Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Frea



Gadis itu menatap lekat wajah Zico, pemuda 19 tahun yang tinggi jenjang dengan perawakan sedang sementara kulit putih bersih tanpa noda menghiasi rupanya yang tampan bak artis dari negeri gingseng tersebut. Ia tampak sedikit terpesona dengan pesona Zico yang masih tampak terlihat tenang meskipun sedang tersudut.


"Kalian, tinggalkan kami berdua!" ucapnya kepada teman-temannya.


Serentak teman-temannya berbalik badan dan pergi.


Zico masih tampak diam dan pasrah menunggu dengan tenang, apa yang akan dilakukan gadis ini.


"Kamu tahu siapa aku?" tanya gadis itu, sombong.


Zico bergeming tak ingin menjawab pertanyaan sang gadis.


"Aku Frea, anak dari pemilik salah satu rumah sakit terbesar di kota ini," ujarnya sombong.


"Lalu? Apa urusanku?" jawab Zico mencoba tetap tenang.


Frea menipiskan matanya menatap Zico dengan pandangan menilai, memindai outfit yang tengah dikenakan oleh pemuda kampung tersebut.


"Kalau dilihat dari dandanan kamu. Sepertinya kamu ini anak orang miskin yang mendapat beasiswa dari kampus ini?" ledek Frea merendahkan Zico.


Zico tampak tenang pandangannya lurus, tanpa menatap wajah cantik Frea. "Memang iya. Lalu apa masalahmu?"


Frea mengitari Zico dengan terus menatapnya dari atas hingga kebawah. "Kamu bisa hidup tenang di kampus ini, kamu bisa nyaman belajar di sini. Tapi dengan syarat. Kamu harus menjadi kekasihku!"


"Pffff ...." Zico tak kuasa menahan tawa ketika mendengar ucapan Frea. Dia terkekeh dibuatnya.


"Apa yang lucu?!" seru Frea mulai tersinggung.


"Tidak." Zico mengatur napasnya setelah berjuang menghentikan tawanya secara paksa. "Kakak menyatakan cinta padaku? Oi. Ini terlalu cepat," ledek Zico, menertawakan kebodohan Frea.


Frea benar-benar murka baru kali ini dia ditolak mentah-mentah oleh seorang pria, padahal banyak mahasiswa di kampus ini yang mendambakan dia untuk menjadi kekasihnya.


"Lancang kamu!" Frea mencoba menampar wajah Zico, namun dengan cekatan pemuda itu mampu menahan tangan Frea sehingga ia tak mampu bergerak. Namun kaki Frea mencoba menendang tubuh Zico sehingga dengan cepat Zico memutar tubuh Frea kemudian memeluknya dari belakang sementara kedua tangannya menekan kedua tangan Frea dengan kuat agar tidak bisa bergerak lagi.


"Bisa tenang!" perintah Zico.


"Lepaskan aku, bod*h!" hardik Frea kesal, ia masih mencoba meronta melepaskan diri.


"Jika kamu tenang, aku akan melepaskanmu!"


Frea menghentikan gerakannya, agar Zico melepaskan pegangannya ia mencoba tenang. "Baik lepaskan aku!"


Perlahan Zico melepaskan tubuh Frea, tanpa di duga Frea berbalik badan kemudian menginjak kaki Zico dengan sepatu hak tingginya, sehingga membuat Zico berteriak kesakitan.


"Aw ... Sakit!" terika Zico. Namun Frea tak mau melepaskan kaki Zico yang sengaja ia injak tadi.


"Rasakan! Berani sekali kamu melawanku! Menolakku bahkan menyentuhmu dengan tangamu yang penuh kuman itu!" ucap Frea masih menekan kaki Zico dengan sepatunya.


"Kamu bisa lepaskan tidak! Sakit tahu!"


Frea terkekeh melihat Zico kesakitan.


"Mohonlah padaku dan patuhi perintahku! Jadilah kekasihku!"


"Tidak!" tolak Zico mentah-mentah.


Frea menekan kaki Zico semakin kuat, sehingga sensasi rasa sakit yang dirasakan Zico semakin bertambah dua kali lipat.


"Baiklah, aku mau!" seru Zico, diikuti dengan Frea yang melepaskan injakan kakinya.


❇️❇️❇️❇️


Sementara itu


Asta duduk termenung sendiri di dalam rumah, iya mulai bosan hanya ada di dalam rumah saja. Beberapa kali ia mencoba melakukan aktifitas namun tetap saja itu tak mengurangi rasa bosannya.


Ia memutuskan untuk pergi ke kantor suaminya guna membunuh rasa bosannya.


Ia menyiapkan beberapa makan siang spesial untuk Arga.


11:30


Ia berangkat ditamani oleh adamson sebagai bodyguard merangkap sopir pribadi Asta.


"Ayo Pak Adamson, sebentar lagi pukul 12:00 waktunya makan siang. Pasti Arga sangat kelaparan," ujar Asta, memeluk tempat makan berwarna biru yang ia bawa sejak tadi.


"Kalau menurut pengalaman saya sebagai bawahan Mr. Arga, beliau tidak makan siang dengan teratur, Nyonya," jawab Adamson, menstater mobil sedan berwarna silver tersebut.


"Apa? Pantas saja suamiku terlihat kurus akhir-akhir ini," kata Asta, mulai mendramatisir.


"Tenang saja nyonya, kita beri kejutan Mr. Arga kali ini."


Mobil itu melesat membelah jalan beraspal ibu kota yang siang itu tampak panas terik karena matahari bersemangat memancarkan sinarnya.


30 menit kemudian mereka sampai di kantor Arga, dengan langkah pelan Asta turun dari mobil dengan memeluk kotak bekalnya.


"Selamat siang, Miss," sapa salah satu karyawan.


"Siang." Asta menjawabnya dengan senyuman ramah.


Ia berjalan santai menuju lift pribadi CEO. Lantai 25 yang ia tuju di mana ruangan suaminya berada.


Ia di sambut oleh secertaris Wisnu yang selalu stan by di depan ruang sang Bos.


" Secertaris Wisnu, apakah suamiku sibuk?"


Secertaris Wisnu yang sejak tadi sibuk dengan komputernya tak sadar jika Asta sudah berada di hadapannya.


"Selamat siang Nyonya, maaf saya tidak menyadari kehadiran anda tadi. Ya, Mr. Arga sedang agak sibuk hari ini." Wisnu langsung berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu untuk Asta.


Asta memandang lurus ke arah Arga yang sama sekali tak menyadari kehadiaranya. Ia masih sibuk dengan berkas yang tampak menggunung menunggu untuk di tanda tangani.


"Sayang!" sapa Asta.


Arga langsung mendongakkan kepala, menatap Istrinya yang sudah berdiri di ambang pintu. Kemudian Arga berdiri dan menghampiri sang istri.


"Mengapa kamu kemari, sayang?"


"Aku rindu padamu, aku ingin makan siang bersama karena bosan," jawab Asta, manja.


"Dengan siapa kamu ke sini? Bagaimana jika kamu lelah?"


"Aku bersama Pak Adamson, aku lelah jika berada di rumah seharian tanpa aktifitas apapun."


Arga memandang tempat bekal yang Asta peluk sejak tadi. "Apa itu, Sayang?" tanya Arga menujuk ke arah bekal itu.


"Makan siang kamu."


Arga meraih kotak berwarna biru tersebut. "Coba sini aku lihat apa bekalnya."


Mereka berjalan menuju kursi khusus untuk menerima tamu. Arga membuka kotak tersebut. Matanya disuguhi dengan berbagai hidangan korea favorid Arga yaitu nasi, kimchi, salad, nugget, dan udon seafood, lengkap dengan sup dan juga makanan penutup.


"Siapa yang memasak ini semua sayang?"


"Aku dibantu dengan Vivian tadi, cobalah semoga kamu suka," jawab Asta, senang melihat rona berbinar dari wajah sang suami.


Arga mencicipi udon seafood terlebih dahulu, rona mata berbinar terpancar dari sana kemudian dengan penuh antusias ia mengecup bibir sang istri dengan lembu.


"Enak, kamu mulai jago masak, makanan kesukaanku, Sayang."


Tak lupa Arga menyuapi sang Istri untuk sama-sama mencicipi masakan tersebut.


❇️❇️❇️❇️


Kampus


"Berjalan bersamaku, kamu akan aman di sini!" perintah Frea, dengan nada angkuh.


"Aku tidak butuh perlindunganmu!" jawab Zico tak kalah ketus.


Frea menghentikan langkahnya kemudian berbalik arah menuju Zico.


"Mau apa kamu?!" Zico berjalan mundur menghindari Frea yang mulai mendekat ke arahnya. "Hus, pergi kamu!"


Frea bergeming tak menghiraukan kata-kata Zico yang tampak risih dengannya.






Apa yang akan terjadi selanjutnya?


BERSAMBUNG.


TERIMAKASIH LIKE KOMEN DAN VOTENYA


JANGAN LUPA BACA NOVEL NOVI WU BERJUDUL 'LOVE IS BLIND'


TERIMAKASIH


NOVI WU.



Anggap saja mereka zico dan Frea😁