
Satu titik dua koma
Kalau tidak suka
Jangan nurunin
Rate bintang saya.
Selamat membaca dan tenggelam dalam kehaluan yang HQQ bersama, saya Novi Wu.
Ingat baca setelah buka.
Awok ... wok ... wok ... wok ....
Pov Author.
"Sudah?" tanya Arga menatap mata Istrinya.
Asta tampak bingung dengan pertanyaan sang suami.
"Sudah? Untuk apa?"
"Sudah bicaranya, ayo segera tidur siang, kembali," ucap Arga kepada istrinya kemudian menarik tangan istrinya dengan lembut.
"Arga," kata Asta masih mengimbangi langkah kaki suaminya itu.
"hmmm ... apa?" jawab Arga menoleh kepada istrinya namun tetap melanjutkan langkahnya.
"Aku belum mandi dari pagi."
Spontan Arga berhenti dan menatap wajah wanita di sampingnya itu dalam-dalam.
"Jadi kamu belum mandi. Pantas saja ketika aku memelukmu tadi, seperti ada cairan cuka yang tumpah dan baunya langsung menusuk hidungku." Arga mencubit hidung istrinya.
"Awh ... sakit!"
Arga terus menggandeng tangan istrinya melewati pintu utama, hingga melewati para bodyguardnya.
"Malu ... tidak perlu pakai bergandegan tangan!" Asta melepaskan tangannya dari sang suami.
Tanpa aba-aba Arga membopong tubuh sang istri layaknya seorang tukang kayu membopong kayu bawaannya.
"Arga! Kamu tidak waras ya! Di sini masih banyak orang...." teriak Asta kepada suaminya.
Arga tetap bergeming, tanpa menghiraukan perkataan sang istri dan terus berjalan menuju kamar.
❇❇❇❇
Selang beberapa lama, Arga membuka pintu kamarnya. Menurukan sang istri tepat di hadapannya.
"Kamu mandi dulu! Biar wangi. Nanti kita lanjut tidur siang kita." perintah Arga dengan tangan mengelus kepala sang istri.
"mhhh ... aku malas mandi, langsung tidur saja, boleh?"
Arga menghela nafas panjang. "Mau mandi sendiri, atau aku yang mandikan?"
"Haa ... oke, aku mandi sekarang." Asta langsung berlari menuju pintu kamar mandi, dan menguncinya karena takut jika Arga tiba-tiba masuk seperti apa yang biasa ia lakukan.
Pov 1 (Asta)
Kutanggalkan semua pakaianku, kunyalakan
shower untuk membasahi seluruh tubuhku.
Aku memandangi pantulan tubuhku di depan cermin, melihat dengan seksama. Wanita seperti inikah yang kamu cintai Arga? Aku bahkan jauh dari kata sempurna seperti wanita yang mungkin pernah singgah di hidupmu, kastaku sangat rendah. Tapi mengapa kamu sangat mencintaiku, seperti yang kamu lakukan sekarang ini. Sungguh aku tak bisa bernapas bebas, tapi bodohnya aku, aku menyukai itu, aku mendambakan di mana kamu selalu menyentuhku dengan lembut. Aku sangat menikmati itu.
Ketika aku hanyut dalam lamunanku di depan cermin, tiba-tiba suara ketukan dari balik pintu kamar mandi mampu membuyarkan lamunanku.
"Asta ... asta, mandimu lama sekali, aku sudah merindukanmu," ucap Arga dari balik pintu kamar mandi.
"His ... sebentar, Arga. Aku sedang mandi, kamu mau tidak? Jika tubuhku wangi."
"Wangi? Oke aku akan sabar menunggu, tapi cepat sedikit!" perintahnya tak sabaran.
Suara Arga menghilang, mungkin ia menuruti apa yang aku katakan. Dan aku kembali terhanyut dalam buaian busa lembut nan wangi sabun beraroma stowberry kesukaanku.
Tak lama aku keluar, mengenakan kimono handuk berwarna hitam dengan tali terikat rapi melingkar di pinggangku yang kecil. Dan rambut terbungkus handuk berwarna abu-abu, untuk menutupi rambutku yang basah akibat ritual mandi yang baru saja aku lakukan.
Melihatku dalam keadaan rambut basah, Arga beranjak dari tempat tidur, kemudian menghampiriku dan merengkuh pinggangku. Kemudian membisikan kalimat aneh untukku.
"Kenapa, rambutmu sudah basah? Bahkan kita belum memulainya" bisik Arga tepat ke arah telingaku.
Dan aku otomatis menghindari Arga menjauhkan telingaku dari bibirnya. "Memulai apa?"
Arga terseyum menyeringai, seolah pria ini akan melakukan hal jahat padaku. "Apa yang akan kamu lakukan, Arga?" tanyaku lagi dengan tangan memegang kepala yang tertutup handuk, karena takut jika handuk itu akan jatuh.
"Kemari aku keringkan rambutmu terlebih dahulu."
Arga menarik tanganku ke arah meja rias berwarna putih mewah yang sengaja ia buat untukku. "Kemari dan duduk!" perintahnya, dan aku menurutinya.
Aku melihat pantulan visual Arga dari kaca meja rias, ia tampak teduh, tulus melayaniku.
"Kenapa, Asta?" tanya Arga dengan tangan masih sibuk memegang hairdryer dan sisir bulat yang sengaja iya siapkan untuk mengeringkan rambutku.
"Apakah kamu dulu memperlakukan Wina seperti ini?" Aku menatapnya dengan tatapan penuh teror agar ia menjawab pertanyaanku dengan jujur.
Arga tampak menghela nafas panjang, seperti sedang mengatur diksi tepat untuk menjawab pertanyaanku. "Dulu Wina adalah wanita super sibuk, karena pekerjaanya sebagai supermodel, bahkan untuk makan bersama saja, itu sangat sulit, Asta. Apalagi untuk hal kecil dan remeh seperti ini. Dia tidak akan mau melakukannya."
Aku menoleh ke arah Arga menatap wajahnya. "Jadi dulu kamu jarang sekai bertemu dengan Wina?"
Arga mengangguk pelan. "Tapi ketika dia ketahuan selingkuh, dia balik menuduhku. gila kerja bahkan ia juga berkata aku tidak pernah memperhatikan dia."
Aku merasa kasian melihat Arga, dengan raut wajah sendu dan muram, aku memeluknya dengan tiba-tiba dan mengecup bibirnya. "Kamu sudah punya aku, sekarang."
Arga tampak terkejut melihatku menciumnya tiba-tiba. Ia tersenyum dan mengusap rambut. " wanitaku sudah berani menciumku, rupanya. Mau ditambah?" goda Arga mulai mendekatkan bibirnya ke arahku. Sehingga spontan aku menghindar darinya.
"Kamu belum selesai mengeringkan rambutku, Arga?!"
"Ini sudah kering, tinggal aku bantu mengikat rambutmu." Arga mengambil karet gelang yang tertata rapi di rak berwarna merah muda yang ada di pojok meja rias.
Ia menguncir rambutku dengan lembut, menyisirnya perlahan dan mengikatnya dengan rapi. "Nah ... kelinci kecilku sudah siap untuk dimakan," godanya.
"Haa ... makan?" aku tersentak kaget. Tiba-tiba Arga membopong tubuhku begitu saja dan meletakkanku di atas tempat tidur.
"Mau apalagi, kita?!" Aku berseru menghalau Arga.
"Mau buat anak di siang hari," godanya sambil memelukku dengan begitu brutal dan serampangan.
Abersambung
RITUAL DI SIANG HARI TERNYATA ITU 🤔
❇❇❇❇❇❇
Sepenggal puisi penangguh rindu.
Selamat siang para penangguh rindu...
Pemilik maha rindu yang begitu kejam, menghujam jantung para penderitanya tanpa ampun.
Yang hanya mampu menguntai tetesan demi tetesan rindu di balik diksi-diksi menyayat hati dan voice note yang tak bertanggung jawab, yang hanya menambah kepayahan sang penderita rindu itu sendiri.
Bahkan untuk bertemupun tak sanggup karena seolah terpisah oleh ruang yang selalu menjadi sekat maha kejam diantara mereka.
Apakah harus begitu berat derita para penangguh rindu?
Novi Wu
Semarang, 21 Mei 2020
❇❇❇❇❇
Hello temen-temen, jangan lupa like, komen, rate bintang 5 untuk Boss Come here Please! yah. Itu sangat penting buat Novi. Karena itu semangat untuk para author-author dalam menulis.
Novi Wu