Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
# Last Chapter : Akhir Bahagia



Boss Come Here Please Last Chapter.


Frea menatap mata Arav yang masih memancarkan aura kesedihan, bagaimana tidak. Ia telah di hianati oleh wanita yang ia cintai selama bertahun-tahun.


Dia bertahun-tahun menyia-nyiakan putri kandungnya dan bertahun-tahun pula ia menyayangi anak orang lain, sunggu Mardella adalah wanita laknat.


Saat semua tengah asik mempersiapkan acara pernikahan Frea dan Zico, tiba-tiba suara benturan keras mengagetkan mereka yang ada di ruang kekuarga dan tengah berdiskusi dengan beberapa vendor pernikahan.


"Apa itu!" teriak Arav.


Seorang penjaga masuk ke rumah dengan raut wajah cemas berlari ke arah Arav.


"Ketua, Nona Yufen sengaja menabrakkan mobil ke pintu gerbang lalu ia menabrakan diri ke arah air mancur selamat datang!"


"Memang anak itu sudah tidak waras!" umpat Arav dengan nada begitu kesal.


Dari luar terdengar suara Yufen yang berteriak mencari perhatian kepada orang yang berada di dalam rumah.


"Ayah ... aku anakmu, ayah! Aku anak kandungmu, aku tidak ingin menjadi anak orang lain, aku adalah anakmu!" teriaknya.


Dari dalam rumah, Frea yang nampak gusar berkata kepada ayahnya. "Ayah ... Yufen—"


"Biarkan saja!" sahut Arav acuh.


"Tapi Ayah. Yufen bisa melakukan hal buruk, ayah."


Dorr....


Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari luar rumah, hal itu memaksa mereka untuk keluar rumah melihat apa yang dilakukan oleh Yufen.


"Ayah!" seru Frea dan berlari keluar rumah, diikuti Zico yang mengejar Frea.


yufen menembakkan sebuah peluru ke langit hingga menciptakan suara menggelegar.


"Ayah ... di dalam pistol ini masih ada satu peluru lagi. Aku akan mati di sini untuk kalian semua!" seru Yufen dengan pistol mengarah ke kepalanya sendiri.


"Jangan melakukan hal bodoh, Yufen!" ujar Frea menghentikan adiknya tersebut.


"Kenapa?! Bukankah kamu senang jika aku mati, kamu telah merebut semua kebahagiaanku!" dengus Yufen murka.


"Yufen kamu bisa—" Sebelum Frea melanjutkan kalimatnya, Zico dengan cekatan memotong perkataan Frea, seolah ia mengerti apa yang dikatakan oleh istrinya tersebut.


"Sttt ... jangan katakan hal itu, Frea! Jangan pernah mengalah untuk wanita gila ini!" perintah Zico.


Arav dengan kursi rodanya menghampiri mereka semua dan menatap jijik Yufen.


"Jika kamu mau, kamu bisa mengakhiri hidupmu sekarang!" perintah Arav.


"Ayah—" ucap Frea lirih, mencoba menghentikan ayahnya.


"Baiklah, Ayah." Yufen sudah mulai menekan pelatuk pistolnya, dan matanya juga terpejam seolah siap menyambut malaikat maut yang akan menjemputnya.


"Jangaaaan!" teriak Frea.


Namun tidak disangka tidak ada suara tembakan sama sekali, Yufen hanya menasukkan satu proyektil peluru ke dalam senjatanya.


"Sudah kuduga!" ucap Arav dengan tenang. "Bawa dia ke rumah sakit jiwa!" perintah Arav kepada anak buahnya.


"Ayah aku tidak gila!" teriak Yufen, mulai meronta. Beberapa anak buah Arav memegangi tangan Yufen dan bersiap mengantarkannya menuju rumah sakit jiwa.


"Ayah ... kasihan Yufen," kata Frea lirih.


"Dia tidak pernah kasihan padamu!" sahut Arav lalu kembali masuk ke rumah.


***


Beberapa hari kemudian, atas pertimbangan Arav dan penasehat hukumnya, pria tua itu lebih memilih mencabut hak waris dari Mardella. Ini lebih ringan karena ayah Frea tidak menjebloskan ia ke dalam jeruji besi.


Sementara hari ini adalah acara perhelatan akbar pernikahan Frea dan Zico, yang di selenggarakan di sebuah hotel mewah bintang lima.



"Tarik napas, buang!" seru Arga ketika melihat Zico gugup.


Zico langsung melemparkan pandangannya untuk kakak iparnya itu. "Kamu pikir aku gugup?" dengusnya.


"Terlihat sekali raut wajahmu, bisa terbaca oleh kami," sahut Asta.


"Ti–tidak ... aku tidak gugup—" Zico mengambil segelas air, namun siapa sangka jika saat ia meraih gelas dan ingin meminumnya, tangannya tampak bergetar hebat, dan membuat Asta dan Arga tertawa terbahak-bahak.


"Itu yang namanya tidak gugup?" ledek Asta.


Zico tersenyum kecut mendengar kalimat Asta, ia memilih diam untuk menyembunyikan rasa malunya.



Semua telah siap Zico telah siap menunggi Frea di altar pernikahannya dengan perasaan campur aduk, napasnya Kian memburu seiring kegugupan dirinya.


Tak lama Frea masuk dengan pendamping pengantin Arga sebagai pengganti ayahnya yang belum bisa berjalan dengan sempurna, Frea begitu cantik memakai gaun putih yang menjutai hingga menyapu lantai, melihat hal itu Zico tidak bisa berkata apa-apa, tanpa ia sadari air matanya menetes penuh haru, ia tidak menyangka bahwa dirinya telah resmi menikah dan bahkan ia mengumumkan kepada dunia bahwa Frea Arav adalah istri sahnya. Perjalanan mereka sangat berliku untuk mencapai ini semua.



Zico mengulurkan tangannya untuk wanita yang paling ia cintai di dunia ini.


"Kamu sangat cantik," ucapnya tanpa mengeluarkan suara. Hal itu di sambut Frea dengan senyuman yang manis sehingga menambah kecantikan dari wanita itu.


***



Setelah prosesi pernikahan selesai semua tamu berseru, "Cium ... cium ....!"


Dengan tersipu malu mereka berdua saling berciuman, Zico menyapu bibir Frea dengan lembut hingga lidah mereka saling menari-nari hingga bertukar saliva.


"I Love you!" ucap Zico dengan air mata hampir menetes.


Frea yang melihat itu langsung mengusap air mata suaminya. "Jangan menangis! Ini hari bahagia kita," kata Frea lembut.


"Aku tidak menangis sedih, aku menangis karena aku bisa memilikimu seutuhnya," sahut Zico.


Semoga mereka bahagia dan punya banyak anak.





Tamat~


Catatan Penulis 🍃


Terimakasih untuk semua pembaca setia Boss Come Here Please!


Novel ini adalah novel pertama saya yang saya garap pertama pada tanggal 5 Januari 2020. Jadi bisa dimaklumi jika ada tanda baca yang keliru dan ada beberapa mungkin plot hole. Tapi terlepas dari itu semua saya sangat berterimakasih kepada teman-teman semua. Tanpa kalian BCHP bukanlah apa-apa. 😘


Maaf jika ada kekurangan dan saya ucapkan terimakasih kembali atas appresiasi yang teman-teman berikan untuk saya. Semoga kalian diberi rejeki lancar dan sehat selalu.


Oia saya juga menggarap novel baru tentang perjalanan cinta seorang mafia tanpa ampun yang mencintai seorang gadis 19 tahun, saya akan menumpahkan kehaluan saya dalam novel itu sekarang.


Terimakasih untuk Like, Komen dan Votenya, I Love u all.


Papay dan sampai jumpa di MR. Mafia.