pengawal yang seolah sedang menyambut kedatangan mereka.
"Ini rumah kamu?" tanya Zico pada Asta.
Asta menganggung sebagai jawaban iya, untuk pertanyaan Zico.
"Iya, kenapa? Mewah, 'kan?" timpal Arga, melirik ke arah belakang dari balik kaca spion.
Sementara Zico bergeming tak mau menjawab kata-kata Arga. Asta hanya tersenyum kecil melihat sikap Arga hari ini yang terlihat uring-uringan karena cemburu.
"Besok kamu sudah mulai kuliah, ya? Andai aku masih bisa melanjutkan kuliah ku." Asta memasang wajah melas.
"Eh, kamu berhenti kuliah karena hamil?" tanya Zico penasaran.
"Bukan, karena ada seseorang yang sangat pencemburu, jadi dia memintaku berhenti." Asta melirik ke Arah Arga yang hanya cuek mendengar kalimat sindiran Asta.
Zico melihat mata Asta yang sengaja melirik ke arah suaminya. "Oh, jadi om tua itu yang melarangmu study?"
Asta mengangguk lemas dan memperlihatkan wajah sendunya.
"Bukanya tak boleh, tapi tanpa kuliah aku bisa menanggung masa depannya hingga tujuh turunan," Timpal Arga.
"Heleh, congkak sekali anda, Bapak?!" cibir Zico.
"Eh, itu kenyataan, dasar bakiak pororo!" Dengkus Arga kesal.
"Apa?!" seru Zico, kaget mendengar kata-kata Arga.
"Bakiak pororo! Kenapa? Tidak terima?"
Asta menutup mulutnya karena tak sanggup menahan tawanya melihat pertengkaran Arga dan Zico. Misi Asta adalah mendekatkan Arga dengan Zico mulai sekarang, karena mereka harus tinggal dalam satu atap.
"Sudah-sudah! Kita sudah sampai." Asta melerai pertengkaran dua laki-laki yang berbeda generasi tersebut.
Setelah mobil berhenti, Arga dengan cekatan turun dan membukakan pintu mobilnya untuk sang istri tercinta.
Asta turun dari mobil memandang wajah Arga kemudian mencubit pipi lembut Arga.
"Dih, tidak sopan! Bermesraan di hadapan anak di bawah umur. Kalian tahu betul otakku masih terlalu dini untuk melihat ini semua!" gerutu Zico.
"Heleh, bilang saja kamu iri, bocah!" kata Arga sembari menggandeng tangan Asta masuk ke dalam rumah.
Mendengar kalimat Asta yang berucap untuk sang adik tiri membuat tunas-tunas cemburu Arga kembali bersemi dan tumbuh.
"Apa-apaan! Kamu tidak pernah lagi memasakan sesuatu untukku setelah kamu hamil, tapi sekarang apa? Kamu pilih kasih, Sayang!" Arga mulai berapi-api.
"Om, sudahlah kamu terlalu tua, tentu istrimu akan memilih daun muda yang gagah perkasa sepertiku," ledek Zico menyombongkan diri.
"Badan kecil begitu, gagah. Mimpi saja sana di bawah pohon cabe!"
"Sudah! Stop! lebih baik kalian adu panco, siapa yang paling kuat di antara kalian, dan aku akan memasak untuk kalian. Ingat jangan bertengkar!" perintah Asta, mencoba melerai pertengkaran sengit dua pria yang mulai tersulit emosi.
"Kenapa harus masak sendiri? Banyak pelayan di dapur, mengapa kamu harus turun tangan? Nanti kamu kelelahan," ucap Arga khawatir.
"Biarkan saja, ibu hamil harus sering bergerak, agar bayi dan ibunya tidak malas," terang Zico menggurui sang kakak ipar.
"Tahu dari mana kamu? Dasar sok tahu! Memang kamu sudah pernah punya anak?!"
Zico menghela napas. "Itu pengetahuan dasar, Om. makanya jangan cuma gila kerja tapi juga baca buku soal ibu hamil!"
"Ah, sok tahu kamu!" dengkus Arga.
Asta lebih memilih pergi meninggalkan dua laki-laki itu, melihat mereka beradu mulut membuat kepalanya sedikit pening.
❇️❇️❇️❇️❇️
Beberapa saat kemudian, semua masakan siap, Asta dibantu oleh beberapa pelayan untuk menyiapkan makan malam, ia melirik ke arah jam besar yang terletak di sudut pojok ruang makan, waktu menunjukan pukul 19:00. Asta bergumam di dalam hati mengapa tak terdengar suara keributan antara dua orang pria tadi.
Kemudian Asta berjalan menuju ruang keluarga, ia melihat Arga dan Zico tampak akur namun tetap saling depak karena sedang bermain game.
Ia menghela napas, tampaknya misinya untuk mendekatkan suami dan adiknya berjalan mulus.
"Sayang, Zico. Makan malam sudah siap," ucap Asta. Namun mereka seperti tak mendengarkan kata-kata yang terucap dari mulut Asta.
"Hei, makan malam siap!" Asta mulai sedikit meninggikan volume suaranya. Namun tetap mereka bergeming seolah sedang terhanyut dalam dunia game mereka.
Asta menghampiri dua laki-laki itu, kemudian menjewer ketelinga keduanya. " Hei, makan malam siap!"
Kedua pria tampan itu tampak kesakitan dan berteriak secara bersamaan "Aduh, sakiittt!"
Asta melepaskan telinga mereka, lalu mengomel sejadi-jadinya.
"Aku memanggil kalian tiga kali, dari suara lembut ke suara tinggi, namun kalian tetap bergeming, bagus sekali kalian!" omel Asta.
"Iya maafkan kami, karena keasyikan main game," ucap Arga.
"Ayo makan malam! Dan kamu anak kecil, setelah ini harus istirahat!" perintah Asta.
"Iya, bawel!" jawab Zico.
"Apa kamu bilang?! Mau aku aduin ke ayah dan ibu!" ancam Asta, dengan jari telunjuk mengarah ke hadapan Zico.
"Dih, main ngancam! Oke aku akan menurut denganmu," jawab Zico pasrah.
"Ha-ha-ha rasakan kau bakiak pororo!" gumam Arga dalam hati.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
Hai teman-teman jangan lupa like komen dan Vote agar Novi semangat update.
salam hangat
Novi Wu