Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Andai Kita Menikah



Boss Come here Please! 123


Urat ketegangan menjalar ke seluruh tubuh Frea, napasnya seolah berhenti tatkala bibir ranum milik Zico masih menempel di ujung mulutnya. Tangannya pun mengepal sementara jantungnya tak berhenti berdetak.


Zico melepaskan ciumannya yang begitu membara, lalu ia menatap kedua bola mata indah berbingkai lentiknya bulu mata Frea. Tanpa permisi ia mencapit ujung hidung Frea dengan jarinya. Hal itu membuat Frea sedikit terkejut.


"Tidurlah! Besok kita harus menangani pasien. Aku sengaja mengajakmu kesini. Karena jika kita pulang ke apartementmu, itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Kulihat kamu sedikit lelah, tadi."


Frea tersenyum canggung, ia menggaruk bawah rambutnya karena malu. Bagaimana bisa pikirannya berlari-lari ke sana ke mari membayangkan apa yang akan terjadi dengan mereka berdua.


"Iya ... Sebaiknya kamu tidur di dalam kamarmu, biarkan aku tidur di sofa ini," ucap Frea.


"Bagaimana bisa aku meminta wanita yang aku cintai tidur di sofa, pasti akan terasa dingin dan tidak nyaman." Zico berucap dengan nada menggoda dan membuat wajah Frea seketika menjadi merah.


"Baiklah kalau begitu, aku akan masuk ke kamar, kamu cepatlah tidur!" ujar Frea dengan berjalan cepat karena ia sedikit takut jika tiba-tiba Zico berubah pikiran dan menerkamnya kembali seperti serigala lapar yang haus akan belaian kasih sayang.


"Jangan lupa kunci pintu, Frea. Aku tidak akan bertanggung jawab jika tiba-tiba masuk dan tidur di sampingmu," goda Zico.


"Tidak perlu kamu ingatkan. Aku akan mengunci pintu hingga benar-benar rapat, bahkan semutpun tak mampu masuk, apalagi kamu ...."


Zico terkekeh mendengar ucapan Frea, matanya lurus ke depan memandang Frea yang sedang berjalan lalu menghilang di balik pintu.


Dari balik kamar, napas Frea menderu detak jantungnya berdebar kencang. Ia memegang bibirnya sendiri bekas kecupan mesra Zico.


"Ia telah merampas ciuman pertamaku di kantorku tadi dan kini ia mengulangiya kembali!" gumam Frea, sedikit kesal.


Ia duduk di atas kasur besar milik Zico, lalu merebahkah tubuhnya perlahan. Matanya seolah tak bisa di ajak berkompromi, bahkan ia tidak merasakan kantuk sama sekali, membuatnya mengerang karena kesal.


Setengah jam berlalu setelah berjuang untuk kembali merasakan rasa kantuknya, kini Frea bisa memejamkan matanya dan berdamai dengan mimpi indahnya.


*****


Frea terbangun dan terkejut tatkala tiba-tiba ia bermimpi seolah ia sedang jatuh di lembah jurang yang dalam, membuatnya terperanjat dan mengerjapkan mata.


Matanya terus memindai keadaan sekitar. Ia lupa jika ia tidak sedang tidur di kamarnya, melainkan kamar Zico sang pujaan hatinya.


Ia berjalan menuju gorden hitam yang menyelimuti dari dalam jendela berbentuk kaca besar. Matahari telah menyinsingkan cahayanya dan menerobos masuk kamar Zico yang sejak tadi malam hanya bercahayakan lampu tidur kecil.


Frea berbalik badan, seketika itu juga ia kembali di buat terkejut dengan tembok kamar yang di hiasi foto berjejer Frea. Ia mengucek matanya sendiri guna memastikan bahwa penglihatannya sedang baik-baik saja.


Frea sangat heran dari mana Zico mendapatkan fotonya semasa kuliah di luar negeri.


Dia mencoba melupakan dan keluar dari kamar itu. Pelan ia membuka pintu kamar, matanya langsung menyambar sofa besar di mana Zico tidur semalam. Namun ia tak menemukan laki-laki itu di tempatnya, ia mengerutkan dahinya sendiri karena heran.


"Kemana dia?"


Frea bergumam dalam hati, pupil matanya terus mencari keberadaan Zico, sepintas ia mencium bau wangi masakan yang sangat menggoda indera penciumannya.


Ia kembali menutup pintu Kamar Zico dan berjalan perlahan. Keluar dari zona aman itu. Ia sedikit mengendap menuju dapur.


Ia melihat Zico sedang melakukan aktifitas di dapur dengan menggunakan apron hitam yang melekat di dadanya guna mencegah kotoran terciprat di baju.


"Kamu masak?" Pertanyaan Frea membuat Zico menoleh, lalu tersenyum lembut. Wajahnya yang tampan seolah seperti tokoh drama korea yang melompat dari televisi, membuat wajah Frea memerah dan hatinya meleleh.


"Selamat pagi, sayang!" ucap Zico menyapa Frea dengan nada hangat nan menggoda.


"Adegan ini membuat kita seperti suami istri, andai saja kamu benar-benar menikah denganku." Zico mengalihkan perkataan Frea.


"Tidak mungkin! Kita sama-sama memiliki orang yang mencintai kita."


"Tapi kita tidak mencintai mereka, Frea. Apapun jalan cerita kita, jika kita berjodoh pasti akan bertemu. Bagaimana pun caranya."


Frea berjalan mendekat dan berdiri di samping Zico yang tengah asyik menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Apakah kamu bisa masak, Frea?" tanya Zico.


"Tentu, aku bisa memasak sendiri ketika aku kuliah. Karena aku hidup sediri dan harus berhemat. Ayahku tidak mengirimkan banyak uang waktu itu. Jadi aku juga bekerja paruh waktu sebagai pramusaji di restoran fast food," jelas Frea, matanya terus menatap cara Zico memanggang roti tawar.


"Kuliah di sana membuatmu menjadi kuat dan mandiri, Frea. Bahkan kamu sudah berubah. Kamu tidak egois dan kekanak-kanakan lagi."


"Lihat umurku sekarang! Bahkan kamu satu tahun lebih muda dariku," dengus Frea.


"Cinta tidak menandang usia. Bahkan kamu hanya setahun lebih tua dariku. Itu tidak masalah, bahkan ada juga laki-laki berumur 28 tahun menikahi wanita umur 60 tahun. Itu karena apa? Jelas itu karena cinta, karena keinginan saling memiliki mereka cukup kuat, Frea. Andai saja kamu punya keberanian itu!"


"Cinta tidak harus memiliki, Zico," sahut Frea santai.


"Aku paling benci dengan kata 'Cinta tidak harus memiliki' mana ada cinta seperti itu. Cinta tentu harus di kejar apapun caranya. Karena kita ingin bahagia bersamanya!"


Frea hanya terdiam tak menanggapi celotehan Zico yang di anggapnya omong kosong belaka. Ia telah memutuskan untuk bertunangan dengan Sammy. Itu adalah janjinya.


"Oia ... kamu bilang ayahmu tidak mengirim banyak uang? Padahal di sini Yufen hidup bergelimang kemewahan," ucap Zico sedikit heran.


"Mungkin ayahku sedang melatihku untuk hidup mandiri, agar aku benar-benar menjadi wanita hebat agar bisa meneruskan rumah sakit kami."


Zico membawa makanan yang sudah siap ke meja makan, sarapan lezat roti isi daging dan sayuran serta salat sayuran dan susu low fat menghiasai meja berbentuk bulat itu.


"Segeralah makan, aku akan mengantarmu pulang agar kamu bisa berganti baju dan berangkat ke rumah sakit," ucap Zico sambil menarik kursi untuk Frea duduk.


Zico benar-benar memperlakukan Frea dengan baik, sangat berbeda dengan ketika ia bersama Yufen yang ia perlakukan dengan dingin.





Bersambung....


Hayo siapa yang kecewa, mereka tidak jadi ina inu?


Kalian tim mana? Tim kecewa atau tim bersyukur?


Jawab pertanyaanku di kolom komentar yah teman-teman! 😁


Jangan lupa Like, Komen dan Vote yak....


Agar aku semangat 67 🤩


Terimakasih dan papay