Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Malam Pengantin



Boss Come Here Please! 130


Langit gelap bertabur gemintang malam ini. Seolah mereka ikut bersuka cinta dengan perhelatan pernikahan Frea dan Zico. Semua mata tertuju ke arah mereka dengan tatapan bercampur, sebagian dari mereka menyambut pesta dengan suka cinta sebagian yang lain hanya melihat dengan pandangan datar.


Sementara para wanita sibuk memasak demi acara pernikahan ini. Entah mengapa penduduk desa itu tampak bersemangat sekali dengan acara ini. Padahal mereka sama sekali tidak mengenal Zico maupun Frea.


Frea yang memakai pakaian adat berwarna merah berpadu emas sangat cantik sekali sementara Zico memakai baju pernikahan dengan warna serupa juga terlihat sangat gagah. Mereka benar-benar pasangan serasi dan di balik itu semua mereka juga mencintai satu sama lain.


"Tidak bisa! Saya tidak ingin menikah!" Frea terus menyanggah ucapan tetua yang mulai kehilangan kesabaran.


Tetua itu nampak diem sejenak, lalu tiba-tiba bersiul dengan suara keras sehingga memekakkan telinga Frea dan Zico yang ada di hadapannya.


Spontan Frea menutup telinganya dengan kedua tangannya dan Zico yang masih duduk di samping Frea yang berdiri mencoba menenangkan Frea.


Dua orang bertubuh kekar muncul dari balik kerumunan orang membawa dua cambuk besar yang siap menghukum mereka berdua.


"Mereka adalah algojo di desa ini, yang siap menghukum kalian tanpa ampun!" tutur tetua dengan nada penuh penekanan.


"Biarkan saya saja yang dihukum, tapi jangan untuk wanita ini!" ujar Zico seperti hendak membunuh dirinya sendiri.


"Tidak bisa! Kalian melakukan kesalahan ini berdua. Kalian harus mempertanggung jawabkan ini semua bersama!" seru tetua itu dan membuat para masyarakat yang bersorak sorai tiba-tiba berhenti karena taku. Tetua itu memang benar-benar memiliki aura hawa pembunuh sehingga disegani bahkan ditakuti oleh semua penduduk desa itu.


"Ta-tapi ...." Frea terbata dan tidak sanggup lagi berkata apa-apa.


"Tidak ada tapi-tapian! Duduk!" Sang tetua itu mulai tidak sabar bahkan mengeluarkan senjata tajam lalu di letakkan di atas meja sehingga membuat Frea bergidig karena takut.


Secara impulsif Frea yang ketakutan menurut dan duduk dengan kaki bergetar hebat, ia terus menatap ke arah sang tetua yang terlihat sangat bengis itu.


Sesorang memberi air bejana besar yang di dalamnya berisi air dan bunga tujuh rupa, lalu tetua itu merampas tangan Zico lalu menyalaminya. Laki-laki tua itu tampak komat-kamit seperti membaca mantra yang tidak di ketahui oleh Frea.


Dengan tangan masih di pegang oleh tetua, Zico dituntun mencelupkan tangannya ke air tersebut dan mengambil beberapa bunga lalu dengan keadaan tangan yang basah ia menempelkannya ke kepala Frea yang duduk dengan kaku.


Lalu seseorang datang membawa segelas air berwarna putih lalu di letakkan di hadapan kedua mempelai.


"Minumlah!" perintah tetua itu.


"Air apa ini?!" seru Frea memandang air itu dengan tatapan aneh.


"Minum!" paksa tetua dengan menggebrakkan senjata tajam miliknya di atas meja


Dengan berat hati Frea dan Zico meminum air tersebut, rasanya sungguh aneh seolah semua rasa bercampur menjadi satu atara manis gula, getir sedikit pahit dan asam seolah itu menandakan pahit getirnya sebuah hubungan percintaan.


"Itu adalah sari bunga krisan yang di campur gula dan jeruk nipis," tutur tetua menjelaskan.


Frea bergidik dan ingin memuntahkan air itu. Namun sang tetua berhasik membuat Frea menelan semua air itu.


"Jangan dimuntahkan! Atau senjata ini akan mengalungi lehermu!"


"Kenapa bunga Krisan?" tanya Zico penasaran.


Sang tetua memandang Zici dengan tatapan berbeda, tetua itu menganggap Zico lebih mudah di hadapi dari pada Frea yang memberontak.


"Bunga seruni atau yang mungkin lebih akrab di telinga sebagai bunga krisan memiliki arti yang berbeda-beda satu sama lain, tergantung dari warnanya. Biasanya yang paling sering ditemui adalah bunga seruni kuning dan putih. Apa maknanya?Putih, kejujuran, kebenaran, setia. Kuning cinta yang bertepuk sebelah tangan, cinta yang harus diwaspadai. Ungu, keinginan yang kuat untuk memiliki tubuh sehat. Sedankan warna merah, rasa cinta. Maka dari itu desa kita memakai warna putih untuk mempererat hubungan mempelai pernikahan." Tetua menjelaskan secara gamblang adat desa mereka.


"Jadi sekarang?" tanya Zico.


"Dia istrimu dan kamu suaminya, sesuatu yang disatukan tidak boleh dipisahkan, karena itu akan menentang Tuhan dan alam. Pernikahan ini sungguh sakral, jadi kalian sudah terikat satu sama lain," jelas tetua itu, lagi.


"Apa?! Semudah itu, 'kah?" tanya Frea setengah berteriak.


Namun tetua itu tidak menanggapi ucapan Frea dan malah membiarkan Frea dengan segala spekulasi yang berputar-putar di otaknya.


"Kalian silakan nikmati hidangan pernikahan kalian yang sudah disiapkan oleh para wanita di desa ini. Saya tahu jika kalian belum makan sejak tadi."


Frea dan Zico mengalihkan pandangan ke sebuah meja panjang yang tidak tahu sejak kapan meja itu ada di sana. Karena tadi benda itu tidak ada ketika ia datang memasuki lapangan luas itu.


"Apakah pernikahan ini disengaja? Sejak kapan masakan itu di masak?" bisik Frea kepada Zico.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu, aku sangat lapar, Istriku." Zico mengoda Frea dengan nada nakal.


"Ingat, kita hanya suami istri di desa ini. Bukan yang sebenarnya!" bisik Frea dengan nada penekanan.


"Tapi tadi ...."


"Tidak ada kata tapi dalam kamusku! Besok kita harus pergi dari sini!" ujar Frea.


****


Setelah selesei para masyarakat pulang kerumah masing-masing. Frea yang masih kebingungan tiba-tiba dihampiri oleh istri tetua yang tadi mendandaninya dengan sangat cantik.


"Ayo pulang! Kamar pengantin kalian telah disiapkan," kata istri tetua, wanita itu sangat berbanding terbalik dengan suaminya, ia begitu lembut san ramah.


"Kamar pengantin?" tanya Frea bingung.


"Ya ... Kamar pengantin. Kalian harus tidur dan mungkin harus melakukan ritual di mana suami istri akan benar-benar bersatu," goda sang istri tetua tersebut.


Zico tersenyum simpul, lalu menggandeng tangan Frea yang hendak marah-marah kepada istri tetua itu.


"Frea ... Kamu harus sabar! Jangan tunjukan emosimu! Kita turuti saja keinginan mereka!"


"Bukan keinginan mereka saja, tapi keinginanmu juga!" sahut Frea dengan nada kesal.


Zico tertawa dan menggaruk tengkuknya karena malu.


"Ayo silakan masuk dan beristirahatlah!" perintah wanita setengah baya itu.


Mereka berdua masuk menuruti perkataan sang istri tetua, meskipun dengan sedikit berat hati.


Nuansa kamar yang tampak remang di hiasi kelambu berwarna putih dan sprai berwarna merah membuat suasana di dalam kamar tersebut sedikit aneh untuk Frea. Tapi tentu saja jantungnya berdetak hebat. Bagaimana pun malam ini ia berada di dalam satu ruangan dengan laki-laki yang ia cintai.


Tiba-tiba Zico membuka baju dan membuat Frea menjerit spontan menutup mata.


"Mengapa kamu malu? Bukankah kamu pernah melihat semua yang ada di tubuhku saat itu? Lalu kenapa kamu malu? Lagipula aku sedikit gerah meskipun udara di sini cukup sejuk."


"Tapikan ...."


"Tapikan apa?"


Zico perlahan menghampiri Frea seolah sedang ingin menerkamnya seperti serigala yang sangat lapar.


"Aaaaaa ...." Frea berteriak sekenceng-kencangnya membuat Zico sedikit gusar lalu menutup mulut Frea dengan tangannya.


"Kamu bisa tenang tidak?!" Aku hanya ingin berbaring di tempat tidur itu," kata Zico lirih sambil menunjuk tempat tidur di belakang Frea.


Frea mengangguk mengerti dan melepaskan tangan Zico dari mulutnya.


Zico tanpa basa basi membaringkan tubuhnya yang terasa kaku di atas tempat tidur.


"Istriku, tidurlah di sampingku!" ucap Zico dengan nada lirih nan menggoda.


Mata Frea terbelalak antara takut dan ada perasaan aneh yang memenuhi dadanya. Antara ia ingin tapi akal sehatnya selalu memberontak dan mengikis semua keinginannya untuk bersama Zico.





Bersambung....


Astaga malam pertama 🐍


Aku mau mereka benar-benar ina inu 😭


Jangan lupa tinggalkan Like komen dan Vote, 'yah!


Terimakasih dan Papay.