
BOSS COME HERE PLEASE 116
Hujan semakin deras menciptakan udara yang cukup menusuk tulang, gemuruh petir menggetarkan jendela kaca apartment Frea.
Gorder putih yang tertiup angin melambai-lambai tak tentu arah.
Zico yang melihat itu secara impulsif berdiri dan berjalan ke arah Jendela untuk menutup rapat agar angin dan cipratan air hujan tidak masuk ke dalam.
"Lebih baik kamu pulang!" perintah Frea, membuat Zico berhenti sejenak. Lalu berbalik arah menatap Frea yang masih duduk di sofa.
"Kamu memintaku pulang? Tanpa sepatah kata apapun. Apakah kamu akan membatalkan perjodohanmu dengan Sammy?" tanya Zico dengan nada penuh penekanan.
Frea berjalan ke arah Zico, lalu memegang pundak dokter tampan itu. "Hidup itu sebuah pilihan, tapi kadang pilihan itu membuat kita sulit, aku tahu betul jika perasaan dan hati bukan untuk dipilih. Tapi di situasi ini kita tidak bisa menentukan pilihan, kita di dalam posisi rumit. Aku mencintaimu dan kamu mencintaiku tapi kita punya orang lain disisi kita. Ini sungguh tidak adil."
Zico menekan pelipis dengan jempolnya karena frustasi, ia benar-benar merasa sudah mulai gila karena ia tidak bisa memiliki Frea. "Atau kita kabur, kita bisa menikah di luar negeri, kamu mau hidup sederhana denganku? Asal kita terus bersama."
Frea terkekeh lalu memegang lututnya sendiri sedetik kemudian ia menyibakkan rambutnya, 180° wajahnya berubah, yang awalnya tertawa lalu menjadi serius. "Kamu mau ayahku meregang nyawa karena jantung? Atau kamu mau Yufen sekali lagi melakukan tindakan bodoh karena kamu meninggalkan dia? Maaf Zico, lebih baik aku gadaikan cintaku demi keluargaku!"
"Kenapa kamu memikirkan Yufen dan ayahmu? Dulu kamu tidak pernah perduli dengan mereka, lalu kenapa sekarang kamu berubah!" seru Zico tidak terima.
"Kamu belum pernah merasakan rasanya bertahun-tahun hidup jauh dari keluarga. Aku telah merasakannya dan itu rasanya tidak enak." Frea berbalik arah lalu duduk di sofanya lagi.
Zico mengikuti Frea dan duduk di sampingnya. "Setidaknya balas cintaku, aku ingin memilikimu, hanya itu inginku. Tidak ada yang lain. Aku hanya ingin menua bersamamu."
"Itu semua telah terlambat ketika delapan tahun yang lalu aku memintamu menikahiku. Kini setelah bertahun-tahun kamu ingin aku menikah denganmu? Setelah kamu telah memiliki seseorang yang ada di sampingmu. Terlebih lagi itu adalah adikku sendiri?! Tidak semudah itu, Zico."
Zico berdiri lalu mondar-mandir tepat di hadapan Frea. "Ya ... Aku dulu salah, tapi kini aku sadar, aku tidak bisa jauh darimu. Aku sudah cukup tersiksa kehilanganmu selama delapan tahun."
Frea menghela napas sejenak. "Lebih baik, kamu pulang. Besok calon tunaganku telah kembali dari urusan bisnisnya. Aku akan menemuinya besok untuk membicarakan pertunangan kami."
"Tidak bisa!" seru Zico, lalu kembali duduk menatap lekat mata Frea. " Coba lihat mataku, katakan kamu tidak mencintaiku."
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Frea menuruti perintah Zico memandang lekat pupil mata pria di hadapannya. "Lalu apa?" tanya Frea.
"Katakan kamu tidak mencintaiku!" ucap Zico dengan suara parau.
"Ya ... Aku mencintaimu bahkan sejak pertama kali kita bertemu, cintaku tidak pernah luntur sedikitpun."
"Lalu? Jika kamu menikahinya. Jadikan aku yang kedua! Aku siap!" pinta Zico, dia benar-benar sudah gila dan Frustasi.
Frea kembali terkekeh mendengar kalimat Zico. "Kamu sudah cukup umur untuk menikah dan punya anak, jadi lebih baik kamu menikah dengan tunanganmu. Lupakan aku hapus aku dari hatimu!"
Zico menyambar jaket yang ia letakkan di atas sofa lalu pergi tanpa berpamitan dengan Frea, ia langsung membanting pintu dengan kerasnya.
Frea hanya menaikan kedua bahu seolah dia bingung dengan tindakan Zico. Tiba-tiba Zico kembali dan berkata, "Frea ingat, aku pastikan kita akan menikah, bagaimanapun caranya!" ujar ujar Zico sambil menunjuk Frea.
Frea pun bertemu menatap Zico dengan tatapan bingung. Mengapa Zico kembali lagi setelah Tadi dia pergi.
*****
Keesokan paginya Frea telah bersiap untuk menjemput sammy yang baru pulang dari luar negeri. Setelah menyelesaikan pekerjaannya sebagai pengusaha di bidang properti.
Jadwal kepulangan Sammy sudah Frea ketahui dari ayahnya, jika pagi ini ia akan pulang ke negaranya.
Dari kejauhan seorang pria tinggi dan tampan menggunakan setelan tiga potong berwarna hitam dengan memakai kacamata hitam menghampiri pria yang sedang duduk di ruang tunggu.
Lalu ia menyapa Frea dengan sangat ramah. " Apakah kamu Frea? Kamu telah berubah menjadi semakin cantik."
Frea menyunggingkan Senyum manisnya dihadapan pria yang akan bertunangan dengan dirinya.
Sammy telah berubah menjadi pria yang matang tetapi itu tidak membuat hati Frea bergetar.
Zico tetap menjadi pemenang di hati meskipun Sammy mungkin lebih sukses dan tampan.
"Kalau begitu ayo kita pulang ke rumah, kita siapkan pertunangan kita besok," ucap semi.
Mereka pun berjalan keluar dari bandara menuju ke rumah Sammy untuk menemui kedua orang tuanya.
"Tapi sayang hari ini aku ada pekerjaan mendadak. Rumah Sakit telah kekurangan dokter spesialis karena kemarin sore telah terjadi kecelakaan beruntun di dekat rumah sakit." Frea mencari cara agar lepas dari Sammy.
"Tapi Frea kita baru saja bertemu setelah delapan tahun kita berpisah. Kamu tidak merindukanku? Aku adalah tunanganmu."
"Ya... aku merindukanmu tetapi pekerjaanku mengharuskan aku untuk tetap stand by di rumah sakit."
Sammy pun menghela napas sejenak. Sebenarnya dia tidak ikhlas melepaskan Frea untuk pergi bekerja.
"Baiklah Frea Nanti malam aku akan datang ke rumah untuk membicarakan acara pertunangan kita Sabtu ini."
Frea hanya menganggukkan kepala pertanda dia setuju dengan kata-kata Sami.
Frea pergi meninggalkan Sammy, untuk menuju ke rumah sakit. Dan menyelesaikan pekerjaannya hingga sore tiba. Di mana Iya harus kembali ke rumah itu dan membicarakan hal yang paling tidak ingin ia bicarakan.
******
Frea menatap jam di pergelangan tangan kirinya. Waktu hampir tengah hari, pasti semua dokter telah sibuk. Frea mengencangkan sabuk pengaman dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah sakit, sebagai direktur utama di rumah sakit itu, tidak seharusnya Frea terjun untuk menangani pasien, namun jiwanya sebagai dokter membuatnya terpanggil untuk membantu teman-temannya.
Langkah Frea terhenti ketika melihat Yufen dan Zico berdua menangani satu pasien. Mereka tampak serasi berdiri saling berdampingan. Hal itu membuat dada Frea sesak dan sakit. Padahal jelas-jelas ia semalam telah menolak Zico untuk menikahinya. Tapi melihat ini ia benar-benar tidak kuasa.
Ia belum cukup kuat untuk merelakan Zico bersama dengan Yufen.
•
•
•
Bersambung
Jangan lupa Like komen dan votenya, Kakak 🤩