
Zico masih kebingungan dengan apa yang akan dia perbuat, meminta tolong Asta dan Arga? Pasti mereka sudah masuk. Lalu dia harus meminta tolong kepada siapa?
Sesaat ketika ia ingin menstater motor hitamnya tiba-tiba ia di tepuk oleh seseorang dari belakang.
"Hei ... kamu Zico, 'kan? Kenapa kamu tidak masuk?"
Yufensia sudah berdiri di belakang Zico dengan dandanan formal dengan gaun berwarna merah muda yang melekat pas di tubuhnya.
"Yufen, kenapa kamu tidak masuk?" tanya Zico penasaran.
Yufensia menghela napas panjang, kemudian ia maju satu langkah lebih dekat dengan Zico dan itu membuatnya sangat tidak nyaman.
Dengan tutur katanya yang lembut, Yufensia menjelaskan bagaimana ia bisa sampai di sini. "Aku melihatmu dari jendela, sebenarnya sih, aku tidak yakin itu kamu. Tapi aku selalu memperhatikan kamu di kampus, jadi aku putuskan untuk keluar dan ternyata ini benar kamu."
Zico tersenyum ia merapikan jasnya lalu turun dari motornya. "Aku ingin masuk tapi aku lupa membawa undanganku kembali, jadi lebih baik aku pulang," ucap Zico pasrah, terselip kekecewaan dalam relung hatinya, seolah ia meninggalkan hal penting, tapi entah apa itu.
"Kenapa kamu harua pulang?"
Yufensia bertanya kepada Zico, ia ingin meyakinkan bahwa ia juga bisa membawanya masuk.
"Apa kamu ingin masuk? Aku bisa membawamu masuk ke dalam," tegas Yufen.
Mata Zico seketika berbinar, tiba-tiba ia bersemangat setelah sebelumnya ia tampak lemas dan lesu.
"Apakah benar, kamu bisa membawaku ke sana?"
Yufen menganggukan kepala, lalu ia mengulurkan tangan agar Zico menggandeng tangannya. Zico menatap uluran tangan Yufensia, ia mengkerutkan dahinya sendiri karena benar-benar bingung.
"Untuk apa ini, Fen?" tanya Zico.
Dengan setengah memaksa Yufensia meraih tangan Zico dan menggandengnya.
"Jadilah pasanganku untuk malam ini."
Yufensia berucap penuh tekat, ia tersenyum penuh harap, agar Zico mengiyakan keinginannya malam ini.
"Baiklah, aku mau. Agar aku bisa masuk ke dalam."
Mereka kemudian masuk, tanpa hambatan yang pasti karena sang penjaga tahu jika Yufensia adalah anak pemilik rumah itu pula.
Tempat pesta itu berada di belakang rumah itu, tema night garden party adalah konsep acara tesebut dengan hiasan taman yang indah dan kolam renang dengan hiasan lilin lilin warna warni yang tampak mengambang di sana. Mata Zico tak bisa berhenti ia terus memindai ke sana dan ke mari mencari keberadaan Frea.
Saat matanya sudah menangkap keberadaan Frea, tiba-tiba ....
"Ayah, Ibu. Perkenalkan, ini kekasih Yufen. Teman sekampus Yufen juga. Dia adalah adik ipas dari ceo D'Beauty Grup." Yufensia memperkenalkan Zico sebagai kekasihnya di depan orang tuanya. Itu membuat Zico merasa tak enak hati dan membalas senyuman ramah kepada kedua orang tua Yufensia dan Frea dan kemudian menyalami mereka.
"Wah tampan sekali adik dari Miss Asta," ucap Ibu Yufen, ramah.
Zico hanya mengangguk dan tersenyum tak bisa membalas kalimat dari ibu Yufensia.
"Silakan nikmati pesta malam ini, Zico," ucap Ayah Yufensia.
" Terimakasih, om." Zico menjawab singkat, matanya terus menatap Frea yang saat itu memakai gaun merah panjang dengan ornamen bunga di bahunya, sementara rambutnya dikucir ekor kuda dengan riasan natural ala artis korea.
Mata mereka saling beradu pandang. Frea tersenyum sumringah melihat kehadiran Zico, sementara Zico mencoba tetap tenang dan mempertahankan sikap acuhnya kepada Frea.
Dengan langkah cepat Frea menghampiri Zico yang masih berdiri di samping Yufensia.
Ia sangat bersemangat ketika itu. Namun seketika ia kecewa ketika Frea tahu jika Zico datang sebagai pasangan dari adiknya Yufensia.
"Hai ...." sapanya.
"Frea, kamu kenal dengan Zico? Dia adalah kekasih adikmu." Tiba-tiba sang ibu menimpali kata-katanya sebelum Frea mengucapkan kalimat selanjutnya.
"Oh, baiklah semoga kamu bersenang-senang dengan acara ini!" ucap Frea kemudian berbalik badan.
"Frea, tunggu. Aku memiliki kado untukmu," ucap Zico mencoba menghentikan Frea yang sudah merasa kecewa.
"Tidak perlu. Aku tidak membutuhkan hadiah murahan darimu!" ucap Frea ketus.
"Frea!" hardik sang ayah, ketika Frea mengucapkan hal yang tidak sopan, padahal ia adalah nona muda dari salah satu keluarga kaya di kota ini, otomatis tingkah lakunya akan menjadi berita di mana-mana.
Frea tidak memperdulikan ucapan ayahnya dan memilih untuk pergi.
"Maafkan Frea. Dia terlalu sering di manja sejak kecil." Ibu Yufensia menjelaskan kepada Zico.
Zico hanya membalas kata-kata Ibunya dengan tersenyum. Ia sama sekali tidak sakit hati dengan ucapan Frea, namun entah mengapa ia juga merasakan hal yang sama dengan Frea. Ada rasa sakit di hatinya tapi ia tak tahu apa itu.
*****
Ayah Frea naik ke podium seolah ingin menyampaikan sesuatu, beliau sudah menyiapkan secarik kertas seolah sudah menyiapkan segalanya.
"Selamat malam. Saya selaku ayah dari Frea mengucapkan terimakasih kepada para hadirin yang sudah datang. Terutama kepada Mr. Arga beserta istri. Hari ini di ulang tahun Frea yang ke 21 tahun saya akan memberi pengumuman bahwa acara ulang tahun ini sekaligus adalah acara pertunangan anak kami dengan Sammy putra dari keluarga Ricahrd."
Frea terkejut mendengar pengumuman dari sang ayah karena tidak ada pembicaraan ini sebelumnya, ia merasa didesak dan dipaksa melakukan hal yang tidak ia sukai.
Ketika ayahnya turun dan menyuruhnya naik bersama Sammy, Frea berontak ia marah dengan ayahnya kenapa harus melakukan hal tersebut.
"Ayah! Apa yang Ayah pikirkan?! Aku tidak bisa seperti ini!" seru Frea sehingga semua orang memandang ke arahnya.
"Frea!"
Sang ayah membentak Frea di depan banyak orang dan itu membuat hati Frea benar-benar hancur karena itu.
Frea memilih berlari keluar meninggalkan ayahnya melepas sepatu hak tingginya, sang ayah memanggil-manggil Frea dan menyuruh para bodyguard yang berjaga untuk menghalau gadis itu.
Melihat kejadian itu, membuat hati Zico merasa sakit, ia berlari mengikuti Frea untuk membantunya pergi.
Saat Frea berlari tanpa alas kaki, Zico mengikutinya dengan motor matic yang ia bawa.
"Naik! Orang dari papamu mengejarmu di belakang!" seru Zico.
Tanpa pikir panjang Frea langsung naik ke motor yang Zico kendarai, kemudian mereka hilang di kegelapan malam tanpa jejak.
Air mata Frea tumpah, ia terua memeluk Zico dengan erat, ia merasa dikucilkan dengan keluarganya sendiri. Terutama sang ayah.
"Menangislah!"
Zico berucap sambil terus berkonsentrasi menyetir.
"Jika menangis bisa membuat hatimu tenang, maka menangislah! Mungkin tangismu akan mengikis rasa kecewamu," ucap Zico lagi.
Namun Frea bergeming ia terus memeluk tubuh Zico dengan erat, seolah tak ingin melepaskan laki-laki itu. Ia merasa nyaman berada bersama Zico.
•
•
•
Bersambung.
Jangan lupa like komen dan Vote, ya....
Terimakasih.