Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Penyatuan Jiwa



Boss Come Here Please! 132


Sarapan kali ini terasa berbeda, kemarin mereka masih makan dengan menu khas perkotaan ditemani pemandangan hutan beton yang menjulang tinggi seolah sedang menantang langit. Namun kini makanan mereka adalah masakan sederhana yang mungkin hampir tidak pernah mereka rasakan. Tapi mau bagaimana lagi, mereka harus terpaksa menelan makanan itu demi mengisi perut mereka dan menambah energi.


"Kamu yakin bisa masak dengan para istri-istri penduduk desa ini?" tanya Zico sedikit khawatir.


Dengan masih menyendok makanannya Frea berkata, "Ya ... Aku bisa," katanya sambil menganggukan kepala.


"Tapi aku tidak yakin, apakah kamu bisa?" tanya Zico sekali lagi.


"Iya, bisa!" jawab Frea setengah berteriak karena kesal.


"Kamu meneriaki suamimu? Istri macam apa itu!" tutur Zico.


Frea bergeming tak mendengarkan perkataan laki-laki yang telah menikah dengannya itu.


******


Setelah semua selesai.Zico dan Frea berpisah, Frea pergi menemui istri sang tetua sementara Zico pergi bersama para laki-laki untuk menyisir korban tsunami dan gempa.


Lewat beberapa jam, sejak Zico dan para laki-laki pergi, Frea masih asyik mengobrol dan berbaur bersama para istri-istri penduduk setempat, seolah Frea menemukan keluarga baru, mereka belum mengenalnya secara personal. Namun mereka sangat perhatian dan baik dengan Frea, tanpa ada embel-embel bahwa dia adalah pemilik rumah sakit di kota besar.


Beda dengan keluarganya sendiri yang sama sekali tidak pernah menyayanginya seutuhnya. Frea bisa menjadi diri sendiri di sini, tertawa terbahak -bahak dengan mulut menganga ia bisa lakukan di sini karena dia tidak perlu menunjukan diri bahwa dia adalah wanita kaya kelas atas di ibukota negara ini.


"Sebenarnya siapa Zico? Kenapa kamu tidak mau menikah dengannya?" tanya Teodora salah satu wanita di desa itu.


"Ia adalah tunangan adikku." Frea menjawab sembari tangannya memotong cabai untuk dimasak.


"Tetapi, Frea. Kamu terlihat sangat mencintai suamimu dan sebaliknya Zico juga sangat mencintaimu, Frea."


"Tapi kita tidak ditakdirkan bersama," tutur Frea masih mengelak.


"Siapa bilang. Kamu telah menikah dengannya sekarang, dia milikmu dan kamu miliknya."


"Apakah pernikahan di sini syah?" tanya Frea polos.


Semua mata seketika langsung menatap dan menel*njangi tubuh Frea. Mereka menatap dengan tatapan menyeringai karena mendengar ucapan Frea.


"Maksud kamu, kami ini tidak sah secara agama dan adat?" tanya salah satu wanita setengah baya yang memiliki tubuh paling gemuk.


"Bu–Bukan begitu—" Frea tampak gugup.


"Kalau kamu kurang mantap dengan pernikahan kami, kamu bisa menikah kembali dengan adatmu, tapi kamu sudah sah dengan suamimu, Frea." Istri tetua menjelaskan dengan lembut kepada Frea.


"Oh ... Begitu ...." Belum sempat Frea melanjutkan perkataanya, para lelaki telah kembali namun mereka tampak aneh dengan membawa tandu di atasnya terbaring tubuh yang tidak asing di mata Frea.


Zico dalam keadaan tidak sadarkan diri, yang membuat Frea seketika langsung berlari dan melemparkan apa yang ada di tangannya sejak tadi.


"Ad–ada apa dengan Zico?" tanya Frea dengan ekspresi terbata, ia melihat Zico dengan tatapan penuh ketakutan. "Apa yang terjadi padanya?" tanyanya lagi.


Namun tidak ada satupun yang mau menjelaskan kepada Frea apa yang terjadi sesungguhnya. Para pria yang membawa tandu meletakkan Zico dengan cekatan Frea memeriksa Zico yang terbaring lemah itu.


Napas Zico tampak tenang, bola matanya memutih seolah ia sedang koma. Hal itu membuat Frea menangis tersedu.


"Apa yang terjadi padamu, Zico. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini."


"Ia tadi sempat tenggelam," kata tetua membuka percakapan.


"Tenggelam? Zico bisa berenang bagaimana bisa tenggelam?!" seru Frea, bulir matanya terjatuh deras membasahi kedua pipinya.


"Bawa dia ke dalam kamarnya!" perintah tetua itu, seolah sedang mengalihkan pembicaraan mereka.


"Kamu seorang dokter, bukan?" tanya tetua itu.


Frea hanya menganggukkan kepala pelan, dan air mata tetap tergenang dan mengalir di pipinya, karena ketakutan.


"Periksa keadaan suamimu! Aku yakin kamu bisa!" perintah tetua itu.


Tetua memerintahkan semua orang keluar dari kamar tersebut, lalu menutup pintu dari luar. Dan anehnya tetua itu mengunci pintu. Namun Frea tidak sadar jika dia terkunci di dalam kamar, karena saking takutnya kehilangan Zico.


Tiba-tiba Zico meracau jika ia kepanasan.


"Panas-panas ...." Zico berkata tapi dengan mata terpejam.


Frea pun mengikuti apa yang di katakan Zico dan membuka baju laki-laki itu dengan perlahan dan lembut, hingga terlihat d*da bindang laki-laki tampan itu.


Tanpa Frea sadari, Zico tersenyum licik, dan menarik tubuh Frea yang masih kaku karena menangis tersedu. Frea kaget ketika itu, ia hanya memandang wajah laki-laki yang menikahinya semalam.


Ia malah semakin menangis tersedu ketika melihat Zico baik-baik saja. Frea langsung menarik Zico dan mendaratkan ciuman ke bibir Zico, mendapatkan perlakukan tersebut laki-laki itu terkejut, namun sedetik kemudian mereka saling beradu Zico mencercap bibir Frea dan saling bertukar saliva, hingga tanpa Frea sadari mereka sudah dalam keadaan polos seperti bayi. Napas mereka saling berburu, sentuhan demi sentuhan lembut menyusuri seluruh tubuh Frea dari atas hingga ke bawah.


Susana semakin panas ketika Zico mampu membuka gawang pertahanan terakhir Frea, hingga ia berteriak sakit namun tetap nikmat. Ranjang pun berdecit tak berhenti ketika pertarungan sepasang suami istri itu tampak sengit.


Tak terhitung berapa kali mereka saling menyentuh bahkan mencium. Bulir keringat pun mengucur deras membasahi tubuh mereka, detang jantungnya pun tidak berhenti berdebar. Pada akhirnya mereka sampai ke tingkat surgawi secara bersamaan hingga membuatnya terkulai dan lemas.


Zico tersenyum puas seolah ia sudah berhasil memiliki Frea sepenuhnya. Sementara perempuan hanya meringkuk, ia tak tahu apakah harus merasa senang atau kecewa. Tidak bisa di pungkiri bahwa ia sangat mencintai Zico, bahkan ia berani menukar jiwanya hanya untuk Zico. Tapi dia dilematis dengan keadaan ayahnya yang tergolek lemah, bagaimana jika ketika ayahnya tahu jika ia telah menikah dengan Zico, maka ayahnya akan semakin parah.


Tidak bisa, ia berpikir Frea harus pisah dengan Zico, batinnya bergejolak benar-benar bingung tidak tahu harus berbuat apa.


Frea berbalik badan dan menangis menatap Zico. "Hei ... Kenapa kamu menangis? Apakah karena kamu menyesal melakukannya denganku?" Zico berkata sambil mengusap air mata Frea.


"Tidak aku tidak menyesal. Aku berpikir, semakin besar rasa cinta kita semakin aku harus melepaskanmu!" ucap Frea tersedu.


"Tidak bisa!Aku tidak ingin kamu meninggalkanku!"


"Bukankah kamu sudah mendapatkan tubuhku?" tanya Frea lirih.


"Aku tidak hanya ingin memiliki tubuhmu, aku juga ingin hatimu, jiwamu dan menua bersamamu, Frea!" ucap Zico dengan nada lembut dengan mengelus rambut panjang Frea.


"Tapi kita tidak ditakdirkan bersama."


"Siapa bilang kita tidak ditakdirkan bersama? Tuhan telah mempersatukan kita dengan caranya. Kamu tidak bisa menolak kehendaknya, Frea!"





Bersambung


Hiyak hiyak.....


Tarik sis.....


😆😆😆😆😆


Jangan lupa Like, Komen dan Vote, 'Yak!


Terimakasih dan Papay