Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Kadoku



Langit gelap berhiasakan bintang, Zico dan Frea duduk dengan memandang menunggu hidangan datang, mata Frea tak henti-hentinya memandang wajah Zico yang nampak bersih namun dengan memasang wajah seriusnya. Pandangan Frea mampu menarik perhatian Zico dan membuat pemuda itu mau tak mau melirik ke arah gadis rupawan tersebut.


"Ada apa kamu menatapku seperti itu?"


Ucapan Zico membuyarkan lamunan Frea yang sejak tadi menikmati pemandangan yang seolah sengaja diciptakan Tuhan untuknya.


Frea mencari seribu alasan dan dengan susah payah memutar otak untuk menjawab pertanyaan Zico.


"Aku ingin hadiah ulang tahunku!"


Frea berhasil mengalihkan pembicaraan Zico dengan meminta kado yang tadi ia katakan sudah dibuang di tong sampah rumahnya.


Frea memicingkan mata, ia menatap sinis Zico yang nampak cuek dengan polah tingkah Frea yang mencoba manja kepadanya.


"Aku mau kadoku!"


Frea mengulang kalimatnya untuk menekan Zico sembari menarik dan menggoyang-goyangkan baju pemuda itu.


Zico menghela napas dengan frustasi ia memijit pelipisnya sendiri. Lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, benda kecil terbungkus kertas berwarna hitam. Lalu ia menyodorkan benda itu kepada Frea.


Tanpa pikir panjang Frea merebut benda tersebut kemudian ia membukanya, matanya terbelalak ketika ia melihat benda kotak hitam di hadapannya dengan penuh semangat ia membuka kotak itu. Terpampang kalung berwarna putih dengan liontin inisial F di dalamnya, sangat cantik.


Perlahan Frea mengambil kalung itu dengan wajah sumringah, ia melihat ke arah Zico yang tampak malu-malu.


"Itu bukan emas, itu hanya kalung dari tembaga," ucap Zico.


"Iya aku tahu. Mana mampu kamu membelikanku emas," kata Frea tidak bermaksud merendahkan, tapi mendengar kata-kata Frea membuat Zico sedikit tersinggung lalu merampas kalung tersebut.


"Mana, biar aku buang!"


Pada saat Zico hendak membuang kalung tersebut Frea berteriak, sehingga membuat orang di sekitar tempat itu menoleh kepada mereka.


"Jangan ...." teriak Frea dengan menahan tangan Zico.


Secara impulsif Zico menghentikan pergerakan tangannya ketika mendengarkan teriakan Frea.


"Jangan, aku suka. Aku suka kalung itu," kata Frea lirih.


Zico mengembalikan kalung itu kepada Frea, karena tidak tega melihat wajah memelas yang terukir jelas di wajah gadis bermata coklat itu.


Frea meraih kalung tersebut kemudian menciumnya, ia beranggapan jika ini adalah hadiah pertama yang ia miliki setelah kalung pemberian ibu kandungnya sebelum meninggal yang ibu tirinya buang ketika ia masih kecil.


"Pakaikan ini untukku!" pinta Frea. Lalu ia menghadap membelakangi Zico.


Dengan lembut Zico memakaikan kalung tersebut, kalung itu tampak cantik berbaur dengan kulit Frea yang putih bersih.


Tak lama makanan telah siap tanpa pikir panjang Zico segera menyantap makanan di depan matanya. Namun Frea memasang wajah menyeringai melihat makanan itu.


"Kamu yakin ini enak?"


Frea menunjuk makanan tersebut menatap dengan tatapan jijik, Zico hanya menjawab pertanyaan Frea dengan menganggukkan kepala dengan masih menyeruput mie ayam di atas meja tersebut.


Frea mengambil garpu lalu mengambil mie tersebut satu helaian kecil dan segera memasukan kedalam mulutnya.


Rasa gurih dan manis berpadu di lidahnya, baru kali ini ia merasakan masakan seperti ini. Zico melirik ke arah Frea, senyum simpul tercipta di bibirnya, lalu ia menuangkan sambal dan saos untuk Frea.


"Apa ini?!"


Frea berkata setengah berteriak karena kaget.


Melihat Zico menuangkan saos dan sambal secara membabi buta.


"Nah ... Sekarang, cobalah!"


Zico membantu mengaduk mie tersebut agar tercampur sempurna. Dengan perlahan Frea mengambil satu helai mier dengan garpu yang tadi. Lalu memasukan ke dalam mulutnya.


Matanya berbinar, mie itu terasa lezat dan bermain di dalam mulutnya membuatnya ingin memasukannya lagi ke dalam indra pengecapnya itu.


"Enak?" tanya Zico.


Frea mengangguk dan terus menyantap mie ayam tersebut tanpa ampun. Rasa lapar yang sejak tadi menggelayutinya kini telah hilang sedikit demi sedikit.


"Pelan-pelan, nanti tersedak!"


Zico mendekatkan es ke arah Frea agar jika ia tersedak ia bisa langsung minum dengan mudah.


*****


Sementara Arga alih-alih khawatir ia malah tetap asyik berkerja dengan komputer jinjing yang sejak tadi di pangkunya.


"Sayang, apa kamu tidak merasa khawatir?" ucap Asta.


"Kenapa khawatir? Adik kamu sudah besar, dia bisa pulang sendiri, tanpa di suruhpun."


Arga berbicara tanpa melihat wajah sang istri. yang mengguratkan raut kecemasan yang tidak bisa dipungkiri.


"Aku khawatir, bagaimana jika ia tersesat. Bagaimana kalau dia diculik!" keluh Asta, tangannya tak henti-hentinya saling meremas satu sama lain.


Arga terkekeh mendengar kalimat sang istri. Ia benar-benar tak habis pikir, siapa yang akan menculik pemuda sebesar itu.


"Kamu malah tertawa?!" dengus Asta kesal.


"Lagipula pikiran macam apa itu? Siapa yang akan menculik si bakiak pororo, dijual pun juga ia tidak akan laku."


"Bisa saja, penculiknya tahu jika dia adalah salah satu dari keluarga kita, lalu ia akan meminta tebusan kepadamu!"


Arga semakin tertawa mendengar kata-kata Asta karena beranggapan jika istrinya sangat amat konyol jika ia berpikir sepeti itu.


"Aku juga tidak akan memberikan tebusan untuknya," ucap Arga sembari tertawa.


"Terserah kamu, malam ini kamu tidur di kamar lain!" perinta Asta lalu pergu meninggalkan Arga.


Melihat Asta merajuk membuat Arga segera membujuk sang istri dengan mengejarnya. Lalu memeluk tubuh Asta dari belakang.


"Ibu hamil tidak boleh marah!"


Asta menekuk bibirnya, lalu menghempaskan tangan Arga dengan kasar.


"Sayang ...."


Asta tak memperdulikan Arga yang terus mengejarnya dan menghadang langkah wanita hamil tersebut.


Tiba-tiba Zico pulang membawa serta Frea bersamanya, melihat itu Asta dan Arga kaget, bagaimana bisa Zico melarikan Frea hingga ke rumah ini.


"Frea!"


Asta menutup mulutnya dengan kedua tangannya sendiri.


"Kamu dalam masalah besar, Zico!" hardik Asta.


Zico dan Frea saling memandang satu sama lain.


"Mengapa kamu lari bersama Frea?" ucap Arga, tenang.


"Aku melihatnya bersedih, nuraniku sebagai seorang pria tidak bisa melihat ini semua," jawab Zico, sementara Frea hanya diam menunduk.


"Kamu harus mengantar Frea pulang!" perintah Asta.


Mendengar itu Frea langsung mendongakkan wajah dan menghampiri Asta.


"Kak, jangan suruh aku kembali ke rumah neraka itu," Frea memohon kepada Asta.


Asta mengerti betul kegundahan hati gadis itu, namun ia juga tidak memiliki pilihan untuk itu, bagaimanapun keluarga Arga dan Frea adalah rekanan bisnis, ia tak mau jika hubungan ini hancur karena masalah ini.


"Tenang ... Frea, kamu istirahat dan menginap dulu di sini, besok aku sendiri yang akan mengantarmu pulang," ucap Arga, tenang.





Bersambung.


Jangan lupa LIKE, KOMEN DAN VOTE agar author lebih semangat untuk update.


Terimakasih


Salam hangat


Novi Wu