Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Menuju Puncak



Boss Come here Please! 122


Asap gelap telah membumbung tinggi tenggelam dengan gelapnya malam, suasana tampak suram saat itu, polisi yanh sedang lalu lalang dan masyarakat nampak sibuk membantu memadamkan api yang telah melahap mobil sedan hitam tanpa sisa sedangkan korban yang terpanggang di dalam mobilnya di pastikan telah tewas.


Frea begitu lega bahwa korbannya bukan Zico, ia masih tenggelam di dalam pelukan laki-laki itu.


"Mengapa kamu menyusul kemari?" Zico memindai outfit yang dikenakan Frea, wanita itu tetap cantik walau terbungkus dengan baju tidur dan sandal seadanya. "Lihat penampilanmu? Seperti bukan Frea, seorang boss rumah sakit terbesar di kota ini." Zico mengelus rambut Frea dengan lembut.


"Bagaimana aku tidak khawatir, sebelum sambungan telepon kita terputus. Ada benturan keras yang sangat mengganggu pikiranku," ucap Frea memasang wajah masam.


"Oh ... Itu. Saat itu aku terkejut karena ada kecelakaan tepat di samping mobilku yang segaja aku parkirkan di jalan, otomatis aku menjauhkan diri dari situasi itu. Dan tak lama kemudian mobil itu terbakar hebat." Zico menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Lalu kenapa kamu bisa menemukanku di sini?" tanya Frea, sedikit heran.


"Aku mendengar suara teriakan memanggil namaku meskipun hanya sayup kudengar, tapi aku bisa merasakan bahwa kamu sedang berada di sini."


Frea tampak tersipu malu mendegar kalimat Zico. Wanita ini memiliki harga diri yang selalu dijunjung tinggi hanya karena Zico yang bisa membuat menurunkan segala egonya.


"Aku ingin pulang!" Frea mengalihkan pembicaraan mereka. "Lihatlah waktu telah menunjukan pukul satu pagi," imbuhnya lagi.


Zico menggandeng tangan Frea, secara impulsif wanita itu menurut dan mengikuti langkah Zico.


"Frea, cukup sekali saja. Untuk hari ini biarkan kamu bahagia dengan orang yang telah kamu cintai. Jangan bohongi dirimu lagi, Frea," gumamnya dalam hati.


Kemudian mereka masuk ke dalam mobil, meninggalkan kerumunan manusia yang masih tampak sibuk dengan situasi genting saat itu. Zico mengemudikan mobilnya menjauh dari tempat kejadian.


Selama perjalan Zico terus menggenggam tangan Frea seolah tidak mau melepaskan sedikitpun. Sesekali ia menciumi punggung tangan mulus itu, membuat Frea tersipu malu.


"Mau kemana kita? Ini bukan arah apartementku?" tanya Frea dengan nada serius.


"Ke apartementku." Zico menjawab singkat.


"Ha ... Untuk apa?" tanya Frea kembali.


"Aku tidak ingin berpisah denganmu, biarkanlah kita tetap begini meskipun mungkin ini malam terakhir kita bersama."


Frea hanya diam menyetujui perkataan Zico. Mobil sedan hitam itu terus melaju menempus jalan yang diselimuti gelapnya malam yang hanya berhiaskan lampu-lampu jalan.


****


Mereka telah sampai di pelataran parkir milik apartement mewah Zico. Zico telah tinggal selama dua tahun di tempat ini. Selama itu pula ia tak pernah membawa wanita masuk ke sana, meskipun Yufen sekalipun. Jadi bisa di pastikan Frea lah satu-satunya wanita yang di bawanya pulang.


"Kamu tinggal di sini?"


Zico mengangguk pelan. "Aku sudah dua tahun menyewa salah satu unit di sini."


Mereka masuk ke dalam melewati lobby dan di sambut dengan sapaan ramah seorang security. Kemudian ia naik lift menuju unit apartemen Zico. Selama di dalamnya mereka hanya diam seribu bahasa hanya saja tangan mereka tetap bergandengan tangan dengan erat seolah mereka tak ingin melepas satu sama lain.


Mereka berdua telah masuk ke dalam, apartement ini begitu luas dan mewah membuat Frea sedikit terheran-heran, apakah gaji seorang dokter sebesar ini sehingga bisa menyewa apartement mewah? Bahkan dia sebagai direktur utama saja, hanya membeli apartement kecil bahkan letaknya tidak berada di pusat kota seperti ini.


"Aku akan mandi dulu, tubuhku penuh peluh." Zico membuyarkan lamunan Frea.


"Mandi?" guman Frea dalam hati, ia menelan ludah membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.


"Apa kamu mau mandi bersamaku?" ucap Zico dengan nada menggoda.


"A-aku? No ... No. Aku sudah mandi tadi." Frea menjawab godaan Zico dengan suara terbata karena canggung.


"Tapi kamu pasti berkeringan, Frea."


Frea menggelengkan kepala kasar. "Tidak, aku tidak butuh mandi. Kamu saja!"


"Ya sudah. Aku akan mandi dan melepaskan kegerahan yang ada di kulitku."


Zico berjalan menuju salah satu ujung ruangan yang sepertinya adalah kamar utamanya. Sementara Frea hanya duduk di sofa panjang berwarna hitam dan berhadapan langsung dengan televisi besar.


Zico keluar dari kamarnya dengan mengenakan kaos putih biasa dan celana pendek, ia terlihat tidak seperti biasanya yang terlihat rapi dengan jas putihnya serta stetoskop yang selalu setia di sakunya.


Ia duduk di samping Frea dan sekali lagi Frea menelan ludahnya sendiri, jantungnya berdegup kencang, ia berharap jika Zico tidak mendengarnya karena itu akan sangat memalukan sekali.


Zico menatap wajah Frea lalu menyibakkan rambut Frea ke telinga dan mengelus lembut hingga ke bawah punggungnya dan itu sungguh membuat Frea tidak nyaman dan menggeliat kegelian.


"Mau apa hari ini?" tanya Zico santai.


"Hah ...." Frea terkejut mendengar kata-kata Zico.


"Mau langsung tidur atau mau nonton film dulu, anggap saja kita sedang berkencan, Frea."


"Tidur?!" seru Frea, tubuhnya secara spontan menjauh dari Zico membuat Zico otomatis menatapnya.


"Ada apa dengan tidur? Kamu lelah lagi pula ini hampir saja pagi, tetapi kamu tetap saja masih terjaga."


"Hmmm ... Tapi aku belum mengantuk." Frea menjawab dengan suara lirih.


"Oke! Kalau begitu bagaimana jika kita menonton film," ucap Zico pelan.


Frea mengangguk pelan, ia menyetujui perkataan Zico.


Mereka tengah asyik menatap kaca televisi film, tiba di menit 54 adegan itu di mulai. sepasang sejoli itu melakukan ciuman yang begitu panas dan erotis, membuat pipi Frea seketika memerah dan membuatnya gelisah.


Frea terus meremas tangannya sendiri ketika menyaksikan adegan demi adengan dewasa di dalam film itu.


"Frea."


Ucapan Zico secara tiba-tiba membuat Frea terperanjat dan kaget. "Ada apa?"


"Apakah kamu lapar?"


Dengan cepat Frea menggeleng-gelengkan kepala. Namun di luar dugaan tiba-tiba Zico memeluk Frea dengan lembut.


"A-apa yang akan kamu lakukan?" Frea mengingat kejadian di apartementnya tadi sehingga membuatnya sedikit cemas.


Zico mencakup wajah Frea dengan kedua tangannya lalu mengecup bibir Frea dalam-dalam.


Ketika Zico melepaskan bibir mungil Frea, secara spontan Frea menggigit pinggir bibirnya sendiri karena sedikit tegang mendapat perlakuan seperti itu.


Perlahan dan pasti Zico membebamkan tubuh gadis itu hingga ke kepala sofa dan kembali mencercap bibir Frea. Lidah mereka saling terpaut hingga saling bertukar saliva.


Dan ....





Bersambung....


Ada yang tahu setelah ini mereka ngapain?


Jawab pertanyaanku di kolom komentar, ya!


Jangan lupa like, komen dan Vote agar aku semangat 69 dalam menulis 😳


Hah?! 69


Papay....