Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Pernikahan



Boss Come Here Please! Bab 139


Wah aku lihat banyak komen yang nganu, 'ya? Hihihi ....


Khas banget deh pembaca Boss Come Here Please! S1 juga suka maki-maki aku kalau Asta di zolimi Arga. Dan akhirnya mereka bahagia, bukan? Tidak ada cerita yang melulu bahagia terus, bucin terus. Ada kalanya konflik itu perlu, contohnya hidup, kan ngga selamanya bahagia, pasti ada aja cobaannya.


Dan aku appresiasi sekali komenan yang merong-merong, karena teman-teman sudah hanyut dan ikut kehaluan yang ada di otakku. 😁


Cuma mau bilang, kalian hebat karena telah sudi menyisikan waktu untuk membaca novel jelek dan bullshit ini.


Meskipun sedikit down tapi aku tetap akan bersemangat nulis kisah ini hingga akhir dan tidak akan mandek di tengah jalan.


*****


Frea yang sudah nyaman dan mencintai Zico, harus merelakan jika suaminya harus dimiliki wanita lain, ia tak kuasa membayangkan hal itu.


"Jika kamu keberatan dengan pernikahan mereka, ayah akan membatalkannya demi kebahagiaanmu, Frea," jelas Arav, yang mulai menangkap gelagat aneh dari sang anak. Manik matanya menyambar jari manis Frea, di sana terpasang cincin emas bermata kecil seolah melambangkan sebuah cincin pernikahan.


"Tidak ayah, aku tidak apa-apa."


"Tapi ayah menangkap kesedihan di matamu, apakah kalian saling mencintai?" tanya Arav.


"Tidak! Kami hanya teman," jawab Frea tegas.


***


Mentari menggantikan sinar rembulan tatkala pagi telah menjelang, sayup-sayup cahayanya hangatnya mampu menyapu kulit tuan Arav yang sengaja duduk di bawah bayangan matahari yang begitu terang.


Semua orang tampak sibuk menata meja-meja, karena sebentar lagi adalah hari pernikahan untuk Yufen dan Zico.


Sementara Frea hanya menatap sendu di balik kaca di kamarnya yang langsung mengarah ke arah taman tersebut.


Acara pernikahan itu bertemakan garden party, konsep yang paling disukai oleh Arav.


Frea tengah siap dengan gaun putih sebatas lutut untuk ikut serta menyaksikan pernikahan laki-laki yang di cintainya itu. Ia tahu jika mereka belum berpisah secara hukum.


Tapi ia tetap harus menggadaikan kebahagiaannya itu demi ayahnya.


***


Siang telah menjelang, Zico menunggu Yufen di altar pernikahan dan akan mengucap janji sehidup semati dengan Yufen.


Tak berselang lama sosok yang paling ditunggu oleh para tamu, menampakkan diri, membuat semua orang berdegup dengan kecantikan Yufen yang tampak paripurna, akan tetapi pergelangan tangannya terperban namun tidak meninggalkan kesan yang aneh untuknya.


Asta yang datang dengan anak dan suaminya duduk satu meja dengan tuan Arav dan keluarganya, ia duduk di samping Frea yang terus menatap nanar sosok laki-laki yang ia cintai sejak lama.


"Kamu yakin akan mengiklaskan dia untuk wanita lain?" tanya Asta lirih.


Seketika Frea mengkerutkan dahi karena merasa bingung dengan pertanyaan Asta.


"Ya ... aku sangat bahagia untuk adikku, Kak," jawab Frea tersenyum.


"Omong kosong! Matamu tidak memancarkan kegembiraan untuk mereka! Kamu yakin akan melihat Zico bahagia dengan wanita lain? Kamu sudah menikah dengan adikku, bukan?" cecar Asta menyadarkan Frea yang masih saja pura-pura bahagia dan menerima kenyataan pahit ini.


"Maksud kakak?" Frea terkaget mendengar kata-kata Asta.


"Kamu yakin dan bisa membayangkan Zico akan bercumbu mesra dengan adikmu yang tidak pernah menganggapmu sebagai saudara itu?


Kalimat Asta tampak terpotong, membuat Frea mau tidak mau menatap kembali sosok Zico yang berdiri membelakangi mereka.


Saat Zico akan mengucap janji suci atas Yufen dan bersedia menerimanya dan bahagia sehidup semati. napas Frea memburu, air matanya keluar berhamburan membasahi kedua pipinya.


Ia sungguh tak kuasa menahan gejolak dalam hatinya, pikiranya kacau ia sangat frustasi dengan ini semua.


"Tunggu!" teriak Frea, dan berhasil membuat seluruh undangan menoleh ke arah Frea.


"Dia ... laki-laki itu adalah suamiku! Zico adalah suamiku!" Frea berlari ke arah altar pernikahan, menuju laki-laki yang ia cintai.


Zico membentangkan tangannya untuk wanita itu, mereka saling berpelukkan, Frea mengecup bibir Zico berkali-kali.


"Jangan ... kamu tidak boleh menikah dengannya, kita sudah berjanji hidup bahagia bersama dan kemarin kita sudah mendaftarkan pernikahan kita." cecar Frea dengan napas memburu.


"Iya ... aku tidak akan menikah lagi, cukup satu, kamu istriku selamanya," balas Zico lembut.


Yufen menatap mereka dengan penuh kebencian, ia berusaha melukai Frea namun Zico dengan tubuhnya membentengi wanitanya agar tidak kena pukulan wanita gila itu.


"Frea! Dasar wanita tidak tahu diri!" seru Mardella murka.


"Cukup!!!!!!!!!" teriak Arav mengagetkan Mardella, ia terkejut karena Arav selama pernikahan mereka tidak pernah membentak dirinya.


Asta dan Arga tersenyum puas melihat keberanian Frea memperjuangkan cintanya.


"Tapi Arav ...."


"Acara ini selesai, terimakasih untuk para undangan yang bersedia hadir meskipun acara ini sangat mendadak." Arav pergi meninggalkan acara pernikahan yang berantakan itu.


"Frea, kamu mau melihatku mati, 'ha?!"


"Coba saja kamu akhiri hidupmu di sini! Seperti yang kamu lakukan sebelumnya, di depan banyak orang!" ledek Zico masih memeluk erat tubub istrinya.


Mata Yufen memindai ke arah seluruh undangan yang menyaksikan drama keluarga tersebut dengan tatapan beragam, banyak dari mereka merasa iba dengan Frea yang hampir memberikan suaminya untuk adiknya.


Yufen memilih pergi dengan suasana hati yang panas, meninggalkan pasangan itu.


Sementara Arga dan Asta menghampiri pasangan itu. "Selamat atas keberanianmu, Frea!" ucap Arga dengan nada penuh dengan kepuasan. "Dan kamu bakiak! Jaga adik iparku baik-baik!"


Asta memeluk tubuh Frea, dan membisikkan sesuatu, "Aku bangga padamu, Frea!"





Besambung~


Terimakasih 🙏



Numpang Promo, bagi yang menyukai Dark Romance, bisa baca Mr. Mafia yang menceritakan tentang seorang mafia berdarah dingin yang mengungkapkan cintanya kepada gadis kecil berusia 19 tahun dengan cara yang salah.


Bukanya terkesan, hal itu malah membuat gadis itu membenci mafia tersebut.