
Si Adi beli kaca
Ya pasti buat ngaca.
Jangan lupa baca
Setelah buka puasa....
wkwkwkwkwk
Siang itu masih dengan perasaan campur aduk yang terus menghujam jantungku, diantara perasaan ingin terus tinggal ataukah aku harus pergi dari kehidupan laki-laki yang sudah beberapa bulan ini menancapkan cintanya untukku.
Pikiranku masih berkutat di sana, bagaimana aku pergi, dengan apa aku pergi, konsekwensi apa yang akan ku dapat, jika aku tertanggap oleh Arga.
Di samping itu aku juga terus dibayangi trauma ketika Arga mencoba membunuh Wina di depan mataku. Bagaimana bisa itu terjadi? bagaimana jika suatu saat itu terjadi padaku?
Tiba-tiba aku dikagetkan suara pintu terbuka. Benar saja Arga masuk dengan membawa makan siang untukku. Dia membawakannya khusus untukku dengan nampan berwarna coklat besar, di atasnya terdapat beberapa makanan sup ikan tuna, ayam goreng kesukaanku, buah-buahan potong dan secangkir susu. Ia tersenyum ramah untuku, lalu duduk di samping kasur di mana aku juga duduk di sana. Ia memandangku dengan pandangan menilai, dari atas sampai bawah.
"Sayang ... makanlah, aku memasak ini semua untukmu. Jangan berpikir melakukan hal yang sia-sia. Kamu tentu akan mengetahui konsekwensi apa yang akan kamu dapat setelah tertangkap." Ia menjelaskan semua padaku, supaya aku sadar jika dialah satu-satunya tempat aku kembali.
Aku hanya bergeming, memutar otakku, agar aku bisa membalas kalimatnya itu.
"mmmh ... aku tidak mencoba untuk kabur. Kamukan tahu betul bagaimana perasaan aku untukmu?" Aku mencoba bersikap tenang menanggapi kata-kata Arga.
"Wanita pintar." Ia mengusap-usap rambutku dengan lembut. "Setelah ini kita tidur bersama, oke," ucap Arga.
"Haaa ... tidur bersama?! lagi?"
"Tidur siang, 'kan?" jawab Arga sambil sesekali menyuapiku. "Tidur siang dan tidak lebih, Asta. Pikiranmu terlalu kotor."
Rona pipiku berubah memerah karena malu.
"Lalu, apakah pengawalmu ada di depan sekarang, Arga?"
Arga hanya menggelengkan kepala lembut, namun tangannya tak henti menyuapkan sesendok demi sesendok nasi untukku.
"Tadi aku mendengarkanmu, berteriak dengan lantang, jika mereka harus berjaga di depan pintu kamar ini, setiap saat."
Arga menghentikan aktifitasnya sejenak, kemudian menatapku dengan tatapan malas dan menghela nafas panjang.
"Itu aku lakukan jika aku tak ada di kamar ini. Jika aku sedang di sini. Untuk apa aku memerintahkan mereka untuk menjaga di depan pintu. Apakah mereka harus mendengar desahanmu, ketika kita sedang bercinta?" ucapnya, kembali menyuapiku.
"Oh ... begitu."
Kemudian suasana menjadi hening, pikiranku berkutat mencari cara bagaimana aku bisa kabur dari tempat ini. Pasti di sini banyak penjaga yang menjaga tempat ini. Sehingga mau tak mau aku harus memutar otak dan memeras otakku sendiri.
Sementara Arga meletakkan nampan yang makanannya sudah habis tak bersisa, karena ulahku.
"Aku akan ganti baju," ujarnya beranjak pergi menuju walk in closet.
"Bagaimana dengan Wina, apakah ia baik-baik saja?" Kuberanikan diri melongarkan kalimat pertanyaan kepada suamiku.
Ia berhenti sejenak seperti kaget mendengar kalimat pertanyaanku. "Kamu tak perlu memikirkannya, dia sudah memperlakukan kamu dengan buruk. Untuk apa kamu ingat padanya?! yang perlu kamu ingat hanya aku, Asta," ujar Arga sambil berlalu melanjutkan langkahnya.
✳✳✳✳✳
Beberapa saat kemudian Arga keluar, dengan senyuman ramah tanpa dibuat-buat. Sebenarnya aku suka senyuman itu, tapi entah kenapa semenjak kejadian Wina, melihat senyuman itu seolah aku merasa merinding.
"Ayo tidur!" ucapnya sembari naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut segera memelukku.
"Tapikan ini masih siang, Arga. Aku belum ngantuk."
Arga meraih tubuhku, dan memelukku dengan erat. "Dengan begini kamu akan segera terlelap, sayang."
Aku menurut saja, tanpa memberontak sama sekali, sementara itu nafas Arga sudah mulai teratur. Sepetinya ia sudah lelah dan dengan mudahnya terlelap begitu saja.
Dan aku dengan perasaan cemas dan khawatir membuat pergerakan setenang mungkin untuk melepaskan diri dari pelukan Arga.
Pelan dan setenang angin, hingga aku terlepas dari pelukannya. Dan dengan mengendap-endap berjalan menuju pintu sambil sesekali mempermelihat ke arah Arga. Takut jika ia tiba-tiba terbangun.
Aku membuka pintu kamar berwarna coklat itu kemudian berjalan tenang menyusuri puluhan koridor kamar itu. Hingga aku sampai di tangga dengan warna coklat memutar kemudian menuruninya, dengan mencoba merasa tenang aku nyusuri satu demi satu anak tangga.
Aku baru sadar jika aku masih menggunakan piyama tidur yang sejak semalem belum aku ganti, karena sengaja hari ini belum mandi.
Sementara para pengawal yang berjaga di depan pintu melihat ke arahku, sebelum mereka mengajukan pertanyaan, maka aku akan mengucapkan beberapa patah kata agar mereka tak curiga.
"Aku ingin berjalan-jalan di taman bunga sana, dan Arga sudah mengizinkan aku."
Salah satu dari mereka menjawab, sepertinya ia pemimpin tim itu. "Baiklah Nyonya." Dengan suara tegas tanpa nada.
Aku dengan bebas keluar area rumah itu, karena halamanya cukup luas dan dikelilingi tembok-tembok besar membuatku bingung, bagaimana cara aku kabur. Aku ingat jalan dari rumah ini ke gerbang utama sangat jauh.
Aku menuju arah selatan untuk mencari tempat yang bisa aku lalui untuk kabur, mungkin saja di sana ada semacam pintu rahasia.
✳✳✳✳
Pov Author
Arga menggerakan badan, ia kaget dan terjaga, wanita di sampingnya hilang, ia beranjak menuju kamar mandi dan membukanya pintu. Namun nihil, karena Asta tak ada di sana. Kemudian ia berlari keluar dengan perasaan cemas dan campur aduk.
"Bagaimana ia pergi meninggalkan ku? padahal kucurahkan cintaku untuknya," gumam Arga.
Bersambung ke bab selanjutnya.
Kira-kira apakah Asta akan tertangkap?
hohoho
Silahkan perspekulasi, dan bab selanjutnya akan lebih seru...
✳✳✳✳
Penggalan kata indah dari seorang teman.
Bait yang kau torehkan dalam kalbu
Menghantarkanku pada sebuah prosa indah
Irama syahdu yang terlantun
Membuat jantungku berdesir getir
Mimpikah aku tuk memilikimu?
Dalam jalinan asa yang terajut kuat
Kan kugenggam tanganmu tanpa lelah
Bergandengan tuk menganyam hari esok
Pikirku tak juga mengerti
Mengapa benang merah itu tak kunjung terjalin
Tak cukupkah rasa melandasi?
Tak cukupkah pengorbanan kulalui?
Sejauh apa pun aku bersembunyi bersamamu
Secepat apa pun aku berlari membawamu
Rantai takdir tetap menyeret kembali
Mencambuk kita tuk terluka berulang kali
Kau pun menyerah dalam tangis
Aku pun tertunduk tanpa daya
Menyaksikan bungaku terbang ke istana
Tuk membeku … ditemani dinginnya salju.
oleh
Sudrun, Author penjelajah malam.
Subang, 8 Mei 2020.
Hello temen-temen, jangan lupa like, komen, rate bintang 5 untuk Boss Come here Please! yah. Itu sangat penting buat Novi. Karena itu semangat untuk para author-author dalam menulis.
oia, Novi punya rekomendasi Novel seru dan keren dari sesama author.
Judul\= You and I : Love Story Romance.
Pena\= Souvarrel Hellvaelumgladriaxus.
judul\= My Heart is Only For you.
Pena\=Ergina Putri.
Judul\=Istri Pilihan Ibu
Pena\=Septriani Wulandari
Judul\=Pujaku Mayang
Pena\=Azis beck
Judul\=Sebenarnya Cinta
Pena\= Fa. Queen
Eh ... Novi ada grub chat juga loh, kalian bisa lebih deket sama Novi di sana, bisa tanya apapun di sana, nagih update, kreji up, apapun itu kalian bisa lakuin di sana.
Novi tunggu yah temen-temen.
Gumawo
Novi Wu