
Boss Come Here Please! 136
Mata Frea seketika terbelalak mendengar pekataan Zico, wajahnya memerah karena malu dan mengingat ketika berada di peraduan waktu itu. Oh ... Ya waktu itu kali pertama Frea melakukannya dan sejak saat itu mereka belum lagi menghabiskan waktu bersama.
Selama di dalam mobil Zico terus mengelus jari jemari lentik istrinya sesekali ia juga mendaratkan ciuman di sana sementara tangannya yang lain memegang setir kemudi.
"Kamu harus konsentrasi! Jangan seperti ini!" tutur Frea mencoba melepaskan tangan Zico.
"Tangan ini sudah menjadi milikku, aku mendapatkannya dengan susah payah. Aku tidak akan pernah lagi melepaskannya hanya untuk kebodohan atau kekhilafanku semata. Aku bersyukur mendapatkan kamu sebagai istriku."
"Tapi kan—"
"Tidak ada tapi-tapian. Penantian panjangku ternyata membuahkan hasil dan aku percaya Tuhan tidak pernah pilih kasih terhadap umatnya. Dulu bagaikan mimpi jika aku bisa menggenggam tangan ini. Tapi kini mimpiku telah menjadi nyata."
***
Setelah mereka selesai mendaftarkan pernikahan mereka. Zico dan Frea memutuskan kembali ke rumah sakit untuk menunaikan kewajibannya sebagai dokter. Rutinitas yang melelahkan dan menguras pikiran, akan tetapi memiliki tujuan yang mulia yaitu menyembuhkan dan menolong sesama.
Zico memarkirkan mobilnya di basement rumah sakit, cepat-cepat Frea turun karena takut jika ada yang melihat mereka berdua dalam satu mobil yang sama, karena semua orang tahu jika Zico adalah tunangan Yufen.
Saat tubuh Frea ingin keluar dengan secepat kilat Zico menarik bahu Frea, sehingga ia kembali terduduk dan menatap mata suaminya itu.
"Ada apa? Aku takut jika ada yang melihat," ucapnya dengan guratan wajah menunjukan kegelisahan.
"Iya aku tahu. Sebentar! Aku belum menciummu," ungkap Zico dengan nada santai.
"Tadi sudah," sahut Frea dengan wajah menengok ke kanan dan ke kiri.
Zico menangkup pipi mulus istrinya dengan lembut, lalu mencium kedua pipi, kening serta bibir wanita itu, Frea mencoba berontak tapi tangkupan Zico begitu kuat sehingga membuatnya tidak bisa bergerak.
"Sudah ... Silakan pergi bos!" goda Zico, melepaskan Frea.
Frea hanya diam lalu keluar dari mobil dan berjalan menjauh, tiba-tiba ....
"Frea!" teriak Zico memanggil istrinya.
Sontak Frea menoleh dan memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri, dan menggunakan bahasa bibirnya untuk memberi isyarat kepada Zico.
"Apa?" suara lirih hampir tidak bisa di dengar.
"Jangan lupa janji kita nanti malam!" imbuh Zico.
Frea berbalik badan lalu menggerutu karena tingkah Zico. "Sudah gila ternyata, Zico."
Frea berjalan menjauh dari suaminya dan pergi menuju lift agar sampai di lantai atas dengan cepat.
Sesampainya di ujung lantai atas, saat pintu lift terbuka, Frea ingin melangkahkan kakinya tapi tiba-tiba terhenti karena melihat Yufen sudah ada di depan pintu.
Yufen bertepuk tangan dengan wajah senyum menghina menatap ke arah Frea.
"Bagaimana rasa bekas yang kupakai?" ejek Yufen.
"Maksud kamu?" sahut Frea tidak mengerti.
"Ya ... Tunanganku, siapa lagi. Ingat Frea! Mau bagaimanapun Zico tetap milikku!" ujarnya mendekatkan bibirnya ke telinga Frea.
Wajah Frea pucat pasi tubuhnya mematung seolah susah untuk di gerakkan.
"Aku akan menggunakan ayah untuk mengembalikan Zico seutuhnya kepadaku!" ancam Yufen dengan nada lirih namun seolah menciptakan suasana mencekam.
Frea menatap Yufen yang sejak tadi memandanginya. Lalu berkata dengan nada merendahkan, "Coba saja kalau kamu bisa! Kita saling mencintai, dan kamu hanyalah benalu dalam hubungan kami."
Yufen terkekeh mendengar perkataan Frea lalu sedetik kemudia berubah ekspesi serius, seolah ia memiliki kepribadian ganda. "Siapa yang benalu? Kamu atau aku? Sejak awal Zico adalah milikku, hubungan kami baik sebelum kamu datang."
"Persetan denganmu!" Frea mendorong tubuh Yufen agar ia menyingkir dari hadapannya lalu berjalan menjauhi wanita itu.
***
Tiba-tiba suara pintu terketuk dari luar membuat tubuh Frea terperanjat karena kaget. Dari luar seseorang berkata.
"Sayang ... Ini aku." Suara tak asing itu membuat Frea segera berlari menuju pintu dan membukanya.
Frea memeluk tubuh suaminya dengan erat, dengan gerakan tangan menutup pintu kemudian Zico membalas pelukan istrinya.
"Hei ... Kenapa?" tanya Zico tersirat nada kelembutan dan kasih sayang di sana.
Frea melepaskan pelukan Zico lalu berkata dengan suara lirih, "Aku bertemu dengan Yufen tadi."
"Lalu?"
"Iya mengancamku akan merebutmu kembali," ucap Frea dengan beruarai air mata.
"Hei ... Mana Frea yang tangguh? Di mana Frea yang tak terkalahkan dulu?" Zico mengusap air mata istrinya itu dengan lembut.
Laki-laki itu menggapai jari istrinya lalu memasukkan sesuatu di jari manis Frea. Hal itu membuat Frea menghentikan tangisannya. Memandang sebuah cicin emas dengan mata mungil nan indah melingkar di jari manisnya.
"Ap-apa ini?"
"Itu cincin ...." jawab Zico polos.
"Iya aku tahu, tapi cincin apa?" tanya Frea lagi
"Cincin pengikat dan sebagai tanda kamu adalah milikku."
Frea melemparkan pandangan ke arah jari manis Zico. Namun tak menemukan cincin yang sama melingkar di sana.
"Mana cincinmu?"
Zico menghela napas panjang dan berkata, "Aku akan memakainya pada saat waktu yang telat."
Frea mengangguk pelan dan memegang jari manisnya sendiri menikmati keindahan cincin itu.
"Kenapa kamu santai sekali, dokter Zico? Apakah tidak ada pasien?" tanya Frea seolah sedang berperan menjadi boss yang berwibawa.
"Maaf boss, sebenarnya ada. Tapi aku ingin menggoda atasanku terlebih dahulu baru aku kembali ke tugas utamaku," goda Zico.
Ia meraih pundak Frea lalu menciumnya berkali-kali, membuat Frea menutup mata karena mendapat serangan yang bertubi-tubi.
"Cukup! Kembali kepada tugasmu!" tegur Frea.
"Siap Bos!" jawab Zico dengan nada tegas. "Tapi jangan lupa nanti malam, boss!" imbuhnya lagi.
"Nanti malam apa?" tanya Frea penasaran.
"Menunaikan tugasmu sebagai istri," ucap Zico lalu berlari keluar meninggalkan Frea.
Frea hanya tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan Zico dan memegang bibirnya yang seolah masih meninggalkan bekas kecupan suaminya tadi.
•
•
•
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan komentar, ya.
Like dan Vote juga jangan sampai ketinggalan....
Terimakasih dan Papay