
Boss Come Here Please! 134
Frea menarik napas lega ketika luka Yufen telah terbalut dan darahnya berhenti. Ia masih tak sadarkan diri akibat luka di pergelangan tangannya.
Zico menghampiri Frea yang berdiri menatap wajah adiknya lalu ia memeluk tubuh lemah istrinya.
"Sayang ... Jangan khawatir. Dia akan baik-baik saja."
Mata mereka saling beradu saat Frea memalingkan wajahnya dan memutuskan untuk memandang wajah rupawan Zico.
"Aku tidak bisa melanjutkan ini," ucapnya lirih lalu berlari keluar dan Zico seketika mengikuti istrinya keluar. Lalu menangkap pundak istrinya dan memeluk erat tubuh Frea.
"Aku tahu jika kamu khawatir. Tapi coba lihat! Yufen hanya ingin mengacau saja. Bahkan ancamanya saja hanya gertakan sambal, ia memotong tangannya tidak mengenai urat nadinya. Itu menandakan bahwa dia hanya akting demi memisahkan kita," tutur Zico menjelaskan agar Frea bergeming dengan apa yang dilakukan oleh Adiknya itu.
"Tapi bagaimana jika dia melakukan hal yang lebih nekat?" Frea terus menggigit ujung kukunya, itu menandakan ia sedang kalut.
Zico meraih kepala Frea dan meletakkannya di dadanya dan berkata, "Apapun yang terjadi, aku milikmu dan kamu adalah milikku sampai kapanpun itu."
Derai air mata terus mengalir di kedua pipi Frea bulir-bulir air ketulusan itu tumpah dengan begitu liarnya, ia mendekap dan melingkarkan tangannya ke pinggang Zico dan itu sungguh membuatnya sedikit lebih baik.
"Biarkan aku mendekap tubuhnya, walau hanya untuk terakhir kalinya," gumam Frea dalam hati memeluk tubuh Zico semakin erat.
Mentari telah menyingsingkan lengannya tepat tengah hari Frea memilih pergi dan kembali ke ibu kota untuk menghindari Zico yang sedang sibuk membantu para korban bencana.
Frea harus mengiklaskan Zico demi kelangsungan hidup Yufen. Entah mengapa Frea menjadi lemah ketika ia berhadapan dengan Yufen, seolah secara impulsif dia mengikuti semua apa kemauan Yufen.
****
Ketika sore telah tiba, Zico terus mencari keberadaan istrinya. Namun di mana pun ia mencari, dia tidak menemukan Frea. Napasnya memburu jantungnya berdetak hebat ketika ia tidak bisa melihat Frea.
Ia menghampiri seorang dokter yang sedang memeriksa Yufen dan bertanya padanya, "Apakah anda melihat dokter Frea?"
Belum sempat dokter itu menjawab, Yufen langsung menimpali perkataan Zico, "Hahahh ...." Yufen tertawa mengejek. "Ia telah kembali ke ibukota, Zico. Wanita yang kamu sebut istri itu, ia telah pergi meninggalkanmu!"
Zico menyipitkan mata, menatap wajah Yufen dengan penuh kebencian yang sangat amat dalam. "Kamu memang wanita tidak waras!" umpat Zico kepada Yufen.
Lalu ia memilih berjalan pergi, ia mengeluarkan ponselnya berharap ada jaringan yang masuk untuk menghubungi istrinya.
Sementara itu di ibukota, Frea memandang langit jingga yang sebentar lagi akan berganti menjadi gelap, tiba-tiba ponselnya berdering nada dering lagu favorid Zico sebagai pertanda jika laki-laki itu meneleponnya. Karena Frea sengaja membedakan nada dering untuk panggilan Zico.
"Halo ...." ucap Zico dari balik ponselnya.
"Iya ...." jawab Frea dengan nada tenang. Meskipun dengan susah payah ia melakukannya.
"Kamu di mana?" tanya Zico lirih, tersirat nada khawatir di sana.
"Aku telah kembali ke ibukota. Aku hanya ingin kembali lebih cepat untuk menemui ayahku."
"Frea, kamu istriku sekarang. Kamu harus mengikutiku di manapun aku pergi."
"Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu, Zico. Meskipun aku sangat mencintaimu. Tapi kamu tercipta bukan untukku."
"Di mana Frea kuat yang aku kenal?! Di mana wanita yang aku cintai?! Aku mencintaimu dan kamu mencintaiku. Kita sudah lelah dan dengan susah payah kita bisa bersatu. Tapi kamu ...."
Belum sempat Zico meneruskan kalimatnya Frea memilih menutup telepon itu dan mematikan ponselnya.
Prempuan itu menangis sejadi-jadinya.
"Tuhan ... Aku sungguh mencintainya, tapi kupikir aku tidak tercipta untuknya. Namun aku ingin memilikinya. Jangan pernah katakan jika aku egois, Tuhan!" teriak Frea.
Frea terus mengasiani dirinya sendiri, karena tidak mempunyai keberanian untuk bersama dengan Zico. Ini bukan tentang Yufen, ia berkorban hanya untuk ayahnya. Karena ia tidak bisa membayangkan jika ayahnya tiada.
****
Esok paginya, suara ketokan pintu dengan begitu kencang mengagetkan Frea, dan membuat ia mengerjapkan mata bangun dari mimpinya. Gedoran pintu itu mulai lebih kencang, maka dari itu Frea segera berlari agar pintunya tidak di hancurkan oleh orang itu.
Pintu telah terbuka, Zico datang dengan wajah kusut dan kacau, ia memeluk tubuh Frea dengan erat.
Lagi-lagi hal itu membuat Frea meneteskan air mata, ia ingin tapi tidak bisa, dan itu sungguh menyakitkan untuknya.
"Kamu istriku, sampai kapan pun kamu adalah aku!" kata Zico.
Frea bergeming mendengar ucapan Zico dan memilih tidak melakukan apapun apalagi untuk membalas pelukan Zico.
"Jawab aku, Frea!"
Frea hanya menggelengkan kepala pelan, dan menunduk. Zico mendorong tubuh Frea dengan lembut hingga menyentuh kepala sofa.
"Jawab aku!" ucap Zico lagi.
"Aku tidak bisa!" teriak Frea.
Zico menangkup kedua pipi Frea dan mencium bibir Frea mengesap lembut dan mengaitkan lidahnya. Frea yang tadinya hanya diam seolah terdorong oleh nafsunya dan membalas ciuman Zico.
Frea merasa bibir Zici begitu manis seolah menjadi candu untuknya sehingga membuatnya tak ingin lepas dari kecupan panas membara Zico.
Tangan Zico mulai nakal dan merogoh ke dalam baju tidur Frea, meremas segala apa yang ada sehingga membuat Frea merinding karena geli.
"Stop!" Frea melepaskan ciuman Zico.
Ia memilih mendorong Zico agar menjauh darinya. Ia tidak mau semakin larut dalam napsu yang semakin dalam.
"Aku akan mendaftarkan pernikahan kita!" ucap Zico.
"Hah ... ?! Ti-tidak bisa!"
"Bisa!" Zico bersikukuh untuk meresmikan pernikahan mereka.
"Aku tidak bisa karena ayah."
"Kita rahasiakan pernikahan kita dari ayahmu, sampai pada saat yang telat kita akan memberitahu ayah."
Frea terdiam seraya berpikir. "Rahasia?"
Zico mengangguk ragu. "Ya ... Rahasia, kita rahasiakan dulu ini semua."
"Mhhh ... Tapi Yufen?" tanya Frea lagi.
"Kita bersandiwara seolah kita telah berpisah."
Frea memukul pundak Zico dengan sangat keras. "Jadi kamu mau dengan kami berdua?!"
Zico terkekeh mendengar kecemburuan Frea. "Tidak, kita hanya bersandiwara saja. Seolah kita berpisah, mulai hari ini. Kemasi barang-barangmu! Kita pindah sekarang juga!" perintah Zico.
"Untuk apa?"
"Kita sudah menikah, Frea. Kita hanya bersandiwara berpisah. Apakah kita tidur juga harus terpisah?"
•
•
•
Apakah ini akan berhasil?
Jangan lupa tinggalkan sumpah serapah kalian di kolom komentar.
Like dan Vote juga ya 🙏
Terimakasih dan Papay....
Yuhu sambil menyelam minum air, aku mau promosi juga novel aku yang satunya. Judulnya Love is Blind. Ini novel menceritakan tentang seorang janda yang di cintai oleh adik kelasnya semasa SMA. Baca ke uwuan mereka deh. Ngga kalah seru dengan kisah Arga-Asta dan Zico-Frea.